Di Buku Ketahanan Pangan, Eks Kabulog Sutarto Alimoeso Paparkan Sistem Korporasi Petani

Inspirasia | DiLihat : 398 | Kamis, 13 Agustus 2020 | 11:34
Di Buku Ketahanan Pangan, Eks Kabulog Sutarto Alimoeso Paparkan Sistem Korporasi Petani

JAKARTA - Petani adalah pelaku utama sekaligus ujung tombak dalam penyediaan pangan. Namun di lain sisi berbagai permasalahan dihadapi oleh para pejuang ketahanan pangan ini..

Untuk penyelesaiannya, kata kuncinya terletak kepada kebersamaan, penyediaan modal usaha tani, jaminan kepastian pasar dan pendampingan secara berkelanjutan.

“Sistem korporasi petani pangan dalam klaster menjadi satu pilihan yang dapat dilaksanakan untuk menyinergikan berbagai pendukung kegiatan agribisnis yang dilakukan petani,” cetus Direktur Utama Perum Bulog 2009-2014 Sutarto Alimoeso, dalam tulisannya berjudul Penggilingan Padi Sebagai Penggerak Korporasi Petani Guna Terwujudnya Kedaulatan Pangan.

Tulisan bernas dan renyah tersebut dituangkan Sutarto dalam buku berjudul “Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran & Solusi”. Buku yang diinisasi Lembaga Pandu Tani Indonesia (Patani), ini sebagai kado Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan RI dan HUT ke-12 Patani.

Masih dalam tulisannya, menurut Sutarto, pola sinergi yang diharapkan dalam sistem korporasi petani, adalah  petani yang tergabung dalam koperasi memiliki saham di penggilingan padi yang sudah ada, dan dilaksanakan oleh korporasi yang memiliki manajemen profesional. Pemasaran hasil juga dilakukan oleh manajemen korporasi.

Bentuk sinergi lainnya koperasi petani memproduksi berasnya melalui maklon kepada penggilingan padi yang sudah ada dan memasarkan hasilnya sendiri atau melalui penggilingan padi. “Pelaku bisnis padi/penggilingan padi di pedesaan yang umumnya adalah UMKM memiliki kemampuan berbisnis. Sedangkan petani memiliki kemampuan dan keunggulan di bidang usaha tani,” ujar Sutarto.

Sutarto yang pernah menjabat Direktur Jenderal Tanaman Pangan 2006-2010, mengatakan pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan usaha bisnis pangan. Pengaruh nyata adalah terjadinya perubahan lebih cepat pola logistik dan perdagangan pangan. Untuk itu, peranan pemerintah sangat diperlukan dalam pelaksanaan di lapangan agar penyediaan pangan secara mandiri dapat tercapai.

Sutarto menyebutkan, sebagai “lesson learn” pengalaman pelaksanaan korporasi petani melalui kerja sama penggilingan padi sebagai avalis dengan petani yang dilakukan Perum Bulog Sumatera Selatan, ternyata dapat menyinergikan berbagai pelaku usaha pertanian.

Bank menyediakan kredit bersubsidi sebagai modal usaha kepada petani dan penggilingan, adanya jasa asuransi, serta pihak penyedia sarana produksi yang terlibat. Pada saat itu, Perum Bulog sebagai avalis hasil produksi padi petani dan sekaligus menjadi pelaksana korporasi.

Dengan dilaksanakannya klasterisasi petani padi yang bekerja sama dengan berbagai pelaku bisnis di pedesaan serta dikelola secara korporasi, ini tentu akan meningkatkan pendapatan petani. Petani sejahtera dan ketahanan pangan bisa terwujud,” tandas Ketua Umum Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia ini.

Sekadar diketahui, selain Sutarto Alimoeso, buku berupa bunga rampai yang disunting Jaelani Ali Muhammad (Kepala Editor Bahasa KORAN SINDO) ini juga memuat delapan tulisan tokoh lainnya. Mereka adalah Prof Rokhmin Danuri (Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong), Prof Dr H Bomer Pasaribu (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada paruh pertama era pemerintahan Abdurrahman Wahid), dan Dr Anton Apriyantono (Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu).

Lalu, tulisan dari seorang tokoh milenial yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tulisan doktor bidang keahlian ilmu perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Harry Santoso, dan tulisan Direktur Indofood Franciscus Welirang.

Ada pula tulisan Prof Dr Hermanto Siregar yang tercatat sebagai anggota dewan di sejumlah organisasi profesional, serta tulisan Glenn Pardede yang kini menjabat Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) dan Managing Director di East West Seed. Keseluruhan tulisan dari sembilan orang keren ini, bisa dibaca tuntas di dalam buku yang akan diluncurkan akhir Agustus ini.