Produksi Minyak Sawit RI Melorot 9% Capai 23,5 Juta Ton

Ekonomi | DiLihat : 77 | Rabu, 12 Agustus 2020 | 20:56
Produksi Minyak Sawit RI Melorot 9% Capai 23,5 Juta Ton

Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)


JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) atau Indonesian Palm Oil Association (IPOA) mengungkapkan produksi industri sawit mengalami kontraksi.

Semester I-2020, produksi minyak sawit Indonesia (crude palm oil/CPO) dan turunannya tercatat sebesar 23,5 juta ton, turun 9% dari produksi semester I-2019 yang tercatat mencapai 25,88 juta ton.

Sebagai perbandingan, produksi CPO pada 2019 mencapai 51,8 juta ton, meningkat 9% dibanding 2018 yang hanya mencapai 47,3 juta ton meskipun tahun lalu sempat terkendala musim kemarau yang berkepanjangan dan kebakaran hutan.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan dari sisi produksi minyak sawit, pada Januari-Juni 2020 memang masih terkontraksi dibandingkan dengan Januari-Juni 2019 sebesar 9% dan produk gabungan sawit dan lainnya minus 10%.

"Namun dilihat dari tren Januari ke Juni tren grafiknya naik terus, kendati kalau dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu masih kontraksi," katanya, dalam konferensi pers yang disiarkan lewat akun YouTube Gapki, Rabu (12/8/2020).

Wakil Presiden PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) ini mengatakan faktor utama penurunan produksi ini bukan disebabkan pandemi Covid-19. Penurunan lebih disebabkan rentetan anjloknya harga sawit di 2018 yang menyebabkan perawatan tanaman tak optimal dan cuaca kering berkepanjangan di 2019.

Namun, pihaknya optimistis produksi minyak sawit di kuartal berikutnya akan naik meskipun dia belum bisa memprediksi angkanya.

Joko mengungkapkan di tengah pandemi Covid-19 dan kontraksi perekonomian dalam negeri, kinerja industri sawit masih cukup positif.

Sepanjang semester I-2020 ini, ekspor sawit tercatat sebesar 15,50 juta ton dari periode yang sama tahun lalu 17,56 juta, sementara konsumsi dalam negeri tercatat sebesar 8,66 juta ton.

"Kontraksi 11% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu mengingat secara bulanan tidak pernah lebih tinggi dari pencapaian bulanan di tahun lalu," kata Joko.

Tahun lalu, ekspor CPO dan turunannya mencapai 36,17 juta ton, naik 4,2% dari capaian pada periode sama tahun sebelumnya 34,70 juta ton.

Surplus
Di sisi lain, Joko juga mengatakan masih ada sisi positif dari kinerja industri sawi terlihat dari peran minyak sawit dalam neraca perdagangan pada 2015 hingga 2020.

Data Gapki mencatat, nilai ekspor sawit pada tahun ini hingga Juni 2020 atau semester I-2020 mencapai US$ 10,060 miliar. Sementara itu, sepanjang tahun 2019 nilai ekspor sawit RI mencapai US$ 20,22 miliar, meskipun turun dari 2018 yakni US$ 23,33 miliar dan turun juga dari posisi 2017 US$ 24,94 miliar.

"Industri sawit masih bagus ya, mestinya akhir tahun ini ga jauh-jauh dari angka 2019 [US$ 20,22 miliar]. Ini luar biasa, di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terkontraksi pada kuartal 2-2020, sawit masih mencatatkan kenaikan. Di lihat dari neraca, Indonesia masih surplus di Juni nonmigas US$ 9 miliar, tapi itu disumbang ekspor sawitnya US$ 10 miliar, jadi kalau enggak ada sawit itu bisa minus [nonmigas]," katanya.

"Kita bersyukur bahwa sawit masih memberikan sumbangan yang positif bagi perekonomian kita," katanya.


cnbc