Kata LIPI Soal Pembangunan ‘Tol Langit’ di Pedesaan

Infrastruktur | DiLihat : 97 | Rabu, 12 Agustus 2020 | 17:44
Kata LIPI Soal Pembangunan ‘Tol Langit’ di Pedesaan

JAKARTA - Wilayah Indonesia yang luas dan bentang geografis yang terdiri dari kepulauan membuat pemerataan akses internet menjadi tidak mudah untuk dilakukan. Keberadaan internet pun belum sepenuhnya bisa dirasakan oleh masyarakat pedesaan terpencil.

Situasi ini menjadi tantangan pembangunan jaringan tol langit, istilah Presiden Joko Widodo untuk menggambarkan sambungan bebas hambatan bagi sinyal internet di langit Indonesia. Tol langit sesungguhnya adalah proyek pembangunan Palapa Ring, yaitu pembangunan infrastruktur telekomunikasi berupa pembangunan serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36 ribu kilometer.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko, menuturkan bahwa tol langit tidak bisa serta merta menjadi solusi masyarakat pedesaan. “Secara positif, tol langit memiliki fungsi yang baik untuk mobilitas virtual. Namun jika tidak diimbangi dengan adaptasi yang baik, ada konsekuensi seperti konsumerisme dimana masyarakat desa melakukan konsumsi di luar desanya,” ujar Handoko pada Webinar Tol Langit Desa pada Peringatan  Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-25, Senin (10/8).

Handoko menekankan perlunya riset terlebih dahulu untuk mencari permasalah yang dimiliki daerah tersebut sebelum memberikan produk yang disebut sebagai solusi. “Setiap daerah memiliki masalah yang berbeda dan untuk mencegah masalah lain yang muncul setelah solusi baru dihadirkan.  Tidak bisa semata-mata membawa solusi dari luar desa,” sebut Handoko.

Dirinya menerangkan,  solusi atau teknologi yang diperkenalkan secara mendadak akan menimbulkan perubahan budaya dan paradigma. “Jika masalahnya sudah ditemukan dan masyarakat dapat beradaptasi, barulah solusi ini masuk. Seperti misalnya akses internet dari program tol langit. Jika diberikan dengan riset dan pendampingan maka penggunaannya akan lebih maksimal,” tutup Handoko. (sr/ed: fz)


lipi