Insinyur Sipil ini Tegaskan Holtikultura Solusi di Tengah Pandemi, Kok Bisa?

Inspirasia | DiLihat : 553 | Selasa, 11 Agustus 2020 | 06:06
Insinyur Sipil ini Tegaskan Holtikultura Solusi di Tengah Pandemi, Kok Bisa?


foto: fortonews.com


SEPINTAS seperti tak masuk akal. Seorang insinyur teknik sipil bicara soal pertanian, apalagi soal ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19. Tapi itulah saran dan solusi yang ditawarkan Glenn Pardede, lewat tulisannya di buku “Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan”, yang tak lama lagi terbit.

Lulusan terbaik teknik sipil Universitas Indonesia (UI) ini menyatakan, pangan, dalam konteks negara kita selalu dikaitkan dengan ketersediaan beras, selanjutnya, dengan berapa banyak impor yang telah dan akan dilakukan untuk mencukupi kebutuhan beras dalam negeri.

“Data BPS memang menunjukkan ketersediaan beras dalam negeri masih cukup dan ada bantuan beras untuk masyarakat yang kurang mampu dalam masa pandemi ini. Namun, beras tersebut sebagian masih berasal dari impor. Pertanyaan selanjutnya, apabila semua negara penghasil beras menyimpan untuk kebutuhan negara mereka, bagaimana nasib negara pengimpor beras seperti Indonesia?,” ujar Glenn.

Saat masa pandemi seperti ini, ungkap Glenn, nilai tukar petani hortikultura masih menduduki posisi tertinggi dibandingkan dengan petani di subsektor pertanian lainnya. Pandemi, kata Glenn, juga momen untuk semakin menumbuhkan konsumsi hortikultura dan diversifikasi pangan ke semua kalangan baik senior (petani), milenial, maupun generasi Z, karena semua mau sehat.

“Tentunya yang saya maksudkan, penduduk Indonesia tidak akan kelaparan – apabila mengurangi asupan beras dan menggantinya dengan karbohidrat bentuk lain, termasuk dari sayuran seperti labu, jagung manis, kentang, dan sebagainya,” ujar pria kelahiran Palembang, 30 September 1970 ini.

Glenn Pardede bisa jadi merupakan salah satu orang Indonesia yang giat terjun dan berkecimpung di bidang hortikultura. Kini, ia menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) sekaligus Managing Director di East West Seed Indonesia yang bergerak di bidang pembibitan.

Glenn bersama perusahaannya East West Seed Indonesia atau Ewindo, menggaet petani muda dalam wadah komunitas bernama Petani Muda Panah Merah. Ia merasa, petani muda akan lebih familiar dengan teknologi dan tahu pentingnya bercocok tanam menggunakan benih unggul berkualitas.

Khusus mengenai pandangan Glenn Pardede dalam tulisannya berjudul Holtikultura, Solusi di Tengah Pandemi dapat dibaca keseluruhan di buku berjudul Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran dan Solusi, yang akan diluncurkan akhir Agustus ini. Selain Glenn, buku yang disunting Jaelani Ali Muhammad (Kepala Editor Bahasa KORAN SINDO) dan diinisiasi lembaga Pandu Tani Indonesia (Patani) ini, juga memuat tulisan delapan tokoh lainnya.

Mereka adalah Prof Rokhmin Danuri (Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong), Prof Dr H Bomer Pasaribu (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada paruh pertama era pemerintahan Abdurrahman Wahid), dan Dr Anton Apriyantono (Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu).

Lalu, ada tulisan eksekutif Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Bulog Sutarto Alimoeso, Direktur Indofood Franciscus Welirang, serta tulisan doktor bidang keahlian ilmu perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan Harry Santoso.

Ada pula tulisan Prof Dr Hermanto Siregar yang tercatat sebagai anggota dewan di sejumlah organisasi profesional, termasuk Dewan Ekonomi Nasional, Asosiasi Ekonom Indonesia, Asosiasi Ekonom Pertanian Indonesia, dan Forum Kebijakan Pertanian Asia Pasifik. Yang menarik, buku ini juga memuat tulisan dari tokoh milenial yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Dunia menghadapi resesi yang dalam. Pertumbuhan ekonomi global dekat ke minus dua digit. Tetapi bila melihat negara-negara lain, kita masih beruntung karena Tanah Air kita subur. Meski demikian, produktivitas kita masih terbilang rendah. Buku ini memotivasi, memberi jalan, dan mendorong pertanian kita semakin produktif agar kita memiliki ketahanan pangan—jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkan kedaulatan pangan,” kata Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie, dalam testimoni singkatnya di buku ini.