Produktivitas Tinggi, Budidaya Sistem Bioflok Jadi Primadona Masyarakat

Inovasi Desa | DiLihat : 63 | Senin, 10 Agustus 2020 | 14:50
Produktivitas Tinggi, Budidaya Sistem Bioflok Jadi Primadona Masyarakat

JAKARTA -- Teknologi budidaya ikan sistem bioflok saat ini menjadi primadona masyarakat. Mengingat, budidaya sistem bioflok tak perlu lahan luas dan hemat air. Sedangkan ikan yang dibudidaya,  padat tebarnya tinggi.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, penerapan teknologi bioflok semakin maju di masyarakat dengan adanya inovasi dan kreativitas dari pembudidaya untuk mengembangkan teknologi ini lebih jauh.

“ Budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi yang mampu memicu peningkatan produktivitas perikanan budidaya yang secara otomatis juga menghadirkan peluang untuk keterlibatan masyarakat yang lebih banyak," kata Slamet, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Senin (10/8).

Menurut Slamet, budidaya sistem bioflok yang diterapkan di masyarakat pada tahun 2015, hingga saat ini sudah banyak yang menghasilkan. Pembudidaya yang mengaplikasi sistem  bioflok dengan tepat, bisa  menjadi solusi  untuk meningkatkan produktivitas serta perekonomian masyarakat.

Aplikasi sistem bioflok bukan hanya menguntungkan bagi pembudidaya. Perekonomian masyarakat sekitar, seperti penjual peralatan pendukung seperti terpal, jaring, ember dan sebagainya juga ikut terangkat.

" Kami juga mendukung kreativitas yang dikembangkan dalam kegiatan bioflok. Seperti yang sekarang ini  maraknya budidaya sayuran dengan lele, serta sekarang ini marak juga berbagai model probiotik," paparnya.

Slamet juga mengatakan,  pemerintah terus melakukan pengawasan serta pendataan terhadap produk probiotik yang digunakan sebagai bahan bioflok. Dengan begitu,  ada jaminan probiotik tersebut merupakan produk yang sudah distandarisasi.

Dalam kesempatan tersebut,  Slamet juga mengajak pelaku usaha budidaya untuk terus mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan berbudidaya. Keberlanjutan tersebut? baik dari segi lingkungan, sosial maupun  ekonomi atau usahanya.

Perhatikan Persyaratan Teknis

Sementara itu Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Supriyadi menghimbau kepada peserta webinar untuk memperhatikan dengan cermat mengenai persyaratan teknis dalam berbudidaya ikan sistem bioflok. Beberapa contoh kasus kegagalan yang ditemui di lapangan bermuara kepada kualitas dan sumber air, penggunaan benih yang kurang baik, dan ketidakstabilan suhu media pemeliharaan.

Supriyadi juga mengatakan,untuk memperbesar tingkat keberhasilan budidaya ikan sistem bioflok diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dan tekun dalam menjalaninya.  Pembudidaya juga harus memperhatikan kondisi lapangan di daerah masing-masing dan pandai untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada.

" Kami  berharap dengan diadakannya webinar ini dapat menjadi media pembelajaran,  khususnya bagi calon penerima bantuan tahun ini serta ajang berbagi pengalaman dari praktisi dan penerima bantuan tahun – tahun sebelumnya," katanya.

Dia juga berharap,  ilmu dan pengalaman yang disajikan dapat dikupas tuntas dan diadopsi dengan baik oleh seluruh peserta webinar. Ilmu yang diserap juga bisa ditularkan ke masyarakat.

Data Ditjen Perikanan Budidaya menyebutkan,  pada tahun 2019 KKP telah menggelontorkan 260 paket bantuan budidaya ikan lele/nila sistem bioflok yang tersebar di 32 provinsi dan 121 kabupaten/kota. Nilai bantuannya mencapai Rp 44 miliar.Pada tahun 2020 KKP berencana mendistibusikan bantuan sebanyak 371 paket dengan nilai bantuan mencapai Rp 73,4 miliar.


tabloidsinartani