Di buku ini, Prof Rokhmin Paparkan Peta Jalan Menuju Kedaulatan Pangan

Inspirasia | DiLihat : 87 | Senin, 10 Agustus 2020 | 12:49
Di buku ini, Prof Rokhmin Paparkan Peta Jalan Menuju Kedaulatan Pangan

PANGAN merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki, karena sangat menentukan kesehatan dan kecerdasan. ”You are what you eat” kata Prof Rokhmin Danuri, dalam pembuka tulisannya di buku berjudul Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran dan Solusi.

Prof Rokhmin yang pernah menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong ini berpandangan, dalam jangka panjang, kekurangan pangan di suatu negara akan mewariskan generasi yang lemah, kurang cerdas, dan tidak produktif - a lost generation. Dengan kualitas SDM semacam ini, tidaklah mungkin sebuah bangsa bisa maju dan sejahtera.

Peran krusial pangan bagi sebuah bangsa, ujar sang profesor, semakin nyata di tengah pendemi Covid-19 ini.  Di mana, negara-negara produsen pangan dunia (seperti AS, Kanada, dan Thailand) mengurangi ekspor pangannya, karena kendala logistik maupun demi mengamankan pemenuhan kebutuhan pangan nasionalnya.

“Indonesia akan terhindar dari ancaman krisis pangan akibat pandemi covid-19 dengan mengutamakan kesejahteraan petani, nelayan, dan produsen pangan lainnya.  Kemudian, menjaga supaya seluruh unit usaha produksi pangan dan industri pengolahan pangan yang ada di seluruh Nusantara tetap berproduksi,” kata Ketua Umum Gerakan Nelayan dan Tani Indonesia ini.

Dalam jangka menengah – panjang, Indonesia harus terus meningkatkan kapasitas dan etos kerja petani dan nelayan melalui program pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan secara berkesinambungan. Kapasitas R & D pun mesti terus ditingkatkan agar mampu menghasilkan beragam inovasi IPTEKS untuk menopang sektor ekonomi pangan yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan sustainable.

“Akhirnya, dengan kebijakan politik-ekonomi (seperti moneter, fiskal, ketenagakerjaan, otonomi daerah, dan iklim investasi) yang kondusif, insya Allah Indonesia tidak hanya akan berdaulat pangan dalam waktu dekat, tetapi juga bakal mampu ‘feeding the world’,” papar Vice Chairman of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany.

Sekadar diketahui, buku berjudul Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran dan Solusi yang diinisiasi lembaga Pandu Tani Indonesia (Patani) ini, rencana diluncurkan dalam rangka peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan RI dan HUT ke-12 Patani, Agustus 2020 ini. Tulisan Prof Rokhmin Danuri soal ketahanan pangan dapat dibaca keseluruhan di buku ini.

Selain Rokhmin, ada delapan tokoh lainnya yang juga menyumbang tulisan di buku yang disunting Jaelani Ali Muhammad (Kepala Editor Bahasa KORAN SINDO). Mereka adalah Prof Dr H Bomer Pasaribu (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada paruh pertama era pemerintahan Abdurrahman Wahid), Dr Anton Apriyantono (Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu), eksekutif Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Bulog Sutarto Alimoeso, Direktur Indofood Franciscus Welirang, Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) Glenn Pardede, dan tulisan doktor bidang keahlian ilmu perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan Harry Santoso.

Lalu, ada pula tulisan Prof Dr Hermanto Siregar yang tercatat sebagai anggota dewan di sejumlah organisasi profesional, termasuk Dewan Ekonomi Nasional, Asosiasi Ekonom Indonesia, Asosiasi Ekonom Pertanian Indonesia, dan Forum Kebijakan Pertanian Asia Pasifik. Yang menarik, buku ini juga memuat tulisan dari tokoh milenial yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Pemimpin Redaksi KORAN SINDO dan SINDOnews.com Djaka Susila mengapresiasi hadirnya buku Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran dan Solusi. Menurut Djaka, ketahanan pangan bukan hanya isu nasional, namun menjadi isu global. Bukan saat ini saja namun sejak seiring bertambahnya penghuni bumi.

“Seiring pula dengan individu di bumi yang nomaden menjadi berkoloni hingga menjadi bangsa-bangsa. Ini dapat dilihat dari bagaimana manusia terus melahirkan teknologi yang berkaitan dengan pangan, dan agar ketahanan pangan bisa terjaga,” kata Djaka.

Indonesia, lanjut Djaka, bukan hanya dianugerahi kekayaan alam luar biasa, bahkan mungkin tersubur di bumi ini. Leluhur bangsa Indonesia pun, kata dia, cukup piawai dalam mengelola pangan, baik dengan teknologi maupun berkolaborasi langsung dengan alam.

“Sumber alam dan manusia yang dimiliki bangsa ini semestinya bisa menjadikan Indonesia bangsa besar, terkhusus dalam hal ketahanan pangan. Buku ini kembali sebagai bukti betapa Indonesia mempunyai kedua hal tersebut. Buku ini memberikan sumbangsih bagi bangsa ini untuk mengelola pangan di Indonesia dengan baik,” tutur Djaka.