Berkat Sereh Wangi, Penghasilan Petani Makin Wangi

Potensi Desa | DiLihat : 78 | Sabtu, 08 Agustus 2020 | 13:55
Berkat Sereh Wangi, Penghasilan Petani Makin Wangi

JAKARTA---Komoditas sereh wangi, sebagai salah satu penghasil minyak atsiri di masa pandemi corono (covid) 19 makin diperhitungkan. Sebagai salah satu bahan pembuat aromaterapi, parfum dan farmasi, minyak sereh wangi juga diminati pasar ekspor. Minyak sereh wangi tersebut dijual ke eksportir dengan harga Rp 160 ribu per kg.

Ketua Perhimpuam Petani dan Penyuling Minyak Atsiri (P3MA) Sumatera Barat (Sumbar), Djanuardi mengatakan, lahan seluas 16 ha  yang ditanami sereh wangi beberapa tahun lalu,  pada  pertengahan Juli 2020,  seluas 10,6 ha diantaranya sudah panen. Sereh wangi yang dipanen beberapa waktu lalu volumenya sebanyak 64 ton (daun).

" Dari luas lahan yang kami tanami, ada sekitar 2 ha yang diremajakan. Kemudian, dari total lahan yang kami tanami, seluas 3 ha panen perdana awal Agustus ini," kata Djanuardi, di Jakarta, Jumat (7/8).

Djanuardi mengaku, panen sereh wangi kali ini agak terlambat karena minim tenaga kerja. Selain itu,  rendeman minyak sereh wangi yang dihasilkan juga turun, lantaran masih banyak hujan.

" Biasanya, daun sereh wangi yang kami suling minimal dapat 8 kg/1 ton bahan baku. Dari hasil sulingan yang kami dapat saat ini sebanyak 232 kg," kata Djanuardi.

Djanuardi yang juga petani sereh wangi di Solok, Sumatera Barat (Sumbar) tersbut mengatakan,usaha budidaya sereh wangi bila dikelola dengan baik sangat menjanjikan. Hasil sulingan berupa minyak sereh wangi sebanyak 70 persen dijual secara gelondongan ke eksportir dengan harga Rp 160 ribu per kg.

Selain dijual ke eksportir, lanjut Djanuardi, sisanya yang sebanyak 30 persen bisa dijadikan produk olahan sendiri. Diantaranya, berupa sabun sereh wangi padat dan cair, minyak urut dan aromatherapi dalam kemasan. Bisa juga diolah lagi menjadi disinfektan dan handsanitizer, serta insektisida nabati.

" Kita juga bikin detergen untuk cuci piring dan alat dapur serta cairan untuk pel lantai dari  hidrosol /limbah cair dan minyak sereh wangi yang kurang bagus atau rusak," ujarnya.

Bahan Baku Parfum

Minyak sereh wangi tak hanya diminati pasar dalam negeri, tapi sudah merambah sampai Uni Eropa. Di manca negara, minyak sereh wangi banyak dimanfaatkan untuk bahan baku parfum dan farmasi.

" Kami belum mampu ekspor secara langsung. Tapi, kami ekspor melalui salah satu perusahaan swasta," kata Djanuardi.

Menurut Djanuardi, selain disuling untuk dijadikan minyak, daun sereh wangi pun laku dijual dengan harga Rp 800/kg. Nah, setiap 1 ha budidaya sereh wangi, petani bisa panen 8-10 ton tiap 3 bulan.

"Apabila harga daun sereh wangi Rp 800/kg, paling tidak petani bisa mendapatkan keuntungan  sekitar Rp 6,4 juta tiap 3 bulan," jelas Djanuardi.

Apabila petani melakukan penyulingan sendiri dipastikan hasilnya akan lebih besar lagi. " Pendapatan
dari  penyulingan (minyak sereh wangi,red) sekitar Rp 32 juta (kotor)/bulan," ujarnya.

Djanuardi mengatakan, usaha budidaya sereh wangi sangat ramah lingkungan. "Limbahnya berupa air bisa dimanfaatkan menjadi pestisida nabati. Dan yang padat bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Hasil dari limbah ini sekitar Rp 500 ribu/bulan," pungkasnya.


tabloidsinartani