Potensi Kelapa Sawit Mengatasi Kebutuhan Gula Nasional

Ekonomi | DiLihat : 57 | Sabtu, 01 Agustus 2020 | 17:38
Potensi Kelapa Sawit Mengatasi Kebutuhan Gula Nasional

PANDEMIC Covid-19 mestinya menjadi stimulan untuk membangun dunia baru yaitu dunia yang lebih mengedepankan aspek penyelamatan atau konservasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.  Teknik berpikir yang perlu dipakai adalah out of the box thinking.  Cara berpikir lama kita pandang sudah usang. Karena itu kita perlu segera keluar dari kotak berpikir tersebut.

Kita mulai membangun kotak berpikir baru untuk menghasilkan gula ini bukan dengan mencari lahan sekian juta hektar untuk dikonversi menjadi perkebunan tebu misalnya. Tetapi kita mencari sumberdaya biologis yang sudah tersedia dan selama ini ia kita sia-siakan  tetapi terbukti sudah dimanfaatkan masyarakat dalam dunia nyata. Artinya, kita tidak memulai dari nol atau dari ketidak tahuan sama sekali.

Banyak tanaman selain tebu diketahui sebagai penghasil gula. Pohon aren, kelapa atau siwalan sudah diketahui sebagai penghasil gula.  Namun demikian, sebagai akibat dari kondisi yang sudah menjadikannya seperti dalam keadaan sekarang, sumberdaya biologis yang melimpah untuk dipanen menjadi gula adalah perkebunan kelapa sawit.  Perkebunan kelapa sawit Indonesia ini merupakan perkebunan yang terluas di dunia dengan fokus pemanfaatan untuk menghasilkan produk primer berupa minyak atau lemak nabati.  Model pemanfaatan kelapa sawit semacam itu merupakan model peninggalan Belanda yang kita lanjutkan hingga sekarang. Belanda dulu mungkin belum melihat manfaat lain yang penting untuk Indonesia pada abad ke-21 sekarang ini.

Hasil local genius petani kelapa sawit di Sumatera Utara telah menemukan bahwa pohon sawit juga bisa menghasilkan gula, sama seperti pohon aren atau kelapa.  Perbedaannya dengan pohon aren atau kelapa menurut teknik penyadapan nira sawit para petani tersebut adalah nira yang diambil bersumber dari pohon sawit tua yang akan diremajakan.  Pohon kelapa sawit tersebut dirobohkan kemudian ujungnya dipotong dan nira yang keluar dimanfaatkan untuk menghasilkan gula merah bersumber dari kelapa sawit.

Temuan para petani kelapa sawit tersebut sangat menarik dan sangat strategis untuk dilanjutkan dan disempurnakan oleh para pakar di pelbagai bidang dengan dukungan kebijakan Negara untuk memanfaatkan potensi yang sangat besar bagi Indonesia mendatang.

Andaikan luas perkebunan kelapa sawit Indonesia 16 juta hektar.  Apabila perkebunan kelapa sawit tersebut siklusnya 25 tahun maka untuk mencapai komposisi usia kebun sawit berada pada posisi normal (sebaran luas kebun sawit menurut usianya berada secara merata) maka diperlukan luas peremajaan kebun sawit sebanyak 4 persen per tahun atau terdapat potensi peremajaan seluas 640 ribu hektare per tahun.  

Mengingat peremajaan ini memerlukan biaya yang tidak kecil, bahkan bisa berada di luar jangkauan petani kelapa sawit, maka dewasa ini saja terdapat kebutuhan peremajaan perkebunan kelapa sawit petani mencapai seluas hampir 3 juta hektare. Luasnya areal peremajaan ini sangat besar, 4.6 kali daripada luas peremajaan normal di atas. Berapa besar potensi gula sawit dari seluas 3 juta hektar tersebut?

Menurut pengalaman para pengolah polon sawit tua yang akan diganti dengan tanaman kelapa sawit baru, jumlah nira yang dihasilkan dalam satu hari bisa mencapai antara 20 sampai dengan 30 liter.  Dari nira tersebut bisa didapat gula merah sekitar 4 sampai dengan 5 kg per pohon dalam sehari.  Lama periode pemanfaatan pohon kelapa sawit tua tersebut adalah sekitar 30 hari. 

Dengan mengasumsikan jumlah sisa pohon kelapa sawit tua yang akan diremajakan itu 100 pohon per hektare, maka dapat diperkirakan jumlah gula merah yang akan dihasilkan adalah 100 pohon/hektar x (4-5) kg/hari x 30 hari = 12000 kg - 15000 kg atau 12 sampai dengan 15 ton gula per hektare atau dalam nilai uang mencapai sekitar Rp 150 juta-Rp 187,5 juta.  Jadi, dari luas areal peremajaan normal 640 ribu hektare per tahun dapat dihasilkan 7,68 juta sampai dengan 9,60 juta ton gula.  

Sekarang, apabila kita memanfaatkan kondisi kebutuhan peremajaan perkebunan kelapa sawit petani yang mencapai luasan hampir 3 juta hektar, maka potensi gula sawit merah yang akan dihasilkan mencapai 36 juta sampai dengan 45 juta ton.  Andaikan kebutuhan gula nasional 7 juta ton per tahun dan sudah dipenuhi 2 juta ton dari hasil pemanfaatan perkebunan tebu nasional, maka kekurangannya tinggal 5 juta ton gula saja. 

Kekurangan gula ini bisa dihasilkan dengan memanfaatkan peremajaan kelapa sawit seluas 417 ribu hektar saja atau hanya seluas kurang-lebih 14 persen saja dari luas perkebunan kelapa sawit milik petani.  Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan pembiayaan Rp 30 juta per hektar bersumber dari BPDPKS akan sangat strategis apabila diintegrasikan dengan strategi pemenuhan kebutuhan gula nasional.

Posisi yang sangat strategis dalam ruang-lingkup persaingan global dengan memanfaatkan perkebunan kelapa sawit yang akan diremajakan ini adalah lahirnya sumber daya saing baru Indonesia terhadap pasar komoditas yang sama di pasar internasional. 

Harga gula pasir di pasar internasional yang sangat rendah itu disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah pemberian subsidi oleh negara-negara maju.  Indonesia, apalagi dalam kondisi menghadapi dampak pandemik Covid-19  sebagaimana yang berlangsung dewasa ini, tidak memiliki sumberdaya yang mencukupi untuk memberikan subsidi yang memadai.  

Perlu menjadi perhatian kita semua, khususnya Pemerintah bahwa pohon-pohon kelapa sawit yang selama ini dibuang percuma itu, sekarang nilai per pohon dengan menggunakan nilai setara gula mencapai Rp 1.5 juta/pohon. Jadi, dari 417 ribu hektare peremajaan perkebunan kelapa sawit di atas, nilai pohon kelapa sawit tersebut akan mencapai Rp 62,5 triliun rupiah, apabila dikonversi menjadi gula.

Sedangkan apabila nilai dari 640 ribu hektar peremajaan diberlakukan maka potensi nilai gula sawit mencapai paling tidak Rp 96 triliun atau hampir mencapai US$ 7 milyar.  Khusus untuk BUMN Perkebunan nilai hutang Rp 42 triliun adalah setara dengan produksi gula merah sawit pada peremajaan areal perkebunan sawit seluas kurang lebih 280 ribu hektar.

Mungkin di sinilah terletak potensi kebangkitan gula Indonesia untuk dapat memenuhi kebutuhan gulanya sendiri serta mekspor residualnya. Selain itu, kita akan mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk melakukan konservasi hutan-hutan tropika yang jasanya sangat besar untuk menyelamatkan dunia dari pemanasan global. Satu hal yang tidak boleh dilupakan apabila potensi di atas bisa diwujudkan yaitu masyarakat dan lokasi penemu proses pengolahan kelapa sawit sekarang perlu ditetapkan sebagai  sumber awal teknologi pengolahan kelapa sawit menjadi gula sawit dan mendapatkan semacam royalty community atau benefit dari Negara.

tabloidsinartani