PPN Komoditas Pertanian Adalah Penghianatan Kepada Petani!

Poros | DiLihat : 36 | Jumat, 31 Juli 2020 | 10:13
PPN Komoditas Pertanian Adalah Penghianatan Kepada Petani!

MANADO — Multiplier efek yang terjadi akibat adanya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dikenai atas hasil pertanian terus dirasakan para petani sejumlah komoditas di Sulut. Menyikapi itu, anggota DPRD Sulur Fraksi PDIP Sandra Rondonuwu secara keras menentang PPN sebagai pengkhianatan terhadap petani.

Pasalnya, sebut Sandra Rondonuwu pemerintah pusat dalam waktu dekat ini akan menetapkan PPN untuk komoditas produk perkebunan dan pertanian bukan saja telah menghianati petani yang selama ini menjadi pahlawan ketahanan pangan tapi juga ahistoris yang tidak paham nasionalisme Indonesia justru berakar dari petani yang disebut oleh Soekarno sebagai kaum Marhaenism Indonesia.

“Petani kita sedang terpuruk, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga diinjak-injak pula,” tandas legislator yang akrab disapa SaRon dan dikenal gigih memperjuangkan nasib petani di Sulut.

Menurutnya, seharusnya di situasi yang sangat sulit seperti Pandemi COVID-19 yang belum jelas kapan akan berakhir ini, mendorong pemerintah untuk memberikan intensif bagi petani dan sektor perkebunan yang sudah terbukti menjadi banteng terakhir pertahanan ekonomi bahkan politik di Indonesia.

“Ini malah lucu, petani sekarang yang tidak kelar-kelar dengan urusan kelangkaan pupuk, ketergantungan bibit dan segala keruwetan persoalan petani seperti reformasi agraria sampai pada dosa revolusi hijau orde baru yang masih menyisahkan persoalan petani dan yang paling membekas adalah tataniaga cengkih yang dikuasai oleh keluarga cendana yang sampai hari ini telah mengakibatkan hancurnya komoditas cengkih,” ungkapnya, Selasa (30/6/2020) di Hotel Quality Manado.

Sekarang diberi beban lagi dengan penarikan pajak pertambahan nilai (PPN). “Ini kan cara berpikir yang jelas-jelas menghianati petani,” ulas SaRon.

Kalau hal tersebut tidak segera ditindaklanjuti, dirinya menegaskan akan terjadi hal yang tidak diinginkan. “Jangan buat petani Sulut mencari kemerdekaannya sendiri,” tutup SaRon.


beritamanado