Bima Arya Panen Padi di Surga yang Tersisa

Kabar Desa | DiLihat : 30 | Kamis, 30 Juli 2020 | 12:16
Bima Arya Panen Padi di Surga yang Tersisa

BOGOR --- Berada di kawasan perkotaan di Kota Bogor, ternyata ada surga yang tersisa yang mampu menambah bahan pangan masyarakat kota hujan ini. Walikota Bogor, Bima Arya pun berkesempatan melakukan panen raya disana.

Kota Bogor sebagai daerah penyangga Ibukota Jakarta sebenarnya memiliki 320 hektar lahan pertanian yang potensial untuk tanaman padi. Namun sejak 2017 lalu, tercatat menyusut hanya bersisa 132 hektar saja. Di dalamnya, hanya 58 hektar lahan baku yang tidak boleh beralih fungsi.

Lahan baku inilah  yang disebut oleh Walikota Bogor, Bima Arya sebagai lahan surga yang tersisa di Kota Hujan. Di lahan itu pula, Selasa (29/7) dirinya melakukan panen raya padi berbasis teknologi bio produk hasil inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Petanian (Balitbangtan).



TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Berada di kawasan perkotaan di Kota Bogor, ternyata ada surga yang tersisa yang mampu menambah bahan pangan masyarakat kota hujan ini. Walikota Bogor, Bima Arya pun berkesempatan melakukan panen raya disana.

Kota Bogor sebagai daerah penyangga Ibukota Jakarta sebenarnya memiliki 320 hektar lahan pertanian yang potensial untuk tanaman padi. Namun sejak 2017 lalu, tercatat menyusut hanya bersisa 132 hektar saja. Di dalamnya, hanya 58 hektar lahan baku yang tidak boleh beralih fungsi.

Lahan baku inilah  yang disebut oleh Walikota Bogor, Bima Arya sebagai lahan surga yang tersisa di Kota Hujan. Di lahan itu pula, Selasa (29/7) dirinya melakukan panen raya padi berbasis teknologi bio produk hasil inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Petanian (Balitbangtan).

Lahan surga itu berada di  Kelompok Tani Lemah Duhur, Kelurahan  Mulyaharja yang dikenal sebagai Desa Tematik, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Berada pada ketinggian yang strategis di lereng Gunung Salak membuat kita bisa melihat Kota Bogor yang begitu indah.

Saat panen yang dihadiri oleh Kepala BPTP Jawa Barat, Dr. Wiratno, Komanda Kodim 0606 Kota Bogor Kolonel Inf.Roby Bulan , dan Kepala Diinas Ketahanan Pangan dan Petanian, Anas S. Rasman, Walikota Bogor sadar bahwa wilayah yang dia pimpin bukan merupakan sentra produksi tanaman pangan. Namun lahan-lahan potensial yang masih tersisa tersebut akan diarahkan sebagai objek wisata agro dan wahana edukasi.

Bima Arya masih ingat betul jika Kelurahan Mulyaharja tersebut dulu dikenal sebagai wilayah termiskin dan banyak kasus kekurangan gizi bagi anak-anak. Namun sekarang kelurahan tersebut sudah berkembang menjadi kelurarahan temakmur di Kota Bogor. Untuk itu dia akan melakukan pembenahan akses tranportasi dan infrastruktur sampai ke kawasana agrowisata tersebut.

Dalam rangkaian panen ini dilakukan juga penyerahan bantuan benih dan  Alsintan untuk Kelompok Tani. Bantuan benih padi Sintanur 75 kg (3 hektar) dari  DKPP kota Bogor, 2 Unit Hand Traktor  alat Panen untuk KTD Lemah Duhur Kel. Mulyaharja dan KTD Bina Sejahtera dari  BPTP Jabar dan 2 Unit Alat Panen / Padi Mower utk KTD Lemah Duhur Kel. Mulyaharja dan KTD Fajar Gumbira Kel. Margajaya dr BPTP Jabar.

Bioproduk
Di lahan minimalis yang dikelola oleh Kelompok Tani Lemah Duhur ini, Kepala BPTP Jawa Barat Wiratno menuturkan Balitbangtan menerapkan inovasi teknologi bioproduk, sehingga akan dihasilkan beras organik yang bernilai jual tinggi. “Saat ini beras organic yang diproduksi oleh kelompok tani ini bias dijual mencapai Rp. 20 ribu per kg," bebernya.

Ada empat komponen bioproduk yang diterapkan, yakni penggunaan Varietas Ungggul Baru (VUB) varietas Siliwangi, Pajajaran dan Paketi. Kemudian didukung dengan penggunaan pupuk hayati Agrimet, pengomposan dengan penggunaan Ultramet dan pengendali OPT Bioprotektor.

Dari komponen bioproduk yang diterapkan ini, menurutnya mampu menurunkan penggunaan pupuk organic dari 7 ton menjadi 4 ton yang bias menghemat biaya produksi Rp. 1,5 juta per hektar dan terjadi peningkatan produksi. Total tambahan keuntungan yang diperoleh petani bhisa  mencapai Rp. 5 juta per hektar.

Saat ini bioprotektor sudah siap untuk diliisensikan ke dunia usaha. PT. Smartz Agro Lestari adalah calon lisensor bioprotektor tersebut. Menurut Direktur perusahaan, Dedy Mustika saat ini telah dilakukan peengujian di beberapa daerah, salah satu ada di desa Walet Kabupaten Indramayu. Hasil pengujian yang dilakukan, penggunaan bioprotektor sangat berhasil dan biaya produksi turun dan terjadi peningkatan produksi 20-30 persen.

tabloid sinar tani