Dorong Hilirisasi, Agar Produk Sawit Bernilai Tambah

Ekonomi | DiLihat : 53 | Selasa, 28 Juli 2020 | 13:28
Dorong Hilirisasi, Agar Produk Sawit Bernilai Tambah

JAKARTA --- Ekspor produk kelapa sawit masih menjadi tumpuan pencetak devisa negara. Sayangnya, nilai tambah produk sawit di pasar domestik maupun manca negara masih rendah. Agar punya nilai tambah, industri sawit harus didorong untuk melakukan hilirisasi.

Ekonom UGM, Sri Adiningsih mengatakan, hilirisasi produk sawit hingga saat ini masih terbatas. " Karena itu, hilirisasi  produk kelapa sawit harus dilakukan supaya ada nilai tambah. Sehingga jika kita bicara sawit bukan hanya CPO saja, tetapi industri manufaktur yang memanfaatkan sawit semaksimal mungkin," kata Sri Adiningsih, dalam  webinar yang digelar Forum Jurnalis Sawit (FJS) bertema " Mendongkrak Pasar Domestik dan Ekspor Minyak Sawit Indonesia, " di Jakarta, Jumat (24/7).

Menurut Sri Adiningsih, kelapa sawit merupakan produk unggulan Indonesia. Kelapa sawit  juga berperan besar dalam perekonomian, termasuk penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan. Bahkan,  Indonesia menjadi eksportir sawit terbesar dunia dengan nilai ekspor yang terus meningkat.

"Karena itu, hilirisasi ini yang harus terus didorong. Apalagi dengan potensi bioenergi yang besar akan menjadi masa depan kelapa sawit," ujarnya.

Diakuinya, untuk investasi di industri hilir tidak mudah. Selain risikonya besar, juga mahal. Namun,  hilirisasi menjadi keharusan dalam pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan demi kemajuan industrinya.

Sri Adiningsih menegaskan, meski tidak mudah, tapi demi masa depan sawit, hilirisasi ini perlu didorong.  " Dijual dalam bentuk CPO saja memang sudah memberikan keuntungan. Tentunya untuk mendorong hilirisasi  perlu dukungan dari pemerintah," ujarnya.

Tingkatkan Promosi

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun mengungkapkan, saat ini permintaan  sawit dunia sedang mengalami kontraksi, akibat banyaknya tekanan ekonomi. Hal yang sama  juga dialami produk minyak nabati lainnya.

" Persaingan makin ketat, khususnya di pasar ekspor seperti India, Uni Eropa, Pakistan, Bangladesh, Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Afrika. Sementara itu, promosi dari Indonesia agak kurang dibandingkan promosi dari minyak nabati lain," papar Derom.

Derom juga mengatakan, promosi dan iklan merupakan langkah-langkah yang harus diperkuat untuk saat ini. Termasuk, memperkuat perdagangan minyak sawit Indonesia.

" Semua upaya harus dilakukan, terutama promosi dan iklan.  Tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Di sisi lain, hambatan perdagangan juga harus dihapuskan untuk mendukung ekspor sawit," tegas Derom.

Menurut Derom, pasar minyak sawit dan turunannya dapat didongkrak dengan meningkatkan promosi iklan perbaikan mutu dan penggunaan BBN yang lebih luas.

Hal senada diungkapkan,  Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kasan. Menurut Kasan,  ekspor CPO dan produk turunannya Indonesia melemah sejak awal Januari 2020. Bahkan, ekspor CPO mengalami penurunan  cukup dalam, apabila dibandingkan Desember 2019.

Kasan mengatakan, pada periode Januari-Mei 2020, ekspor CPO dan turunannya mencapai 7,6 miliar dollar AS, yang memberikan kontribusi terhadap ekspor nonmigas sebesar 12,5 persen. Secara nilai, ekspornya meningkat dari tahun sebelumnya.

"Namun, hingga  Mei lalu kinerja ekspor sawit masih terdampak pandemi covid-19. Tapi dari bulan Juni sudah mulai membaik karena negara-negara yang penanganan covid-19 lebih awal telah pulih termasuk negara tujuan utama," papar Kasan.

Guna mendorong ekspor sawit, lanjut Kasan, pemerintah akan terus melakukan promosi dan iklan. Selain itu,  pemerintah akan terus memberikan dukungan dan fasilitas untuk pembukaan pasar baru dalam rangka meningkatkan ekspor sawit.

"Kebijakan pemerintah akan terus dilakukan dalam rangka mengarah pada industri hilir,"  pungkasnya.(sinartani)