Menguatkan Industri Sawit sebagai Garda Terdepan Ekspor Nonmigas

Ekonomi | DiLihat : 81 | Sabtu, 25 Juli 2020 | 16:41
Menguatkan Industri Sawit sebagai Garda Terdepan Ekspor Nonmigas

JAKARTA – Kontribusi industri sawit tetap signifikan terhadap total ekspor nonmigas, meskipun dunia kini sedang dihadang pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Karenanya, pemerintah harus menguatkan industri kelapa sawit dengan cara serius mengurai berbagai hambatan yang dihadapi pebisnis di bidang strategis ini.

“Seluruh hambatan perdagangan harus menjadi tujuan utama untuk dicarikan solusinya, misalnya memperkuat G to G,” ucap Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono dalam webinar yang diadakan Forum Jurnalis Sawit (FJS) bertajuk "Mendongkrak Pasar Domestik dan Ekspor Minyak Sawit Indonesia” di Jakarta, Rabu (22/7/2020).

Selama Januari hingga Mei 2020 ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan turunannya tercatat USD7,6 miliar. Jumlah itu berkontribusi terhadap ekspor nonmigas sebesar 12,5%. Secara nilai, ekspornya meningkat ketimbang tahun sebelumnya.

Tentu jumlah tersebut terbilang besar sehingga wajar jika Gapki meminta pemerintah agar ekspor sawit menjadi panglima dalam perdagangan luar negeri atau internasional. Joko Supriyono berharap pemerintah memprioritaskan penyelesaian atas berbagai hambatan di sektor perdagangan luar negeri.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun menjelaskan, pasar ekspor produk sawit Indonesia lebih banyak ke India, Uni Eropa, Tiongkok, Pakistan, Bangladesh, AS, Timur Tengah, dan Afrika.

Saat Pandemi Covid-19, sebagaimana produk lain, permintaan minyak sawit dan produk turunannya boleh dibilang merosot—seiring penurunan minyak nabati nonsawit. Semisal Juni 2020, permintaan minyak sawit ke India anjlok hingga 56%. “Kelemahan produk sawit di Indonesia karena promosi dan iklan minim. Beda dengan produk lain,” ungkap Derom.

Mengenai kebijakan pemerintah mendorong penggunaan biodiesel dari minyak sawit, Derom optimistis dalam menatap pasar domestik. Namun, semuanya perlu waktu karena harus dikaji secara mendalam dengan melibatkan semua pihak terkait.

“Misalnya D100 yang diakui Pertamina bagus dan sudah diuji tim ITB, kabar bagus. Namun harus didiskusikan dengan industri terkait,” tuturnya.

Meski permintaan dunia melemah karena pandemi Covid-19, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) pada Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan masih optimistis akan pulihnya ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya.

“Namun kita perlu mewaspadai tren penurunan pangsa ekspor sawit Indonesia yang terjadi dalam tiga tahun belakangan ini,” ujarnya.

Menurut Kasan, total ekspor bulanan CPO dan produk turunannya tercatat anjlok sejak merebaknya Pandemi Covid-19. Apalagi bila dibandingkan Desember 2019, nilai ekspor minyak sawit dan turunannya mencapai USD15,98 miliar, atau 53,5% pangsa pasar dunia.

“Nilai ini turun 12,32% dibanding pada periode yang sama tahun lalu, sementara tren ekspor periode 2015-2019 tercatat melorot 0,04%,” tuturnya.

Guru besar UGM Prof Sri Adiningsih mengatakan, pada 2018 tercatat 65% dari total produksi CPO Indonesia diekspor, sisanya dikonsumsi di dalam negeri. “Nilai ekspor sawit dan kontribusinya jauh lebih tinggi dari komoditas strategis lain yang dapat diartikan sebagai nilai plus dari kinerja industri sawit nasional,” katanya.

Di tempat terpisah, Ketua Bidang Komunikasi Gapki Tofan Mahdi berkeyakinan, bahwa industri sawit bisa tetap memberikan kontribusi yang baik bagi perekonomian nasional. Ketika industri-industri lain sudah banyak yang terpuruk, bisnis sawit diharapkan bisa tetap berdiri tegak.

"Sejauh ini kami masih bussines as usual karena kegiatan di kebun masih berjalan normal. Memang untuk pergerakan manusianya menjadi lebih terbatas, tapi kami tetap melakukan upaya-upaya antisipatif dan pencegahan. Namun, kami dari Gapki belum menerima laporan bahwa kegiatan produksi di kebun terganggu."

Yang menggembirakan, di saat harga minyak mentah dunia terjun bebas, sekitar US$20 per barel, harga sawit di tingkat petani masih di atas Rp1.000 hingga Rp1.300.

"Di tengah situasi sekarang ini, kita bersyukur bahwa harga sawit sekitar US$ 680/MT–US$ 700/MT. Dari segi bisnis, ini masih oke. Saya juga sempat berdiskusi dengan teman-teman di asosiasi, kalau permintaan di Cina sudah normal mereka akan beli besar-besaran," tuturnya.(zae)