Peran KRPL Strategis dalam Ketahanan Pangan

Ekonomi | DiLihat : 185 | Kamis, 27 Juni 2019 | 12:18
Peran KRPL Strategis dalam Ketahanan Pangan

 Sejak tahun 2015 Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di seluruh Indonesia. Peran KRPL sangat strategis guna mencukupi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan bisa meningkatkan pendapatan rumah tangga. 

Demikian disampaikan Kepala BKP, Agung Hendriadi, saat mengunjungi KRPL di Taro kecamatan Tegallalang, Gianyar Bali, Sabtu (22/6). Menurutnya,  keberlanjutan KRPL sangat penting. Oleh karena itu Kebun Bibit Desa (KBD) harus terus dikembangkan dengan aneka tanaman.

"Selain itu juga harus ada motor penggeraknya yang bisa memotivasi dan memberi semangat. Ini penting. Jangan berhenti menanam," tegas Agung.

KRPL di provinsi Bali tahun 2019 berjumlah 70 dengan masing-masing anggota sekitar 30 orang. Sementara di Gianyar ada 12 KRPL."Kami akan kembangkan terus KRPL ini, karena program ini sangat bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga," ujar Wayan Jarta, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Bali.KBD KRPL Dwi Tunggal Putra mengembangkan pembibitan cabai, tomat, terong, seledri, okra, dan rosela. Sedangkan untuk pertanaman baru dikembangkan tanaman cabai, terong, dan tomat. KRPL ini juga mengembangkan kangkung dengan sistem hidroponik dipadu dengan ikan lele di media ember bekas.

"Ikan lele yang kami pelihara dipadukan dengan tanaman kangkung hidroponik. Dari 30 anggota masing-masing memelihara 50 ekor lele per ember. Hasilnya untuk dikonsumsi dan sebagian sisanya dijual," ujar Ni Wayan Wiranti yang menjadi Ketua Kelompok Wanita Tani.

Menurut Wiranti, dari budidaya tanaman yang dilakukan anggota KWT, masing-masing keluarga bisa menghemat pengeluaran antara 750 sampai satu juta rupiah. Bahkan tidak sedikit yang meningkat kesejahteraannya dengan menjual produk yag dihasilkan.

Tidak itu saja, mereka juga beternak ayam sebanyak 240 ekor. Masing-masing anggota memelihara 8 ekor. "Saat ini sudah berkembang menjadi 350 ekor. Sebelumnya sudah banyak dikonsumsi seperti untuk keperluan upacara-upacara adat," pungkasnya. (591)

agronet