Ratusan Desa di Sumsel Rawan Karhutla, Ribuan Petugas Siaga

Kabar Desa | DiLihat : 194 | Selasa, 18 Juni 2019 | 10:54
Ratusan Desa di Sumsel Rawan Karhutla, Ribuan Petugas Siaga

Palembang -- Sedikitnya 300 desa yang tersebar di sembilan kabupaten/kota wilayah Sumatra Selatan masuk kategori rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal tersebut berdasarkan pemetaan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatra Selatan. 

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori mengatakan sembilan kabupaten/kota yang merupakan daerah rawan karhutla tersebut yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Musi banyuasin (Muba), Muara Enim, Banyuasin, Empat Lawang, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, dan Kota Prabumulih. 

"Yang rawan karhutla itu ada 300, namun yang harus mendapatkan perhatian serius 100 desa di empat kabupaten yakni OKI, OI, Muba, dan Banyuasin. Bulan depan 6.000 petugas akan disiagakan untuk mencegah dan mengantisipasi karhula di lokasi rawan," ujar Ansori, Senin (17/6). 


Ansori menjelaskan di 100 desa paling rawan tersebut memiliki luasan lahan gambut besar dan mudah terbakar dalam kondisi kering saat musim kemarau. Pada tahun-tahun sebelumnya pun, 100 desa tersebut menjadi langganan lokasi karhutla. Oleh karena itu pada Juli mendatang, BPBD bersama instansi terkait lainnya akan bersiaga untuk mengantisipasi karhutla. Sebanyak 6.000 petugas disiagakan di seluruh daerah rawan karthula, 1.500 di antaranya difokuskan bersiaga di 100 desa paling rawan tersebut. 

"Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar karena memicu terjadinya kebakaran meluas dan kabut asap. Musim kemarau tahun ini diprediksi cukup ekstrim dan terbilang lama berdasarkan prakira BMKG terjadi sejak awal Juli hingga Oktober 2019," kata dia. 

Sementara itu, Kasi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika SMB II Palembang Bambang Benny Setiadji mengatakan saat ini wilayah Sumatra bagian selatan termasuk Sumsel sudah memasuki musim kemarau berdasarkan aktifnya gerakan angin Muson Timur yang aktif. 

Namun hujan yang terjadi beberapa hari terakhir diakibatkan belokan massa udara dan fenomena Osilasi Madden Julian (OMJ). "Hujan diakibatkan oleh faktor regional di mana Angin Muson Timur yang memiliki kecepatan yang signifikan mengalami perlambatan akibat adanya belokan massa udara ke arah Laut China Selatan. Ini menyebabkan Sumbagsel mendapat asupan uap air yang cukup signifikan untuk pertumbuhan awan," ujar dia. 

Benny mengatakan secara normal di Sumsel curah hujan dan kelembapan akan menurun hingga puncak minimum pada Agustus dan September seiring aktifnya aktifitas El Nino di Samudera Pasifik. Diperkirakan kemarau berlangsung hingga akhir 2019 akan menyebabkan minimnya pasokan uap air di wilayah Indonesia dan Indonesia bagian timur khususnya. 

"Meskipun masih ada potensi terjadinya hujan karena adanya OMJ dan Dipo Samudera Hindia, kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, meminimalkan aktifitas di luar ruangan pada siang hari dan mengonsumsi air yang cukup agar tidak dehidrasi," ujar Benny.

cnnindonesia