Jadi Bagian Penting Ekonomi Nusantara, Produksi Vanili Harus Ditingkatkan

Ekonomi | DiLihat : 440 | Selasa, 18 Juni 2019 | 10:31
Jadi Bagian Penting Ekonomi Nusantara, Produksi Vanili Harus Ditingkatkan

Vanili pernah menjadi komoditas yang berperan penting bagi ekonomi nusantara dan membawa nama Indonesia sebagai produsen nomor wahid di dunia. Namun di era 2005—2016, masa kejayaan vanili mulai luntur. Namun sekarang, petani harus siap-siap menyambut kebangkitan tanaman ini. Pasalnya, produksi vanili di Madagaskar dan Tahiti sedang mengalami penurunan.Kepala Kebun Percobaan Sukamulya, Kecamatan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat, Wawan Lukman mengatakan, dirinya merasakan tren kenaikan permintaan bibit vanili. Dulu tanaman vanili dikenal sebagai emas hijau. Namun karena ulah petani dan pedagang, kualitas vanili Indonesia merosot tajam.

“Akibatnya permintaan vanili Indonesia semakin turun,” ujarnya seperti dikutip Republika, Kamis (13/6).

Modus tersebut antara lain petani memasukkan paku ataupun mercuri ke dalam vanili sehingga berat dan petani memanen vanili belum tepat waktunya. Vanili yang berkualitas bisa dipanen saat usia 8—9 bulan, kadar vanilinya bisa lebih dari 2 persen. Namun, banyak petani yang panen pada usia 4—5 bulan sehingga kadar vanilinya tidak mencapai angka tersebut.

“Hal itu dilakukan petani karena takut vanili dicuri orang,” ungkap Wawan.

Melihat produksi negara penghasil vanili seperti Tahiti dan Madagaskar yang tengah mengalami penurunan, Wawan menuturkan peluang inilah yang harus bisa dimanfaatkan petani. Apalagi harga vanili kini tengah tinggi.

Untuk diketahui, saat ini harga vanili kering bisa mencapai Rp5 juta/kg, sedangkan untuk vanili basah mencapai Rp500 ribu/kg. Untuk mendapatkan 1 kg vanili kering diperlukan 4 kg vanili basah.

Peneliti Utama Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, Endang Hadipoentyanti juga mengakui di antara penyebab rendahnya mutu itu adalah ulah pelaku bisnis vanili dan penggunaan benih yang tidak jelas asalnya. Namun, pakar perbenihan ini sekarang merasa sangat bahagia, karena sejak 2017 lalu tanda-tanda kebangkitan vanili mulai dirasakan.“Semangat kebangkitan ini, harus disambut dengan penerapan teknologi yang benar dan penjagaan mutu yang ketat,” ungkapnya.

Salah satu bentuk inovasi yang harus segera diterapkan adalah penggunaan varietas-varietas vanili yang unggul. Sejak 2008, Kementerian Pertanian telah mengeluarkan 3 varietas unggul baru, yakni Vanilia 1, Vanilia 2, dan varietas Alor.

Namun Endang mengingatkan, untuk sukses bertani vanili tidak cukup dengan ketersediaan teknologi, tetapi perilaku petani juga menjadi kuncinya. Apalagi vanili adalah jenis tanaman memerlukan pemeliharaan yang intensif.

pertanianku