Pertama di Indonesia, Pemkab Siak Kembangkan Teknologi Aero Hydro Culture

Inovasi Desa | DiLihat : 280 | Jumat, 14 Juni 2019 | 10:09
Pertama di Indonesia, Pemkab Siak Kembangkan Teknologi Aero Hydro Culture

SIAK - Untuk meningkatkan hasil perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dan menjaga ekosistem di dalamnya, Pemerintah Kabupaten Siak bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) melakukan kajian hydrologi gambut dan pengembangan teknologi Aero Hydro Culture hasil penemuan Prof Ozaki dari jepang. 

Hal tersebut dikatakan Asisten II Setda Kabupaten Siak Hendrisan, saat membuka kegiatan pelatihan Pembuatan Kompos di lokasi riset aerohydro culture, di Kampung Koto Ringin, Kecamatan Mempura, Kamis (13/6/2019). 

Dalam hal ini, BRG juga bekerjasama dengan Word Research International (WRI) Indonesia, LIPI, UNRI (UR), Balitbang, Pertanian Pusat, Badan Penelitian Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Serta melibatkan NGO (LSM) yang tergabung dalam Sedagho Siak, seperti Winrock, WRI, dan Elang.

TERKAITSelanjutnya, Hendrisan mengatakan, Pemerintah Daerah menyambut baik dan sangat mendukung dengan adanya kegiatan pengembangan teknologi terbaru ini.

"Jika ada kendala dalam pengembangan teknologi ini, kami Pemerintah Daerah akan memfasilitasi dan siap membantu," ungkap Hendrisan.

Hendrisan juga berpesan kepada kelompok tani yang mengikuti kegiatan ini, agar mengikutinya dengan sebaik mungkin agar teknologi ini benar-benar bisa diterapkan di lahan gambut di daerah itu. 

"Semoga dengan teknologi terbaru ini, nantinya hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat akan meningkat, sehingga akan meningkatkan penghasilan mereka," harap Asisten II tersebut. 

Kemudian Prof. Anton dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, menjelaskan bahwa Teknologi Aero Hydro Culture, merupakan teknologi yang berfungsi untuk memancing akar tanaman untuk naik keatas, sehingga lebih mendapat makanan dari pupuk organik yang telah disediakan. 

"Teknologi Aero Hydro Culture terbuat dari pupuk organik yang dibuat dari rumput, tanda sawit yang kosong (tangkos), dan campuran kotoran hewan," kata lelaki yang kerap dipanggil Profesor itu. 

Setelah semua bahan dicampurkan, sambungnya, bahan tersebut akan didiamkan atau diendapkan kurang lebih dua bulan, kemudian baru dicampurkan dengan pupuk lain seperti Pupuk mikorisa, dan pupuk PGPR.

Kepala Dinas Pertanian Budiman Safari menambahkan, Teknologi ini, akan coba dikembangkan terlebih dahulu dilahan Koperasi Beringin Jaya, Kampung Koto Ringin, dengan luas kurang lebih 400 hektare. 

"Setelah teknologi ini berhasil dikembangkan, saya berharap koperasi Beringin Jaya menjadi pengembang usaha primadona, bagi pelaku usaha sawit didaerah lain," kata Budi.

Reporter: Darlis Sinatra
Editor : Nandra F Piliang
riaumandiri