Budidaya Ikan Gabus dengan Pemijahan Buatan yang Menjanjikan

Peluang Usaha | DiLihat : 909 | Selasa, 14 Mei 2019 | 09:22
Budidaya Ikan Gabus dengan Pemijahan Buatan yang Menjanjikan

Budidaya ikan gabus memang menjanjikan. Ikan ini banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia sebagai lauk. Beragam makanan populer menggunakan ikan gabus sebagai bahan pembuatnya. Kini, budidayanya juga bisa dilakukan dengan pemijahan buatan ikan gabus.

Pemijahan ikan gabus bisa dilakukan secara alami dan buatan. Pada pemijahan buatan, teknik ini menggunakan penambahan hormon agar ikan gabus memijah. Pemijahan buatan bisa terjadi secara pemijahan sendiri atau semi-alami dan metode stripping.

Sebelum dilakukan pemijahan buatan, pakan bagi ikan gabus juga harus diperhatikan. Kadar protein pada pakan sebaiknya minimal 27 persen. Jumlah pemberian pakan ikan gabus sebanyak 2—3 persen dari biomasa. Pemijahan juga dilakukan setelah dilakukan pengecekan ukuran telur. Minimal telur berukuran 2,7 milimeter.

Alat dan bahan pada pemijahan buatan sebagai berikut. Anda perlu menyiapkan hormon pemijahan berupa HCG dan ovaprim, NaCl, akuabides, dan obat bius ocean free. Anda juga perlu menyiapkan bulu ayam, mangkuk, kain lap, tisu, spuit, akuarium penetasan, dan hapa penampung induk.

Pemijahan buatan metode semi alami, induk jantan dan betina dibius dengan anestesi ocean free. Setelahnya, baru kedua induk disuntik dengan hormon pemijahan.

Dosis hormon HCG yang digunakan berkisar 500—2.000 iu per kilogram bobot induk. Sementara, dosis hormon ovaprim berkisar 0,2—0,3 mililiter per kilogram untuk induk jantan dan 0,5—0,7 miligram per kilogram untuk induk betina.

Setelah disuntik, mereka dimasukkan ke hapa untuk 4 ekor jantan dan 2 ekor betina. Tumbuhan air seperti eceng gondok sering digunakan sebagai pelindung. Begitu pula dengan ganggang ekor kucing. Tanaman itu ditebar di permukaan hapa.

Induk akan mulai memijah selang 10 jam setelah disuntik. Setelah 24—26 jam, telur yang dibuahi akan menetas. Anakan gabus biasanya berkumpul di dasar hapa dekat induknya.Metode kedua yang digunakan adalah pemijahan buatan dengan cara stripping. Sama seperti metode semi-alami, pembiusan dilakukan sebelum dilakukan penyuntikan hormon. Penyuntikan dilakukan di otot punggung pada bagian bawah sirip punggung.

Dosis hormon ovaprim diberikan sebanyak 0,7 mililiter per kilogram bobot induk betina dan dilakukan dalam dua kali. Induk jantan akan mendapatkan dosis sebanyak 0,3 mililiter per bobot. Setelah 7—10 jam penyuntikan, diadakan stripping pada kedua induk. Hormon HCG diberikan jika berdasarkan seleksi TKG ditemukan diameter telur belum homogen.

Stripping induk betina dilakukan dengan mengurut perut induk betina ke arah saluran kelamin. Telur-telur yang keluar ditampung dalam wadah mangkuk plastik. Induk jantan juga di-stripping untuk mengeluarkan spermanya. Sperma ini bisa disedot dengan pipet khusus.

Sperma induk gabus jantan dimasukkan ke wadah khusus yang sudah berisi telur. Kemudian, dilakukan pengadukan dengan menggunakan bulu ayam sampai homogen.

Jika sudah, telur-telur tersebut diletakkan di akar eceng gondok yang sudah disiapkan dalam kolam. Telur akan menetas dalam waktu 24—30 jam.

Jika kedua induk belum benar-benar siap untuk dipijahkan atau belum matang gonad, pemijahan buatan ini akan kurang maksimal. Larva yang dihasilkan pun akan sedikit. Oleh karena itu, penting sekali memastikan induk sudah siap untuk melakukan pemijahan.

pertanianku


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau