KKP dan Kemtan sukses panen udang windu yang terintegrasi dengan padi

Ekonomi | DiLihat : 318 | Selasa, 07 Mei 2019 | 10:06
KKP dan Kemtan sukses panen udang windu yang terintegrasi dengan padi

JAKARTA.  Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan panen hasil  Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Mina Padi Air Payau (Intan-AP) padi udang windu (Pandu) di lahan idle (menganggur) di Dusun Uring, Desa Lawallu, Kecamatan Soppengriaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Minggu, 5 Mei 2019

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja mengatakan, teknologi ini menarik dan merupakan teknologi baru yang mencoba menggabungkan udang windu yang biasanya hidup di wilayah laut dengan padi yang biasanya hidup di air tawar."Ternyata dengan teknologi mereka bisa didekatkan. Padi dengan varietas khusus yang mampu bertahan dengan air payau sampai 10ppt. Kemudian udang windu yang tadinya 45ppt bisa diturunkan menjadi 10ppt. Setelah panen pertama berhasil, panen kedua ini luar biasa, berhasil juga. Jadi kita lihat teknologi ini sudah mapan untuk bisa dikembangkan di masyarakat secara luas,” ujar Sjarief seperti dikutip dalam siaran pers, Senin (6/5).

Sjarief melanjutkan, panen dilakukan di lahan seluas ± 1 hektare (± 30% untuk caren udang dan ± 70% untuk lahan padi). Lahan tersebut merupakan lahan persawahan milik kelompok masyarakat yang sudah ditinggalkan kurang lebih 10 tahun karena dianggap tidak produktif.

Intan-AP Pandu merupakan integrasi teknologi budidaya udang windu dengan padi varietas toleran salin untuk memanfaatkan potensi lahan idle yang disebabkan oleh intrusi air laut. Kegiatan riset ini diinisiasi oleh Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) pada tahun 2018 melalui sinergitas riset antara Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) dengan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi) Kementerian Pertanian (Kemtan). 

Tokolan udang windu yang digunakan merupakan hasil riset perakitan strain udang windu unggul BRPBAP3, sedangkan varietas padi toleran salin yang digunakan adalah INPARI 34 dan 35 yang merupakan hasil riset perakitan varietas BBPadi.

Sjarief menerangkan, perbaikan teknologi budidaya minapadi air payau pada tahun ini yaitu pencegahan serangan hama pada tanaman padi tidak lagi menggunakan pestisida kimia, namun menggunakan biopestisida atau pestisida nabati yang aman bagi kehidupan udang dan ramah lingkungan.

"Keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada pemeliharaan dan manajemen lingkungan yang sesuai untuk kehidupan udang windu dan padi karena udang windu dan padi mempunyai toleransi salinitas yang berbeda," terangnya.

Ia juga mengatakan, keberhasilan Intan-AP Pandu serta pengembangan dan keberlanjutan teknologi ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tak hanya pemerintah pusat, namun juga pemerintah daerah.

Sulkaf S Latief selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), menyampaikan bahwa kegiatan ini mendukung Program Gubernur Sulsel bagi Kebangkitan Udang Windu di Sulawesi Selatan.

“Ini sejalan dengan perintah gubernur di sektor kelautan dan perikanan bahwa kita harus mempertahankan udang windu yang merupakan (spesies) asli Indonesia. Dengan bantuan semua stakeholder, terutama KKP yang mendorong Sulsel untuk mengembangkan udang windu, tahun depan insya Allah, kita dapat menaikan produksi udang windu,” ujar Sulkaf.

bisnis


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau