Warga Baduy Minta Gubernur Membuat Perda Desa Adat

Kabar Desa | DiLihat : 326 | Senin, 06 Mei 2019 | 10:05
Warga Baduy Minta Gubernur Membuat Perda Desa Adat

Serang, Beritasatu.com - Masyarakat adat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Ciboleger, Kabupaten Lebak, meminta kepada Gubernur Banten Wahidin Halim untuk dibuat peraturan daerah (perda) tentang desa adat guna melindungi masyarakat adat serta lingkungan di Banten.

Permintaan tersebut disampaikan warga Baduy pada acara Seba Gede Baduy ke Gubernur Banten di Museum Negeri Banten, Jl KH Brigjen Syam'un No 5, Kota Serang, Minggu (5/5/2019).

Sekitar 1.000 orang dari suku Baduy mengikuti prosesi upacara Seba Gede Baduy ke Gubernur Banten tersebut.

Warga Baduy menyerahkan laksa kepada Gubernur Banten yang diwakili oleh Ki Jaro Tanggunan 12, Ayah Saidi Putra.

Penyerahan laksa diawali dengan pembacaan mantera berbahasa Sunda peninggalan para leluhur. Laksa sendiri merupakan simbol aspirasi masyarakat Baduy kepada Abah Gede alias Gubernur Banten. Laksa terbuat dari produk hasil panen terbaik waga Baduy.

Di hadapan Gubernur Banten, Ayah Saidi Putra menyampaikan amanah Puun masyarakat adat Baduy yakni:

Pertama, amanah Puun untuk menjaga lingkungan yang ada di Provinsi Banten dengan baik. Kedua, amanah Puun untuk mohon perlindungan hukum masyarakat dan desa adat. Masyarakat Baduy meminta dibuatkan peraturan daerah tentang masyarakat dan desa adat. Ketiga, amanah Puun untuk mohon pemerintah agar menjaga persatuan dan kesatuan.

“Kami berangkat bersama 1.037 orang untuk mengikuti seba ini,” ungkap Ayah Saidi usai menyampaikan amanah Puun kepada Gubernur Banten.

Menjawab permintaan perda desa adat tersebut, Gubernur Banten menyatakan Provinsi Banten diperbolehkan membuat Perda tersebut. “Tidak perlu menunggu pemerintah pusat,” ujar Gubernur Banten.

“Prinsipnya saya sangat setuju, lingkungan harus kita jaga bersama. Demikian pula dengan persatuan dan kesatuan,” tegas Gubernur Banten menjawab permintaan masyarakat Baduy.

Seba Baduy adalah tradisi warga Baduy mendatangi Bapak Gede atau Gubernur Banten. Ribuan warga baik dari Baduy Dalam maupun Baduy Luar berangkat dari Kanekes, Kabupaten Lebak.

Seba merupakan tradisi wajib tahunan yang dilakukan warga Baduy. Waktu Seba dalam penanggalan adat Baduy dilakukan di bulan Safar dan biasanya di bawah tanggal 10.

Ritual Seba adalah rangkaian wajib setelah rangkaian adat Kawalu, Ngalaksa, dan terakhir Seba. Tradisi ini memiliki makna menjunjung tinggi amanat leluhur serta datang kepada pemerintah.

Sedangkan Seba bagi pihak pemerintah, menjadi saluran warga adat Baduy menyampaikan aspirasi mengenai kondisi masyarakat adatnya.

Untuk warga Baduy Dalam, aturan adat melarang mereka untuk mengendarai kendaraan. Seba warga Baduy Dalam dilakukan dengan berjalan kaki dari kampung-kampung Baduy Dalam di Kanekes, Kabupaten Lebak.

“Saya sebagai gubernur, Bapak Gede, mengucapkan terima kasih. Setiap tahun bapak-bapak semua berkunjung ke sini,” ungkap Gubernur Banten.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eneng Nurcahyati melaporkan, agenda Seba Baduy ini didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

“Seba Baduy masuk dalam calender of events di Indonesia,” ujarnya.

beritasatu