IPB Aplikasikan Konsep Pertanian 4.0

Inovasi Desa | DiLihat : 757 | Kamis, 25 April 2019 | 11:06
IPB Aplikasikan Konsep Pertanian 4.0

JAKARTA, (PR).- Institut Pertanian Bogor (IPB) menggandeng dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengaplikasikan konsep pertanian 4.0. Yakni, PT Pupuk Kaltim dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, V, dan VIII.

Konsep pertanian 4.0 ini menggunakan analisis citra yang ditangkap satelit Sentinel 2 untuk menentukan peta kandungan hara makro di dalam tanah.

Rektor IPB Arif Satria mengatakan, program pertama peluncuran uji coba pertanian 4.0 itu digelar pada demontration plot (demplot) Unit Bekri PTPN VII Lampung, Senin, 22 April 2019. Demplot adalah metode penyuluhan pertanian kepada petani dengan cara membuat lahan percontohan. 

“Agar petani bisa melihat dan membuktikan objek yang didemontrasikan,” kata Arif dalam siaran pers yang diterima “PR” di Jakarta, Rabu, 24 April 2019.

Ia mencontohkan, PT Pupuk Kaltim telah menghasilkan sistem rekomender nutrisi (pupuk) yang diberi nama Precipalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm). Sistem ini diklaim mampu memberikan rekomendasi pupuk sesuai keragaman dari peta hara di suatu perkebunan.

Ia mengatakan, hal ini penting untuk meningkatkan akurasi dan efektifitas pemupukan di perkebunan sawit PTPN. Menurut dia, pemupukan selama ini menjadi bagian dari proses produksi yang memerlukan biaya sangat tinggi.

"Dengan dikenalkan pemupukan presisi diharapkan tercipta pemupukan yang tepat sesuai kebutuhan tanaman, sehingga efisiensi bisa tercipta dan pembiayaan pemupukan bisa lebih dihemat," katanya.

Ia menuturkan, sistem ini merupakan bagian dari karakteristik agroindustri 4.0 dengan pemanfatan sensing devices, drones, satelites, dan IoT. Penggabungan antara satelit dan drone untuk saling mengoptimalkan fungsi sistem ketika berhadapan dengan kendala tutupan awan (untuk satelit) dan luasan tangkap citrayang terbatas (untuk drone).

Hal ini juga merupakan bagian dari manifestasi perbaikan bisnis proses pemupukan yang biayanya mendominasi proses produksi sawit yang mencapai sekitar 60% dari keseluruhan biaya produksi sawit. Contoh komponen biaya pemupukan yaitu pada uji laboratorium yang memakan waktu analisis tujuh hari hingga enam bulan.

“Bila uji coba ini berhasil maka Precipalm akan diterapkan di seluruh perkebunan PTPN di Indonesia. Tergantung pada kelengkapan sarana laboratorium," ujarnya.***

pikiran-rakyat


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau

Video Terbaru

Video Playlist +