Maros akan Padukan Objek Wisata Alam dan Wisata Budaya

Potensi Desa | DiLihat : 387 | Kamis, 25 April 2019 | 10:58
Maros akan Padukan Objek Wisata Alam dan Wisata Budaya

          Pemaduan objek wisata alam dan budaya dimaksudkan mendukung Wonderful Indonesia
MAROS - Pemerintah Kabupaten Maros melalui Dinas Kebudayan dan Pariwisata siap memadukan objek wisata alam dan wisata budaya di bumi butta salewangang. Pemaduan dua objek ini dimaksudkan untuk mendukung program pemerintah Wonderful Indonesia."Selama ini objek wisata yang lebih banyak difokuskan, kini wisata budaya juga kami akan angkat untuk saling mendukung," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros Muhammad Ferdiansyah di Kabupaten Maros, Senin (8/4).

Dia mengatakan salah satu wisata budaya yang masih tetap bertahan dan dipelihara turun-temurun adalah pesta adat panen raya Katto Bokko. Pesta adat panen ini dilakukan oleh Pemangku Adat Kerajaan Marusu, Abd Waris Karaeng Sioja bersama masyarakat setempat. Menurut Ferdiansyah, ke depan pesta adat yang lahir dari nilai-nilai budaya ini akan dikerjasamakan dengan Asosiasi Pengusaha Travel Indonesia (Asita) dan Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Harapannya kerja sama ini dapat memperluas gaung Katto Bokko di Maros. "Jadi ke depan, pesta adat tersebut bukan hanya dapat disaksikan oleh orang Maros, tetapi juga orang dari luar Sulawesi Selatan bahkan oleh turis mancanegara, karena akan dimasukkan dalam kalender pariwisata mendukung program pemerintah (Wonderful Indonesia)," katanya.

Beberapa objek wisata Kabupaten Maros sudah dikenal hingga ke mancanegara seperti Taman Wisata Alam Bantimurung, taman purbakala Leang-Leang, dan taman wisata pegunungan karst Rammang-Rammang. Objek wisata tersebut akan disenergikan dengan wisata budaya di Kabupaten Maros.

Karena itu, lanjut Kadisbudpar Maros, wisatawan lokal dan mancanegara sebelum ke objek wisata Bantimurung atau Rammang-Rammang akan singgah menyaksikan pesta adat Katto Bokko ataupun appalili. Appalili adalah upacara turun sawah yang digelar sekali setahun secara besar-besaran.

Pemangku Adat Karaeng Marusu berharap adanya perhatian dari pemerintah ini akan menjadi wujud kepedulian dalam melestarikan budaya. Sinergi wisata alam dan budaya sekaligus merangsang generasi muda untuk mengenal dan melesarikan budayanya.

"Upacara adat yang dilakukan turun-temurun sejak ratusan tahun silam pada prakemerdekaan tetap kami jaga agar anak cucu kami masih bisa melihat dan merasakan wujud kesyukuran saat panen raya," katanya. Selain itu, wujud kebersamaan dan menyatunya antara pihak turunan raja dan masyarakat dapat terus dibina melalui pesta adat Katto Bokko.

republika