RSI: Ketergantungan Petani terhadap Pupuk Anorganik Masih Tinggi

Ekonomi | DiLihat : 257 | Jumat, 12 April 2019 | 11:06
RSI: Ketergantungan Petani terhadap Pupuk Anorganik Masih Tinggi

Jakarta — Tumbuhnya kesadaran masyarakat dunia terhadap tingkat kesehatan memicu permintaan makanan berbahan baku organik semakin meningkat. Konsumen di sejumlah negara maju seperti Amerika dan Inggris mulai beralih membeli produk-produk organik sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap kesehatan pribadi dan anggota keluarganya.

Berdasarkan survei FiBL dan IFOAM- Organiks Internasional beberapa negara yang menjadi pasar terbesar adalah Amerika Serikat (39 Milyar Euro), Jerman (9,5 Milyar Euro), Francis (6,7 Milyar Euro), dan China (5,9 Miyar Euro). Hasil survei ini juga menyampaikan pasar tumbuh rata-rata 20 persen pada tahun 2016.

Dewan Pakar Rumah SandiUno Indonesia (RSI) Haris Harahap mengatakan, pasar makanan organik dalam negeri juga mengalami pertumbuhan yang signifikan, berdasarkan data Organik Trade Association ukuran total pasar untuk makanan dan minuman kemasan organik di Indonesia pada tahun 2017 adalah US $ 13,5 juta, menjadikannya pasar ke-44 terbesar di dunia berdasarkan nilai.

“Fenomena ini menggambarkan bahwa pengembangan pertanian organik khususnya beras organik di Indonesia masih sangat besar,” ujar Haris dalam sebuah diskusi di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (11/4).

Haris menyatakan, luas lahan Usahatani beras organik sejak tahun 2015 di Indonesia berdasarkan Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) tahun 2016 terdiri dari lahan beras organik 1.753,7 ha, lahan beras dan sayuran organik 293,9 ha, dan lahan organik hasil konversi lahan sawah konvensional 5,9 ha. Total jumlah produsen adalah 17.468 (termasuk petani kecil dan perusahaan serta prosesor), naik 56% dari tahun 2014 (11.189).“Hingga kini, ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik dalam usahatani padi sangat tinggi, sehingga penggunaannya seringkali berlebihan,” katanya.

Hal ini terkait dengan respon tanaman terhadap penggunaan pupuk anorganik sangat cepat, nyata, dan didorong oleh adanya kebijakan pupuk murah melalui subsidi, terutama urea dampaknya saat ini terjadi penurunan produktivitas lahan sawah. Menurut dia, masalah penurunan daya dukung lahan sawah ini berdampak pada tingkat kesejahtraan petani padi nasional.

“Maka, salah satu usaha untuk menghambat degradasi daya dukung lahan adalah meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik, dan menghindari pencemaran lingkungan adalah dengan mengharuskan penggunaan pupuk organik dalam proses budidaya di lahan sawah produkti,” saran dia.

Haris mengungkapkan, Rumah SandiUno Indonesia akan mendorong pemerintahan Prabowo-Sandi untuk membuat program usahatani padi atau beras organik melalui program pengembangan model usahatani padi organik nasional, pengembangan teknologi pembuatan pupuk organik yang efisien dan efektif, dan kembali menerapkan pupuk organik bersubsidi nasional.

“Melalui pengembangan usahatani padi organik dan penggunaan pupuk organik pada lahan-lahan produktif sawah, maka akan terbuka lapangan pekerjaan sektor pertanian, terjadi peningkatan nilai tambah produk beras, dan peningkatan pendapatan petani padi nasional,” ujar Haris. (*/Dry)

Oleh: Ahmad ZR
indonesiainside


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau