Sweeper, Robot Pintar Pemetik Paprika

Inovasi Desa | DiLihat : 178 | Kamis, 11 April 2019 | 11:01
Sweeper, Robot Pintar Pemetik Paprika

Ketersediaan tenaga kerja di bidang pertanian masih menjadi masalah. Apalagi tenaga kerja di pertanian hidroponik dalam rumah kaca (green house) yang memiliki kondisi lembab dan bersuhu lebih tinggi dibandingkan di ruang terbuka. Pekerjaan ini  sangat tidak nyaman dan membosankan. Tidak heran jika ketersediaan tenaga kerja pertanian untuk pertanian dalam rumah kaca sulit diperoleh.

Tanpa mekanisasi lebih lanjut, produksi makanan rumah kaca kemungkinan besar akan bermigrasi keluar dari Eropa karena peningkatan biaya tenaga kerja, yang diperkirakan akan meningkatkan biaya 40?lam 10 tahun mendatang. Meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan tenaga kerja akan memastikan hasil produksi dan daya saing pangan rumah kaca terkemuka di Eropa.

Tidak hanya soal jumlah tenaga kerja. Biaya tenaga kerja yang semakin meningkat juga menjadi masalah. Diperkirakan akan meningkat 40 persen dalam 10 tahun mendatang. Oleh sebab itu pertanian rumah kaca modern di Eropa menuntut adanya otomatisasi tenaga kerja. Jalan keluarnya hanya satu; mengganti tenaga kerja manusia dengan robot. Peran manusia hanya sebagai pengawas.

Tanpa mekanisasi lebih lanjut, produksi makanan rumah kaca kemungkinan besar akan bermigrasi keluar dari Eropa. Jadi perlu untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan tenaga kerja agar hasil produksi dan daya saing pangan pertanian rumah kaca di Eropa tetap terjaga.Saat ini robotisasi tenaga kerja di Eropa telah memasuki tingkat kesiapan teknologi yang cukup tinggi. Apalagi Eropa ingin memegang peranan penting dalam teknologi robot di bidang pertanian. Untuk keperluan ini, enam institusi dari empat negara -Belanda, Belgia, Swedia, dan Israel-  bersama-sama mengerjakan sebuah proyek robotisasi.

Konsorsium ini meliputi organisasi riset fundamental dan terapan (Wageningen University & Research / Stichting Wageningen Research (Belanda), Universitas Umea (Swedia), Universitas Ben-Gurion (Negev, Israel), Proefstationvoor de Groenteteelt - PSKW (Belgia), B&A (Belgia) dan petani lada modern dari Belanda.

Dalam konsorsium, berbagai peneliti dari berbagai disiplin ilmu bekerja sama erat selama 3,5 tahun untuk menghasilkan robot pemanen komersial pertama. Masing-masing tim mengerjakan tugas tertentu seperti penginderaan (remote sensing), kecerdasan buatan (artificial intelegence), kontrol otomatis, arsitektur perangkat lunak, integrasi sistem, manajemen tanaman rumah kaca, dan tugas-tugas lainnya.

Para peneliti dari departemen teknik industri dan ilmu komputer dari Universitas Ben-Gurion memimpin pengembangan visi komputer dan algoritma perencanaan tugas untuk deteksi, lokalisasi dan klasifikasi kematangan buah. Kelompok ilmu komputer di Universitas Umea bertanggung jawab atas kontrol robot tingkat tinggi dan rekayasa sistem perangkat lunak. Algoritma pendeteksian kendala canggih dikembangkan oleh para peneliti di Wageningen Research Center yang juga bertanggung jawab mengoordinasikan proyek dan mengerjakan uji coba di rumah kaca.

Mereka bekerja untuk menghasilkan solusi yang mampu bekerja sebagai sebuah sistem integrasi. Aspek lain yang harus diperhatikan adalah kolaborasi erat dengan para ahli hortikultura dan petani rumah kaca.

Proyek yang diberi nama EU-FP7 CROPS melakukan penelitian serius soal robot pertanian. Salah satunya adalah Sweeper (Sweet Pepper Harvesting Robot), robot untuk memanen paprika dalam rumah kaca yang generasi pertamanya akan dilempar ke pasar. Proyek Sweeper ini baru saja selesai dikerjakan pada Oktober 2018 lalu.

Robot ini dirancang untuk beroperasi pada tanaman yang memiliki batang tunggal dan ditanam berbaris (tidak acak). Selain itu posisi buah tidak berkerumun dan memiliki daun yang tidak besar. Robot ditempatkan pada sebuah kereta yang dapat bergerak maju lurus secara otomatis dalam sebuah garis lurus. Setelah pekerjaan selesai, robot akan kembali ke area pengepakan untuk menyerahkan paprika yang dipanen.

Hasil uji coba pendahuluan robot memanen paprika matang dalam waktu 24 detik dengan tingkat keberhasilan 61 persen. Dalam salah satu uji coba di Proefstationvoor de Groenteteelt di Sint-Katelijne-Waver (Belgia) September 2018 lalu, robot mampu memanen 1 buah paprika kurang dari 15 detik. Kemampuan Sweeper ditunjang oleh sensor yang ditempatkan pada tangan robot. Sensor ini mampu membaca warna dengan tepat secara 3 dimensi.

Pada konferensi internasional tentang robot pintar di Madrid Oktober 2018 lalu, Sweeper telah diperkenalkan dan dipamerkan. Ini adalah robot pertama yang mampu memilih dan memetik paprika yang matang. Sweeper akan mengawali era baru pertanian di Eropa.

Pada awalnya SWEEPER memang dirancang untuk melayani tanaman dengan batang tunggal. Diperkiraan hasil tahunan di daratan Eropa dari tanaman semacam ini sebesar 1.300.000.000 kg. Namun, berikutnya teknologi ini dapat dengan mudah dimodifikasi untuk memanen hasil pertanian jenis tanaman yang berbeda di dalam rumah kaca.

Sweeper memang masih perlu disempurnakan agar dapat berkerja lebih cepat dan tepat. Namun performa terakhir telah menunjukkan kalau ia layak secara ekonomi dan teknis.

Tidak hanya itu. Sweeper juga telah membantu mengamankan peran Eropa sebagai pemimpin global dalam robot pertanian seperti yang disampaikan oleh koordinator proyek Sweeper, Jos Balendonck dari Universitas Wageningen, Belanda. ”Kami berharap dapat mengembangkan teknologi yang akan mencegah produksi makanan rumah kaca dari migrasi keluar dari Eropa karena kenaikan biaya tenaga kerja.” Namun menurut Balendonck, Sweeper masih perlu dikembangkan dengan menambahkan sensor yang dapat mendeteksi kandungan vitamin, tingkat kemanisan, umur simpan buah, dan mampu memberikan peringatan dini akan adanya penyakit tanaman. (555)

agronet


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau