Bukan Kuantitas Petani, Tapi Kualitas Petani 4.0

Ekonomi | DiLihat : 237 | Selasa, 09 April 2019 | 10:55
Bukan Kuantitas Petani, Tapi Kualitas Petani 4.0

Era disrupsi 4.0 memaksa peradaban menjadi pelari yang sangat cepat daripada yang lainnya, era ketika slogan “Siapa cepat dia dapat” patut untuk disematkan. Pendiri bangsa ini mengatakan bahwa masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Hal itu tentu akan menjadi pengingat bagi kita bahwa untuk mempertahankan suatu kehidupan kita tidak dapat dipisahkan dari yang namanya pertanian. Keberlangsungan sebuah bidang dalam menyokong kehidupan tergantung dari mampu tidaknya bidang tersebut menghasilkan sebuah manajemen risiko ketika bidang tersebut tidak dapat lagi bergerak. Dengan kata lain, orang-orang yang berkecimpung di dalamnya berkurang karena batasan umur ataupun hal hal lain yang tidak diduga. Sektor pertanian saat ini menjadi fokus perhatian pemerintah. Kementerian pertanian dalam sebuah artikel mengatakan, akan mempersiapkan sejumlah 1 juta petani milenial (merdeka.com, Januari 2019)

Menjadi petani merupakan pekerjaan yang mulia—secara filosofisnya seperti itu—tetapi ketika dihadapkan dengan realitas yang terjadi, khususnya di Indonesia, menjadi petani adalah pekerjaan yang tidak ideal dari segi ekonomi. Hal ini merupakan PR besar bagi pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian untuk menyiapkan pertanian masa depan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional. Berdasarkan hasil survei LIPI, hampir tidak ada anak petani yang ingin menjadi petani. Sekitar 4% usia 15-35 tahun berminat menjadi petani. Hal yang lebih mencengangkan, dari jumlah petani yang ada sebanyak 65% merupakan masyarakat usia 45 tahun ke atas. Sebuah musibah jangka panjang yang dialami Indonesia jika hal ini dibiarkan terus menerus. Namun, solusi menambah atau mengarahkan setiap anak muda menjadi buruh tani ataupun petani (yang langsung terjun ke sawah) adalah solusi yang keliru di era 4.0 ini. Jadi solusi bagaimana yang harus diambil?

Pengubahan paradigma pertanian di era 4.0 ini menjadi sangat penting, yaitu mengubah pertanian konvensional menjadi pertanian yang efisien dan efektif dengan menggunakan pendekatan teknologi informasi. Ketika pemerintah gagal menyiapkan generasi penerus di bidang pertanian dapat dikatakan bahwa 20 tahun yang akan datang pemerintah telah gagal menjamin keutuhan dan kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Pendekatan persiapan generasi pengelola pertanian era sekarang bukan dengan melahirkan sebanyak-banyaknya buruh tani yang langsung memanggul pacul dan menanam di sawah, tetapi dengan memastikan bahwa di suatu wilayah atau desa terdapat tenaga ahli (usia muda) yang mengerti cara-cara menggunakan drone dan manajemen farm-farm ataupun lahan-lahan pertanian. Ketika petani millenial itu mampu berlari di era yang memaksa kita untuk berlari, sebuah sektor pertanian impian dan berkelanjutan akan dirasakan oleh Indonesia 20 tahun yang akan datang.

ayobandung


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau