Menyemai Bibit Konservasi Sejak Dini di Sekolah Alam Leuser

Potensi Desa | DiLihat : 240 | Jumat, 05 April 2019 | 11:57
Menyemai Bibit Konservasi Sejak Dini di Sekolah Alam Leuser

Sekolah Alam Leuser di Dusun Kodam Bawah, Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, telah dibuka sejak setahun lalu. Lokasinya berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Sekolah ini didirikan oleh Yayasan Orangutan Sumatera Lestari - Orangutan Information Center (YOSL-OIC).

Pembina Sekolah Alam Leuser (SAL), Panut Hadisiswoyo mengatakan, saat ini ada 13 orang murid yang belajar di SAL. Sekolah ini setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekolah ini dibangun untuk masyarakat lokal di Bukit Mas, salah satu desa yang berdekatan dengan TNGL.

"SAL menggunakan Kurikulum 13 (K13) dalam pembelajaran. Para siswa tidak dipungut biaya untuk menimba ilmu di sekolah ini, mulai dari pendaftaran, buku, bahkan seragam sudah kita berikan dan akan diberikan lagi,” kata Panut, Selasa (2/4).

Dijelaskan Panut, pihaknya sengaja mendesain SAL dengan bambu dan terbuka sebagai langkah menghidupkan suasana alam. Gedung sekolah alami ini nantinya akan dibangun sejumlah fasilitas seperti sarana olahraga.

“Kita juga menyiapkan lahan 100 hektare untuk pembangunan sekolah dan laboratorium alam. Kemarin dari pemerintah menyebutkan, harus ada gedung permanen tidak seperti ini. Dan ini sebagai persyaratan sekolah dengan legalitas. Kita akan membuatnya di sini nanti,” ucapnya.

Ketua Yayasan SAL, Darsimah Siahaan menyebut, sekolah ini menerapkan pendidikan berbasis alam dengan kurikulum nasional. Alam sekitar dijadikan sebagai bahan ajar untuk memudahkan teori di dalam buku. Sekolah ini juga diperkuat dengan tenaga pengajar yang berkualitas.

Sekolah ini memiliki tiga prinsip, alam, alamiah, dan sosial. Setiap anak didik dikenalkan tentang alamnya, sekaligus mengasah bakat dan pengetahuan alamiahnya. Pihaknya juga memperkuat kemampuan bersosialisasinya, sehingga kemanapun dan akan menjadi apapun kelak, yang didapatkannya di SAL ini akan menunjang masa depannya.

“Pada awal dibuka 2018 yang lalu, terdiri dari 16 orang. Namun karena ada orang tua yang domisilinya pindah, akhirnya anaknya pun juga ikut. Dan kini tinggal 13 siswa,” ungkapnya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), Herbert Aritonang mewakili Kepala BBKSDA Sumut, Hotmauli Sianturi mengapresiasi berdirinya SAL.

Menurutnya, SAL ini dapat menjadi kebanggaan bagi masyarakat dan dia yakin dapat menjadi contoh. Menurutnya, SAL dapat menjadi cara untuk menyemai bibit konservasi sejak dulu dan harus dituliskan ke mana saja.

“Sekolah di sini tidak harus kerja di hutan. Tetap bisa menjadi TNI, polisi, bekerja di perbankan atau lainnya. Tapi nilai-nilai konservasi itu sudah tertanam. Karena dasar-dasarnya ada di sini. Konservasi itu ada tiga aspek, perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan,” tandasnya.

Untuk diketahui, begitu memasuki sekolah ini, hembusan angin begitu terasa dan pemandangan padang rumput di bekas kebun kelapa sawit terlihat menyegarkan mata. Bangunan sekolah berkonsep terbuka terbuat dari bambu dan beratap pelepah megah berdiri di tengah-tengahnya. 

Tersusun pula kursi bambu berjalin rotan dan meja kayu di dalamnya. Sebuah papan tergantung di atas bangunan tersebut berbentuk runcing bertuliskan In Memory Lucy Wisdom Classroom. Lucy Wisdom adalah orang yang berjasa dalam pendirian sekolah ini. [RN]

trubus


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau