Kopi Solok Radjo: Inovasi Milenial Demi Kesejahteraan Petani

Inovasi Desa | DiLihat : 201 | Senin, 01 April 2019 | 10:57
Kopi Solok Radjo: Inovasi Milenial Demi Kesejahteraan Petani

Kopi Solok Radjo semakin dikenal di kalangan penikmat dan pecinta kopi. Rasanya yang segar buah-buahan seperti lemon, sedikit manis, dan sensasi pahit tetap ada menjadi ciri khas kopi Solok Radjo.

Tak heran jika kopi ini menjadi buruan di banyak tempat. Bahkan, penikmat kopi di Amerika Serikat (AS) sudah membidik kopi Solok Radjo.

"Kami semua berangkat dari kesejahteraan petani kopi Solok yang tidak bagus dan harga kopi yang terlalu murah," kata Teuku Firmansyah, Bendahara dan Bagian Promosi/Penjualan Koperasi Produsen Serba Usaha (KPSU) Solok Radjo, dalam perbincangan dengan Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Petani menjadi tidak punya minat menanam kopi, Buat mereka, kopi tidak lagi menarik untuk dikembangkan dan akibatnya banyak pohon kopi yang ditebang.Teuku menyebut, sebelum para petani dibina, harga ceri merah (biji kopi selepas panen tanpa diproses) hanya Rp 2.000 per kg. Para pembeli ini pun memposisikan dirinya sebagai yang tidak butuh, petani yang membutuhkan mereka.

Bahkan, kata Teuku, saat panen raya, harga jual ceri merah itu bisa lebih murah lagi. Artinya, harga kopi ceri merah per kg hanya Rp 1,500. "Petani dapat apa?" kata Teuku yang saat ini berusia 33 tahun.

Untuk green beans (GB, biji kopi hijau) harga per kg antara Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu. Masih sangat murah harganya.

Green beans merupakan biji kopi hijau yang setelah dipanen diolah melalui beberapa metode. GB  ini untuk bisa dikonsumsi harus disangarai/dipanggang terlebih dahulu untuk kemudian menjadi beans (biji kopi siap konsumsi).

Situasi sulit ini berlangsung sejak sebelum tahun 2014. Teuku memaparkan ada beberapa persoalan mendasar yang menyebabkan harga kopi Solok Radjo murah dan petani tidak sejahtera.

Pertama, rantai penjualan yang begitu panjang. Hal ini membuat harga menjadi murah di tingkat petani dan mahal di tingkat pengecer.Kedua, standar produksi yang belum ada. Dalam hal ini, kualitas kurang baik. Kalau diproses baik pun harga tetap murah, dibeli oleh pedagang di pasar-pasar tradisional.

Ketiga, belum adanya branding kopi Solok itu sendiri. Dan terakhir, belum ada sebuah lembaga yang ikut berperan dalam mengedukasi secara teknis budidaya kopi agar produktivitas buah kopi baik juga.

Menjawab tantangan-tantangan ini, anak-anak muda Solok dimotori Alfadrian Syah (32 tahun), Teuku Firmansyah, Wiwin Sebagia (33 tahun), dan lain-lainya, menocba membuat beberapa upaya dan terobosan.

Salah satu cara yang paling cepat saat itu, kata Teuku, menjual langsung kopi Solok ke coffee shop. "Kami juga melakukan perbaikan kualitas pasca-panen,dan membuat beberapa varian produk," kata Teuku.

Mereka juga membranding produk kopi Solok agar mudah dikenal dan diingat. Tujuan lainnya, agar awarenees konsumen semakin tinggi atas kehadiran kopi Solok.

Langkah yang tak kalah pentingnya, Teuku menegaskan, mereka membentuk Koperasi Produsen Serba Usaha Solok Radjo. KPSU Solok Radjo saat ini diketuai Alfadrian Syah. Teuku mengatakan KPSU berdiri pada 2014 dan baru berbadan hukum pada 2016. Embrio awalnya, pergerakan pengembangan kopi Solok yang dimulai pada 2012.

"Karena semakin banyak yang bergabung maka pada 2014 kita sepakat membuat koperasi: Karena dengan berkoperasi semua bisa ikut dan mendapat kesejahteraan bersama juga," kata Teuku.
Solok Radjo Project

Terobosan dan inovasi yang dibuat KPSU ini pun berbuah manis. Harga ceri merah yang sebelumnya dibeli sangat murah, kini naik ratusan persen menjadi Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per kg.

Untuk harga GB yang tadinya tidak sampai Rp 40 ribu per kg, kini antara Rp 90 ribu sampai Rp 140 ribu per kg. Harga GB mengalami kenaikan sangat tinggi dibandingkan sebelum dikelola secara baik oleh koperasi yang dipimpin anak-anak muda berusia 30 tahunan ini.

Produksi kopi GB yang tadinya hanya 2-3 ton per tahun, kini menjadi 50-an ton per tahun. Memang, produksi ini masih lebih rendah dibandingkan tetanggap mereka, kopi Kerinci yang mencapai 600 ton per tahun yang memang sudah terlebih dahulu eksis dan dibina.

Merek kopi Solok Radjo pun semakin kuat. Produknya diburu tidak hanya di seputaran Solok, Padang, dan kota-kota lainnya di Sumatra, Kopi Solok Radjo sangat diminati di Jakarta dan luar negeri.Teuku bercerita, makin majunya kopi Solok menarik minat orang-orang untuk belajar tentang perkopian di tempat mereka. Maka, pada 2017 dibentuk Radjo Porject.

Radjo Project ini mencakup kegiatan bagaimana membudidayakan kopi yang baik dari mulai tanam, pasca-panen, dan hingga penjualan.  "Kita juga terlibat dan membantu penjualan tahap awal sehingga mereka bisa mandiri," kata Teuku.

Radjo Project ini bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Pemda dan LSM setempat. Proyek ini juga bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarkat agar produktivitas dan kesejahteraan petani meningkat.

Lahan kopi Solok Radjo saat ini mencapai 1.000 hektare dengan jumlah petani binaan ada 800 orang.  Dari total produksi, sebanyak 85 persen dijual ke luar negeri (ekspor) dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Ekspor ditujukan ke Amerika, Australia, dan Taiwan. Per tahunnya, Teuku menjelaskan, ada peningkatan hingga 75 persen terutama untuk 2019 ini. Koperasi bekerja sama dengan berbagai pihak dalam membuat bibit dan membagikan bibit kopi unggul.

Untuk lima Tahun ini, KPSU fokus pada perbaikan budidaya agar peningkatan produksi juga baik. Pada lima tahun kedua baru akan menambah dan membangun pasar lebih luas lagi.

republika
Oleh: Elba Damhuri



PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau