Efek Pestisida Ternyata Mengancam Petani Jadi Pikun

Ekonomi | DiLihat : 166 | Senin, 01 April 2019 | 10:39
Efek Pestisida Ternyata Mengancam Petani Jadi Pikun

Dampak efek samping dari penggunaan pestisida tanpa perlindungan standar akan mengakibatkan penyakit pikun atau cepat lupa mengancam para petani.

Oleh sebab itu, sebanyak 200 petani Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat telah mengikuti pengobatan dampak dari penggunaan pestisida di Balai Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Sabtu, (30/3).

Pengobatan dilakukan secara intensif melalui pendekatan penelitian yang dilakukan mahasiswa Fakultas Kedokteran Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Kedokteran Okupasi, Universitas Indonesia yang bekerjasama dengan RS Kebon Jati.Vicky Amalia dari Fakultas Kedokteran Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Kedokteran Okupasi, Universitas Indonesia, mengungkapkan, pihaknya secara bertahap telah mengambil sampel darah dari para petani. Sampel itu saat ini tengah diuji di laboratorium selama kurang lebih dua minggu. 

"Kami telah mengambil sampel darah 43 petani dengan rincian 23 petani balai pertanian dan 20 petani tanaman sayur. Sebelumnya, sudah ada 160 petani diambil sampel darahnya. Petani yang kami tangani di sini kisaran usianya 25 hingga 66 tahun," ujar Vicky.

Hasil dari penelitian tahap awal mengungkapkan, bahwa para petani yang tidak menggunakan alat pelindung standar saat melakukan penyemprotan pestisida terhadap tanaman harus terpapar dan merasakan efek samping dari penggunaan bahan kimia tersebut."Ada tiga sumber, yakni kulit, pernafasan, hingga oral (termakan melalui mulut)," katanya.

Menurutnya, jika petani tidak melakukan perbaikan dalam hal penggunaan pelindung seperti masker respirator maka efek samping pestisida bisa bedampak kepada otak. Salah satunya adalah penyakit cepat lupa atau pikun di usia 40 tahunan.

"Kami berharap para petani ke depannya mampu meningkatkan kesadaran diri akan pentingnya pelindung standar dan menjaga kebersihan. Selama ini saat memyemprot pestisida mereka hanya menggunakan topi, lengan panjang dan sepatu boot, serta masker biasa. Sarung tangan dan masker respirator tidak digunakan," terangnya.Sementara itu, Tatang (66), salah satu petani sayuran mengakui bahwa alat pelindung diri saat melakukan penyemprotan memang baru sekedarnya. Sehingga tak jarang Tatang merasakan efek samping seperti pusing saat menyemprot.

"Kalau lagi ada angin, semprotan pestisida terhirup. Jadi saya suka merasa pusing. Tapi itu sudah biasa," katanya. [NN]

trubus


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau