Hartanto dan Petani Kebumen Produksi Gula Semut untuk Pasar Eropa dan Amerika

Ekonomi | DiLihat : 278 | Selasa, 26 Maret 2019 | 12:26
Hartanto dan Petani Kebumen Produksi Gula Semut untuk Pasar Eropa dan Amerika

Jika Trubus Mania suka nongkrong di kafe-kafe kekinian dan memesan secangkir kopi, barista akan memberikan beberapa pilihan gula, gula putih dan merah. Gula putih, seperti yang kita kenal berasal dari tebu. Sementara, gula merah bersal dari gula kelapa atau biasa disebut gula semut.

Nah gula merah ini kini sedang populer di negara-negara Eropa. Karena gula merah diyakini lebih sehat dibanding gula putih.

Dan salah satu penghasil gula semut berkualitas ekspor ini adalah Kebumen. Produksi gula semut di daerah ini telah diekspor ke beberapa negara. Salah satu pebisnis gula semut itu adalah Hartanto Wicaksono. Bedanya dengan produk lain, gula semut Hartanto ditanam dan diproses secara organik.

Ia telah mengantongi Sertifikasi organik insternasional.Laki-laki ini sejak awal tahun 2014 telah menekuni bisnis gula semut. Saat itu ia mendampingi para petani gula di lima desa di Kebumen dan Banyumas telah memproduksi bahan baku gula semut. 

Namun mulai tahun 2015 sampai sekaran, ia bersama timnya memproduksi gula semut siap ekspor. Kenapa ia memilih menjadi pebisnis, bukan sebagai PNS seperti teman-teman sebayanya waktu itu?"Saya labih suka berusaha sendiri karena mempunyai waktu yang labih bebas, lebih bisa mengembangkan diri dengan berbagai ide dan gagasan, " katanya kepada Trubus.idIa memilih bisnis gula semut potensi produk ini di Kebumen cukup besar tetapi belum digarap secara baik. Apalagi sekarang pasar gula semut terus tumbuh.  Pasar luar negeri terus berkembang, terutama di Eropa dan Amerika

Sebagai pebisnis gula semut, ia tak hanya semata-mata mencari keuntungan material. Saat ini Hartanto juga melakukan tarining dan pendampingan kepada petani gula semut di Sempor Kebumen, Jawa Tengah.Dengan bisnis gula semutnya ini ia dapat membantu pemasaran gula kelapa petani lebih luas. Dalam bisnis ini ia melibatkan banyak pihak mulai dari petani, pengepul, kelompok tani, pelaku usaha gula kelapa lain. 

Produk gula semut produksinya diakui lebih berkualitas, dengan warna lebih cerah dan dengan proses organik.

Untuk sampai ke tahap ini, Hartanto harus mengalami banyak tantangan diantaranya harus mampu mendampingi dan melatih para petani secara terus menerus. "Selama ini petani, saat membuat gula cetak, menjalankan tehnik produksi yang kurang sesuai sehingga mempengaruhi kualitas produk. Misal kedisiplinan waktu menderes, kebersihan dn standarisasi peralatan, keorganikan kebun dan proses produksi, katanya."Pendamping secara berkala mendampingi petani saat ptoduksi. Memberikan pemahaman, mempraktekan dn memotivasi ke petani Agar sesuai SOP produksi, " tambahnya.Selain itu ia harus mampu bekerjasama dangan ekportir untuk memasarkan produknya ke Australia dan negara-negara Eropa dan Amerika.

Kedepan ia berencana melengkapi peralatan produksi, sehingga kualitas dapat ditingkatkan. Misalnya metal detector, alat cek kadar kekeringan dan gluten, magnet untuk sortir logam di produk. Sehingga ia bisa melakukan ekspor sendiriKepada generasi milenial, anakpanak zaman now yang ingin berbisnis, ia punya tips. Menurutnya kuncinya harus terus belajar. Bisa dari mana saja. Bisa lewat buku-buku teori, teman-teman yang berpengalaman, dan para pengusaha sukses 

"Bisnis produk pertanian peluangnya masih sangat besar. Permintaan dunia terus meningkat. Tantangannya seringnya di penjaminan kualitas. Makanya kalo terjun dibisnis ini selain menggarap pasarnya, juga harus disiapkan tim yang melakukan pendampingan. Jadi tidak hanya kontrol kualitas, tapi juga melakukan pembelajaran produksi, pengenalan tehnologi tepat guna, transfer informasi, dan penerapannya dipetani. Hulunya harus diperkuat, " tambahnya.

trubus.id


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau