Di Indonesia, Urban Farming Masih Sebatas Tren Lifestyle

Lifestyle | DiLihat : 674 | Senin, 25 Maret 2019 | 11:34
Di Indonesia, Urban Farming Masih Sebatas Tren Lifestyle

Kelangkaan pangan di kalangan masyarakat perkotaan semestinya bisa diatasi dengan urban farming atau pertanian dengan lahan sempit dan terbatas. Namun masalahnya, apakah di Indonesia urban farming sudah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan?

Jika dilihat lebih jauh, di negara-negara lain urban farming dapat memberikan manfaat terhadap kebutuhan pangan kota, tapi sayangnya di Indonesia masih sebatas tren gaya hidup. Tren tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Bahkan, pemerintah sendiri dinilai masih kurang serius menjadikan pangan sebagai isu utama. Pembahasan pangan hanya dilakukaan saat ada krisis dan jika itu terjadi solusi paling cepat yang diambil adalah impor.

Sebagai contoh program urban farming di tingkat daerah yang telah diterapkan di Kota Surabaya, Jawa Timur sejak 2010. Urban farming di Surabaya dilakukan dengan cara memberdayakan kelompok-kelompok tani. Melansir Republika, program urban farming selama ini disuarakan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di beberapa kesempatan.

Warga Surabaya diajak menanam buah-buahan, sayuran, dan padi di tanah milik pemerintah dan juga di lingkungan mereka masing-masing. Selain itu, Pemkot Surabaya pun memberi mereka benih dan peralatan gratis.

“Saat ini, padi yang mereka tanam di Surabaya tidak hanya beras putih, tetapi juga beras merah dan hitam,” ujarnya. Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya Presley mengatakan, urban farming yang digagas sejak 2010 itu dinilai mampu memberdayakan kelompok tani di Surabaya. Salah satunya di wilayah Kelurahan Sumur Welut, Kecamatan Lakarsantri.

Sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut bekerja di bidang pertanian. Mereka menerapkan urban farming dengan memanfaatkan lahan kosong untuk usaha berbagai jenis pertanian seperti bertanam padi, jagung, cabai, dan sayuran. Hampir 80 persen masyarakat di Kelurahan Sumur Welut memilih bertanam cabai dengan alasan jenis tanaman hortikultura ini dinilai lebih menghasilkan keuntungan dengan masa tanam yang relatif cepat.Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya Djoestamadji menuturkan, urban farming pada prinsipnya memaksimalkan lahan yang sempit sehingga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bercocok tanam, budidaya ikan, dan peternakan. Dinas Pertanian mendorong warga menerapkan urban farming dengan menanam di rumahnya masing-masing seperti tanaman cabai. Selain cabai, warga juga disarankan menanam sawi.

“Program ini akan berlanjut untuk mencapai ketahanan pangan warga Surabaya. Masyarakat Surabaya yang berminat melakukan pelatihan urban farming dapat mengajukan permintaan bibit tanaman kepada DKPP,” katanya.

pertanianku