Maya Stolastika Sukses Kembangkan Pertanian Organik dengan Pemasaran Terbalik

Lifestyle | DiLihat : 471 | Jumat, 22 Maret 2019 | 11:36
Maya Stolastika Sukses Kembangkan Pertanian Organik dengan Pemasaran Terbalik

Niat baik tak selalu mendapatkan respon yang baik. Itulah yang dialami perempuan Flores beberapa tahun silam. Sebagai petani organik, perempuan yang bernama Maya Stolastika Boleng ini pun berusaha mengajak warga di sekitar kampung Mligi, Pacet, Mojokerto Jawa Timur untuk menjadi petani organik.

Memang profesi petani sampai hari ini pun belum menarik perhatian generasi milenial. Karena bertani diangap profesi yang tidak menjanjikan, berbeda dengan para karyawan kantoran yang tiap bulan mendapatkan gaji yang tetap. Karena itu profesi petani dianggap lebih rendah. Mendapatkan penolakan dari warga, Maya yang mengelola kebun pertanian seluas 3000 meter persegi ini lebih fokus pada pekerjaanya. Ia menanam lebih dari 20 jenis tanaman dan sayuran, mulai dari selada bayam, kangkung, kacang merah, kacang panjang dan tanaman lainnya.Karena keberhasilannya mengelola pertanian organik, mengantarkannya sebagai Duta Petani Muda 2016. Dari event ini ia menyadari bahwa dirinya mengemban amanah untuk menginspirasi anak-anak muda agar seperti dirinya, menjadi petani.

Ia pun mulai mengajak lagi warga sekitar dan anak-anak muda yang tertarik menekuni bidang pertanian. Dengan usaha kerasnya, saat ini ia telah berhasil menginspirasi para petani di sekitarnya.

"Tujuan saya ada dua. Pertama mengedukasi mereka untuk menerapkan sistem pertanian organik secara benar di lahannya masing-masing. Kedua memberikan solusi kepada mereka untuk mendapatkan pendapatan harian. Karena selama ini mereka mendapatkan income hanya saat panen, " katanya kepada Trubus.id.Strategi Maya untuk menginspirasi warga di sekitarnya untuk bertanam organik berhasil. Saat ini telah terbentuk dua kelompok perempuan tani di Mojokerto dan Jombang. Masing-masing anggotanya 35 dan 50 orang. Sementara anak-anak muda yang telah berkomitmen untuk menjadi petani sebanyak 25 orang.

Dalam memasarkan produknya, Maya mempunyai strategi yang unik. Ia menyebutnya pemasaran terbalik. Maya tak menjual produk kebunnya ke hotel, restoran atau super market. Menurutnya hal ini bukan pasar yang ideal terutama untuk petani kecil.

Dengan berkembangnya teknologi, ia mulai memasarkan produknya secara online. Salah satunya dengan memakai akun Instagram @twelves.organic. Kebanyakan konsumen onlinenya berasal dari Surabaya."Online booming bukan karena tren saja, tapi tren pemasaran saat ini lebih langsung individu, "terangnya.

Namun pemasaran secara offline pun tetap jalan terus. Sasarannya langsung ke individu yakni para ibu rumah tangga. 

"Individu-individu ini nantinya akan menciptakan market sendiri. Misalnya satu rumah tangga belanja, mereka akan memengaruhi ibu-ibu lain untuk berbelanja. Pada dasarnya setiap orang kan ingin eksis, tambahnya.

Mengenai isu pangan organik yang lebih mahal, ia menolak. Menurutnya soal harga mahal ini sebenarnya hanyalah isu pasar yang menguntungkan pihak tertentu saja. Soal harga ini, menurutnya ini relatif. Perempuan ini mencontohkan, jika beli bayam di pasar biasa harganya sekian. Ketika dibawa pulang, harus disortir, sebagian dibuang dan yang dikonsumsi bisa jadi hanya 60-70 persen saja.

"Kalau beli organik di kita beli satu kilo, yang akan dikonsumsi tetap satu kilo karena produknya semuanya baik, tidak ada yang terbuang, "terangnya.
 
Ia optimis, semakin hari market sayuran organik semakin berkembang, karena bukan dirinya sendiri yang mencari pasar tapi konsumen yang ikut memasarkan.  

Kini Maya telah berhasil menginspirasi warga di sekitarnya untuk terjun ke dunia pertanian. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana caranya agar mereka tetap bisa bertahan dan bahkan berkembang.

Maya sekarang ini mengajarkan bagaimana menjual, mengajarkan manajemen usaha dan mengubah mindset bahwa pertanian mereka adalah sebuah bisnis.

Menjura.
trubus.id