Budidaya Ikan Air Tawar Ala Eko Riyanto, Hilangkan Bau Amis Lele dengan Probiotik Herbal

Inovasi Desa | DiLihat : 307 | Selasa, 12 Maret 2019 | 11:08
Budidaya Ikan Air Tawar Ala Eko Riyanto, Hilangkan Bau Amis Lele dengan Probiotik Herbal

SEMARANG - Bekerja sebagai wirausahawan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Pahitnya perjuangan sebagai wirausaha harus dilewati dengan gigih dan sabar. Cermat memilah, memilih serta mengambil keputusan menjadi salah satu kuncinya.

Begitulah kiranya petuah dari Eko Riyanto sang pengusaha budi daya ikan lele asal Semarang. Pria yang akrab dengan sapaan Eko tersebut adalah seorang yang ahli dalam kontruksi bangunan baja ringan.

Namun, di sela-sela waktunya, dirinya mengaku ingin membuat suatu hal dengan memanfaatkan beberapa lahan kosong di sekitar rumahnya. Saat ditemui di kediamannya, pria yang juga menjabat sebagai ketua RW 7 Kelurahan Pedurungan Lor, Pedurungan, Kota Semarang berkisah, pada masa kecilnya Eko kerap kali menggoreng jenis ikan-ikanan yang ada di kolam rumahnya. Kebiasaannya menggoreng ikan secara sepontanitas dimaksudkan sebagai lauk cepat saji. Berbagai jenis ikan air tawar seperti nila, mas, dan beberapa jenis lainnya memang dipelihara oleh keluarganya.

"Dulu memang saya sering tiba-tiba nyerok ikan, tak goreng buat makan. Gak tau kenapa punya kebiasaan gitu,"terang Eko, Minggu (10/3/2019). Lebih lanjut, kebiasaannya masa kecil tersebut tanpa dipungkiri mendarah daging hingga di kehidupannya semasa dewasa. Sebelum tahun 2017, ia beberapa kali mengikuti seminar dari satu daerah ke daerah lain mengenai budi daya ikan air tawar.

Beberapa kegiatan bertemakan tersebut hingga ke berbagai mancanegara ia kunjungi. Menurutnya, ia mempunyai sebuah harapan membuat suatu usaha yang berguna terhadap tingkat ketahanan pangan masyarakat.

"Memang niatan saya untuk meningkatkan ketahanan pangan warga, ya mulai dari keluarga yang saya contohkan kepada istri dan anak saya. Saya lihat banyak lahan kosong di sekitar rumah saya, tak coba ah budi daya ikan air tawar," ucap Eko.

Pada awal tahun 2017, laki-laki asli Semarang tersebut mulai mengaplikasikan keinginannya. Sempat beberapa waktu budi daya ikan nila, akhirnya Eko beralih ke ikan lele. 4 buah kolam terpal masing-masing berdiameter 2x2 meter dengan ketinggian 90 cm menjadi yang pertama. Keempatnya dibuat di samping rumah lamanya yang berada di depan rumah Eko yang sekarang.

Dalam 1 kolam, Eko menaruh bibit lele berukuran 3-7 cm sebanyak 2000 ekor. Bukan tanpa hambatan, beberapa bulan usahanya berjalan, ia pernah hampir gagal panen kala sebagian lele-lelenya mati. Eko juga sempat bingung karena usaha budi daya lelenya menimbulkan bau amis yang luar biasa.

"Pas kala itu masih manual banget apa adanya, bau amisnya sampai ke tetangga-tetangga. Dari situ saya tanya-tanya kepada banyak orang, banyak masukan dan akhirnya saya bedah teori lagi," ujarnya. Setelah itu, Eko meracik probiotik dari bahan-bahan herbal.

Beberap jenis bahan seperti kunir, bawang putih, kencur, jahe, temulawak, yakult diblander hingga halus disertai sedikit air. Bahan jadi kemudian diperes diambil air peresannya kemudian dicampur supertetra, daun pepaya, tetes tebu, dan didiamkan dalam sebuah wadah tertutup selama 14 hari setelah diberi aerator.

Probiotik jadi digunakan Eko sebagai penghilang bau amis sekaligus penambah kekebalan tubuh dengan cara disiramkan ke air kolam seminggu 2x. Tidak hanya itu, Eko Riyanto juga menggunakan mesin aerator 24 jam non stop yang berguna memompa udara lewat selang hingga ke semua bak kolam miliknya.

Ia juga memberlakukan sistem kedisiplinan dan kebersihan air kolam dengan cara, membuang air kolam sebanyak 10 persen dari ketinggian air sewaktu 45 menit sebelum makan pagi dan malam. Pada setiap minggunya, ikan lele milik Eko diharuskan puasa 1 hari yakni hari Sabtu dengan maksud memperbaiki pencernaan ikan.

Air yang digunakannya pun harus air yang berasal dari sumur lengkap dengan pencahayaan sinar matahari. Pada tiap bulannya Eko harus menyortir ikan dengan cara menempatkan ikan dengan besaran yang sama pada 1 kolam.

Hal tersebut dimaksudkan agar ikan tidak saling memakan satu sama lain. Lebih lanjut, teori sang budi dayawan ikan lele tersebut berhasil dalam meminimalisir gangguan selama pemeliharaan. Ikan lelenya akan panen pada tiap 3 bulan sekali sebanyak 200 kilogram tiap kolamnya.

Pada tiap kolamnya Eko mampu mengantongi keuntungan bersih hingga Rp 1 juta. "Memang gak terlalu banyak, namun bisa ditingkatkan dengan menambah kolam, yang penting teliti," ujar Eko. Melihat usahanya berhasil, Eko mengajak warganya di RW 7 untuk mengembangkan usaha bersama dengan membentuk sebuah kelompok.

Pada tahun 2018, kelompok usaha bersama budi daya ikan air tawar Rw 07 Kelurahan Pedurungan Lor, Kota Semarang terbentuk dengan nama "Mina Mukti". Dari 8 RT yang ada, 7 di antaranya bergabung. Kini Mina Mukti mempunyai kurang lebih 22 kolam dengan 13 kolam berada di depan rumah Eko, dan sisanya di kelola di masing-masing RT.

Semua bentuk operasional dikelola oleh kelompok sepenuhnya. Sebanyak 20 kolam dengan diameter 3x3 meter sedang dalam proses pengerjaan. Melihat perkembangan usaha kelompoknya maju, Eko mulai tergerak ke arah pemasaran.

Selain ia pasarkan secara original dengan harga Rp 22,000 perkilogram, ia bersama warga lain membentuk kelompok PKK yang diberi nama Eco Laras. Eco Laras yang terdiri dari ibu-ibu bertugas mengolah lele menjadi beberapa jenis masakan.

Mulai dari bakpao lele, sosis lele, lemper lele, keripik lele, stik lele, kerupuk lele hingga beraneka jenis olahan lauk pauk dari lele. Semua bagian lele dimanfaatkan tanpa membuangnya, seperti contoh stik lele yang terbuat dari tulang ikan.

Mina Mukti juga menyediakan sebuah kolam besar sebagai tempat terakhir manakala sepi peminat dan ikan lelenya melebihi ukuran konsumsi. Tempat tersebut kini menjadi wahana pemancingan yang tergolong cukup ramai.

"Kami rencana akan tambah jenis ikan ke ikan nila. Pun rencana memelihara cacing sutra sebagai makanan wajibnya," terang Eko. "Alhamdulillah berjalan baik, minimal sebagai cara untuk meningkatkan ketahanan pangan yang ekonomis. Syukur-syukur bisa menambah pendapatan masing-masing RT," pungkasnya. (Sam)

jatengtribunnews


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau