30 Ribu Hektare Lahan Kering Purwakarta Potensial Jadi Areal Padi Gogo

Ekonomi | DiLihat : 163 | Jumat, 08 Maret 2019 | 10:34
30 Ribu Hektare Lahan Kering Purwakarta Potensial Jadi Areal Padi Gogo

Sekitar 30 ribu hektare lahan kering yang ada di wilayah Purwakarta berpotensial menjadi areal pertanian padi gogo (huma). Data ini disampaikan oleh Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta yang juga mengatakan bahwa lahan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan, mengatakan dari 30 ribu hektare lahan itu ada yang milik masyarakat, ada yang bentuknya masih tegalan. Selain itu, ada juga milik perkebunan rakyat dan hutan rakyat. Namun, jika dimanfaatkan dengan baik, lahan tersebut cukup potensial.

“Kami ingin mendorong, supaya lahan kering itu bisa dimanfaatkan,” kata Agus, seperti dilansir dari Republika.

Ia menyebutkan, dari 30 ribu hektare, lahan yang telah dimanfaatkan baru 5.000 hektare. Lahan tersebut sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai ladang padi gogo. Jadi, setiap musim penghujan, ada penambahan luasan tanam dari lahan kering ini seluas 5.000 hektare.

Sementara, lahan yang masih berbentuk tegalan, yaitu seluas 9.500 hektare serta perkebunan dan hutan rakyat seluas 15.500 hektare. Jika tegalan, perkebunan, dan hutan rakyat itu bisa dimanfaatkan, terutama jadi areal padi gogo, maka hasilnya bisa optimal.

Agus melanjutkan, saat ini saja, hasil produksi lahan kering yang biasa ditanami padi gogo mencapai empat ton per hektarenya. Namun, khusus untuk padi gogo, bukan hanya soal kuantitas produksinya, melainkan juga soal kualitas dan rasanya.

“Rasa dari padi gogo ini sangat enak. Serta, kalau dimasak, meskipun dimakannya sedikit cepat mengenyangkan,” ujarnya.

Oleh karena itu, petani zaman dahulu lebih suka menanam padi gogo. Meskipun masa tanamnya cukup lama, yakni antara 6— bulan, kualitasnya sangat baik. Bahkan, padi gogo ini bagus untuk kesehatan. Terutama, yang lagi menjalani diet sehat.Selain bisa ditanami padi, lanjut Agus, lahan kering tersebut cocok juga untuk tanaman hortikultura. Misalnya, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar.

Sementara itu, Ateng (52 tahun) petani asal Desa Selaawi, Kecamatan Pasawahan, mengaku, lebih senang menanam padi gogo. Alasannya, karena padi gogo pemeliharaannya tidak sulit. Selain itu, nasi yang dihasilkannya dinilai jauh lebih enak ketimbang padi sawah.

“Karena sudah biasa tanam padi gogo, rasanya juga lebih enak dan mudah kenyang,” ujar pemilik lahan 0,5 hektare itu.

Untuk varietas, lanjut Ateng, dirinya memiliki yang lokalan. Sebab, varietas lokal banyak tersedia di kalangan petani serta harganya juga jauh lebih murah. Selain itu, padi gogo bisa ditumpangsarikan dengan tanaman lainnya seperti kacang tanah atau ubi kayu (singkong).


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau