BRG Berdayakan Perempuan untuk Pertanian Gambut Ramah Lingkungan

Ekonomi | DiLihat : 364 | Rabu, 13 Februari 2019 | 11:03
BRG Berdayakan Perempuan untuk Pertanian Gambut Ramah Lingkungan

Kebakaran besar yang terjadi pada tahun 2015 di beberapa provinsi di Kalimantan, membuat Badan Restorasi Gambut (BRG) mulai mengadakan pendekatan ke beberapa tokoh petani di desa-desa kunci. Kaum perempuan diberdayakan untuk edukasi pertanian ramah lingkungan di lahan gambut.

Pendekatan itu membuka kesadaran akan bahaya pembakaran lahan. BRG juga melakukan edukasi untuk pertanian yang ramah lingkungan. Salah satu petani yang ada dalam program inisiasi BRG adalah Theti Numan Agau. Theti menggalang upaya kolektif menjaga keseimbangan alam.

Sebelum menjadi petani binaan dari BRG, Theti mengelola lahan kecil tempat ia menanam padi. Setiap tahun, ia bisa panen 30 karung beras. Diakui, hasil panen hanya cukup untuk makan saja selama setahun.

Untuk lauk dan kebutuhan lain, Theti harus bekerja serabutan seperti menyadap karet dan mencari ikan. Hasil kerja serabutan ini juga terhitung lebih melelahkan dan hasil yang tidak menentu.

“BRG membuat Pelatihan Sekolah Lapang selama 10 hari. Di sana, kami diajarkan metode pertanian ramah lingkungan untuk menyuburkan lahan. Kami tidak lagi membakar lahan dan diajarkan untuk membuat pupuk alami,“ ujar Theti.

Melalui Sekolah Lapang dibangun Mini Demplot Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang dikelola para kader. Mereka membentuk kelompok pengelola demplot.

Kurang Disambut Pria

Di lahan demplot, Theti dan kelompoknya bertanam tomat, cabai, dan kacang panjang. Hasil ini diakui Theti mengalami kenaikan. Jika dulu, hasil pertanian hanya cukup untuk dimakan sendiri, ia sekarang mulai bisa menjual hasil pertaniannya dan mulai menabung.

“Dalam satu kelompok, ada 10 petani. Tadinya jumlah ini terbagi rata, yaitu lima pria dan lima perempuan. Namun usaha ini kurang mendapat sambutan dari petani pria. Saya mengubah komposisi kelompok menjadi 10 perempuan dan semua berjalan dengan lancar,” jelas Theti.

Dalam pendampingan masyarakat, BRG menyadari pentingnya peran perempuan dalam menjaga gambut. Sampai saat ini, ada 773 anggota kelompok perempuan yang telah didampingi oleh BRG.

“BRG menyadari pentingnya peran para perempuan dalam menjaga ekosistem gambut. Kami percaya bahwa jika perempuan diberdayakan, maka akan dapat mendorong perubahan besar dalam sikap dan perilaku melindungi,” kata Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.

Jumlah ini diharapkan dapat ditingkatkan seiring waktu. Selain pertanian, kelompok perempuan ini juga diberi keterampilan untuk meningkatkan nilai tambah/jual pada produk kerajinan anyaman yang dibuat dari rumput atau tanaman yang banyak tumbuh di lahan gambut. Para perempuan ini telah mampu membuat anyaman menjadi tas, topi, placemats, keranjang, tikar dan dompet yang siap dipasarkan.

“Kita tidak dapat bicara tentang ketahanan pangan, tentang generasi emas jika soal pemenuhan nutrisi di tingkat keluarga diabaikan. Perempuan-perempuan kader sekolah lapang di lahan gambut menunjukkan bagaimana mereka berjuang untuk itu. Larangan pembakaran dalam pertanian gambut dijawab dengan solusi PLTB yang berbasis pada kebutuhan nutrisi keluarga,” tambah Myrna.

Disadari atau tidak, gender dan lingkungan saling terkait. Ketika alam terkena banjir atau kekeringan, tsunami atau kebakaran, yang paling rentan menderita di antara mereka adalah perempuan.

Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) melansir bahwa orang yang mengungsi akibat perubahan iklim 80 persen adalah perempuan. Hal ini dikarenakan perempuan di seluruh dunia memiliki hak yang lebih sedikit.

Mereka juga lebih sedikit uang, dan lebih sedikit kebebasan sehingga pada saat-saat kehilangan yang ekstrem seperti bencana alam, perempuan sering menjadi pihak yang terpukul paling keras. Meskipun perempuan paling merasakan efek dari perubahan iklim, mereka memiliki peluang besar untuk berkontribusi melawan perubahan iklim.[PR/U-5]

beritasatu