Kreasi Sarjana Sastra di Pertanian Organik

Inovasi Desa | DiLihat : 206 | Selasa, 29 Januari 2019 | 11:33
Kreasi Sarjana Sastra di Pertanian Organik

Jepara: Ada setumpuk besar sampah di Desa Banjaragung, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang menebarkan bau tak sedap. Lalu, seorang perempuan bergelar sarjana sastra memanfaatkan tumpukan sampah itu menjadi bernilai dan bermanfaat.

Gunung telepong, demikian sebutan warga terhadap tumpukan yang berbau menyengat di RT 01 RW 03 Desa Banjaragung itu. Area itu merupakan tumpukan kotoran sapi. Makin lama, tumpukannya makin tinggi, kurang lebih setinggi 2,5 meter.Lalu kakak beradik asal desa tersebut membuat terobosan dengan memanfaatkan gunung telepong. Nur Kolis dan Risa Muhafariha menyulap lahan itu menjadi pertanian organik.Dua tahun berlalu, tak ada lagi tumpukan kotoran sapi di area seluas 200 meter persegi tersebut. Tak ada lagi bau tidak sedap. Yang ada, hanya pepohonan hijau. Ada rosemary, daun mint, cabai, kangkung, dan tomat.

"Semula lahan kosong itu milik orang tua kami, digunakan untuk membuang kotoran sapi. Jadinya menimbulkan bau tak sedap, jadi gunjingan orang. Kakak saya (Nur Kolis) senang di pertanian. Lalu saya ajak dia membuat pertanian organik," ujar Risa Mutafariha, yang menamatkan pendidikan sastranya di bangku Universitas Negeri Semarang itu, saat ditemui Medcom.id, Minggu, 13 Januari 2019.

Risa mengaku, semula, ia tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pertanian. Terlebih, latar belakang pendidikannya adalah sastra. Ia menyandang gelar Sarjana Sastra sejak 2015.

Sementara sang kakak gemar bercocok tanam. Meski hanya lulusan sekolah menengah atas, pengetahuan Nur Kholis tentang pertanian jauh lebih banyak ketmbang Risa. Pengetahuan Nur Kholis menurun dari orang tua mereka tang berprofesi sebagai petani. Setelah sepakat dengan Nur Kholis, Risa lalu mengajak kakaknya itu melakukan percobaan di satu petak sawah milik orang tua. Mereka coba-coba membuat pupuk dan pembasmi hama organik.

Mereka menggunakan bahan dasar berupa air seni hewan, kotoran, dan kedelai sisa panen. Mereka menguji coba hasil racikan itu ke sawah orang tua. Uji coba menemukan hasil.

Lalu mereka pun sepakat menggunakan lahan gunung telepong untuk menanam berbagai tanaman. Mereka menggunakan pupuk dan pembasmi hama organik pada tanaman mereka. Menurut Risa, pupuk dan pembasmi hama organik lebih ramah lingkungan. Ekosistem alam tak terganggu.

Pembasmi hama organik hanya mengusir hama, bukan membunuh. Sehingga rantai makanan dan ekosistem tetap seimbang. Untuk membuat pupuk, mereka menggunakan sebuah pondok bambu. Di pondok itu, bahan-bahan difermentasi menjadi pupuk. Pondok itu juga menjadi gudang pupuk.

Tiap pagi dan sore, Risa sibuk menyiram tanaman. Tiap tiga bulan sekali, ia mengganti tanah dan memberi pupuk. Bila musim hujan datang, Risa menyiram tanaman hanya pada sore hari. "Karena ini pertanian organik, jadi tanahnya lebih awet cukup tiga bulan sekali diganti atau ditambah,” ujar Risa.

Risa memetik hasil dari pertanian organiknya. Setiap pekan, ia mendapat penghasilan hingga Rp500 ribu dari penjualan tanaman. Beberapa pengepul sayur mendapat pasokan dari Risa. Begitu pula beberapa restoran di Bumi Kartini meminta pasokan sayuran dari pertanian tersebut.

“Kami tidak melayani penjualan bibit tanaman, justru malah kami bagikan gratis. Seperti bibit cabai kami semai sendiri kemudian kami bagikan gratis kepada warga,” kata putri ke tiga pasangan Sumito dan Maimunah.

Risa tak pelit ilmu. Ia berbagi pemikiran pada warga sekitar rumahnya. Beberapa warga mulai menerapkan sistem bercocok tanam ala Risa di halaman rumah masing-masing. Paling banyak, warga menanam cabai dan kangkung. Namun, mereka belum dapat menjual hasil kebun.

"Ya minimal bisa dikonsumsi sendiri. Jadi tidak perlu biaya untuk membeli cabai dan sayuran," ujar perempuan yang gemar fotografi itu. 

jatengmetrotvnews


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau