Kearifan Lokal Petani Magetan, Pakai Burung Hantu untuk Basmi Hama Tikus

Inovasi Desa | DiLihat : 410 | Selasa, 22 Januari 2019 | 09:51
Kearifan Lokal Petani Magetan, Pakai Burung Hantu untuk Basmi Hama Tikus

MAGETAN - Santosa (52) memastikan dua rumah-rumahan dari kayu diletakkan sedemikian rupa di depan rumahnya. Rumah-rumahan kayu tersebut berdiameter panjang 70 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm. Rumah-rumahan kayu tersebut disebut pagupon. 

"Ada sekat ruang di dalam dan kita lapis rumah ini dengan karpet untuk talang air biar kondisi di alam lebih gelap,” ujar warga Desa Purworejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur tersebut, Senin (21/01/2019). Tak lama kemudian Santosa membawa salah pagupon tersebut ke tengah sawah yang tak jauh dari rumahnya. Dari pantauan Kompas.com, tidak hanya Santosa yang menempatkan pagupon di tengah sawahnya.  Warga lain juga melakukan hal yang sama. Pagupon ditempatkan di atas tiang besi atau tiang bambu dengan ketinggian enam meter hingga sembilan meter.

Pagupon-pagupon tersebut berisi burung hantu yang akan membasmi tikus yang merusak sawah mereka.  “Di sini ada 36 pagupon tapi sebagian sudah roboh karena tiangnya dari bambu,” terang Santosa.  Dia bercerita, awalnya para petani di Desa Purworejo merasa resah karena serangan hama tikus. Pada 2009, hama tikus yang menyerang 50 persen persawahan warga membuat desa ini gagal panen.  Pada awalnya warga berupaya memberantas hama dengan cara memberi racun tikus. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan mahal. 

 “Satu kali meracun bisa keluar uang Rp 10.000. Sementara sehari harus tiga kali memberi racun,” kata Santosa, yang juga ketua kelompok tani Ngudi Makmur.  Dia kemudian memperkenalkan burung hantu untuk membasmi hama tikus di wilayahnya, karena burung itu merupakan predator alami yang masih melakukan perburuan di areal sawah pada malam hari.  "Setiap malam kita dengar suara krek-krek di sawah, artinya ada burung hantu yang suka memangsa tikus. Tapi tidak ada fasilitas untuk burung hantu bisa tinggal di area sawah,” ucap Santosa. Dengan berbekal uang sebesar Rp 100.000 dari kelompok tani Ngudi Makmur yang dipimpinnya, Santosa kemudian membuat satu pagupon dari kayu dan dipasang di tengah area sawah kelompok taninya. Dibutuhkan waktu dua bulan agar pagupon yang dipasang kelompok tani Santosa dihuni oleh burung hantu yang mengalami luka tembak di bagian sayapnya.

Setelah dirawat, burung hantu itupun akhirnya menetap di pagupon yang dibuat Santosa. Tak lama kemudian, ada dampak perubahan menurunnya serangan tikus pada lahan yang ada burung hantunya. Kelompok tani yang dipimpin Santosa kemudian menambah jumlah pagupon di sawah mereka secara swadaya. Kelompok tani lainnya di Desa Purworejo akhirnya juga mengikuti jejak kelopok tani Santosa dengan memasang pagupon. Untuk menjaga kelestarian burung hantu di Desa Purworejo, warga sepakat untuk melarang perburuan burung hantu di desa mereka. 

“Kita dorongnya ke peraturan desa, tapi prosesnya lama akhirnya kita minta himbauan kepada desa untuk melarang adanya perburuan burung hantu,” ucap Santosa. Sejak keberadaan puluhan pagupon burung hantu di Desa Purworejo hasil panen petani terus mengalami kenaikan. Langkah petani Desa Purworejo akhirnya juga diikuti oleh para petani dari desa lain. “Kita memang tidak bisa menghilangkan tikus, tapi dengan burung hantu setidaknya padi yang rusak tidak sampai 10 persen,” katanya. Program 100 Pagupon Keberhasilan kelompok tani Ngudi Makmur dan kelompok tani lain di Desa Purworejo mengendalikan hama tikus dengan burung hantu pun terdengar ke telinga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan. 

Pada 2011 Pemkab kemudian memberikan bantuan 100 pagupon ke sejumlah kelompok tani di sejumlah kecamatan yang lahan sawahnya di ganggu tikus untuk dikelola. Hal itu dilakukan setiap tahun sampai saat ini. Baca juga: Populasi Burung Hantu Meningkat, 45 Kandang Baru Akan Dibangun   Suradi, Kasi Perlindungan Tanaman Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPH-PKP ) kabupaten Magetan mengatakan, dari data tahun 2016 lahan pertanian di Kabupaten Magetan mencapai lebih dari 55.000 hektar dengan hasil produksi padi mencapai 337.000 ton lebih. “Program pagupon burung hantu mampu mengendalikan hama tikus secara alami.

Program ini juga berhasil menekan penggunaan racun tikus yang berbahaya bagi kesehatan,” ujarnya. Suradi menambahkan, pada tahun 2019 Pemkab Magetan kembali membagikan 100 pagupon burung hantu di 14 kecamatan dari 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Magetan. Saat ini terdapat 500 pagupon di 14 Kecamatan di Kabupaten Magetan. Dari 500 pagupon, diperkirakan populasi burung hantu yang menempati pagupon mencapai lebih dari 300 ekor. “Jumlah pagupon saat ini diperkirakan lebih dari 500 buah dan hampir 60 persen terisi burung hantu,” imbuhnya. Pemkab Magetan sendiri berencanan akan memasang pagupon di setiap 12 hektar lahan sawah untuk memaksimalkan keberadaan burung hantu untuk mengendalikan hama tikus tanpa menggunakan racun dan bahan kimia berbahaya.


Penulis : Kontributor Magetan, Sukoco
Editor : Aprillia Ika
kompas


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau