Seperti Inilah Wujud Pertanian Di Masa Depan

Inovasi Desa | DiLihat : 219 | Kamis, 03 Januari 2019 | 09:25
Seperti Inilah Wujud Pertanian Di Masa Depan

Di masa kini, pertanian tidak lagi identik dengan sawah dan ladang yang becek. Lagi-lagi teknologi berhasil menciptakan bentuk pertanian modern, yang disebut dengan indoor farm.Seperti istilahnya, pertanian di tempat tertutup tidak mengharuskan Anda turun ke sawah yang berlumpur. Tak perlu juga berkutat dengan sinar matahari dan kerbau untuk membajak.

Pertanian yang sering dianggap kuno dan tradisional, kini menjadi sebuah pekerjaan yang begitu modern dan kaya akan sentuhan teknologi. Dengan indoor farm, bertani bahkan bisa dilakukan di gedung-gedung tinggi.

Indoor farming adalah salah satu jenis pertanian vertikal. Alih-alih di ladang yang luas dan becek, indoor farming bisa dilakukan di banyak tempat. Mulai dari basement apartemen, truk kontainer, atap rumah, sampai di luar angkasa.

Model pertanian indoor farming ada macam-macam. Mulai dari hidroponik (di atas air), akuaponik (di atas kolam ikan), ataupun aeroponik (di udara). Sementara, tekniknya mengandalkan teknik controlled-environment agricultural (CEA). Mulai dari suhu, kelembapan, hingga cahaya harus dikontrol dengan ketatnya.

Dengan indoor farm, tak ada istilah gagal panen karena cuaca. Hujan terus-terusan tak masalah, dan climate change yang menyebabkan iklim tak karuan juga bukan ancaman. Di negara-negara besar seperti Amerika, Jepang, dan Singapura, indoor farm sudah menjadi alternatif pertama. Produk yang dihasilkan pun tak kalah hebat dari pertanian biasa.

Di Singapura, indoor farm menghasilkan 54 ton sayuran setiap tahunnya. Sementara di Indonesia, meski sudah banyak indoor farm, belum ada yang menjadi industri besar. Petani yang selalu dianggap mengandalkan intuisi dan membacai pertanda alam, kini kental sentuhan teknologi. Di Amerika, ada software khusus untuk menjalankan indoor farming.

Beberapa pakar berpendapat, hasil dari indoor farming ini lebih baik dari pertanian organik. Terutama aKuaponic, yang tidak bisa memakai bahan kimia tambahan kalau tak mau ikan di bawahnya mati. Meski tidak perlu punya sawah ataupun pengairan, biaya untuk indoor farm ini sangatlah besar. Seperti indoor farming di Oakland, biaya listrik per bulannya mencapai US$4.000.Selain itu, indoor farm juga dinilai menghasilkan lebih banyak gas CO2 daripada pertanian di sawah. Karena inilah, hingga sekarang indoor farm masih dalam perdebatan. Sisi negatif lainnya, indoor farm memberi kesempatan untuk penanaman diam-diam tumbuhan terlarang. Seperti beberapa kebun ganja di California.

Populasi dunia diperkirakan mencapai 8,5 miliar per 2030 nanti. Semakin banyak orang perlu makanan, semakin urgen pula soal pertanian. Menilik semakin banyaknya gedung bermunculan, bukan mustahil puluhan tahun ke depan kita tak punya lahan lagi. Kalau sudah begini, indoor farm jadi satu-satunya solusi.

pertanianku


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau