Bioindustri di Minahasa Solusi Usaha Tani

Inovasi Desa | DiLihat : 575 | Kamis, 20 Desember 2018 | 10:56
Bioindustri di Minahasa Solusi Usaha Tani

Jakarta - Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) mengembangkan program bioindustri integrasi tanaman jagung dan ternak sapi. Balai Peneltian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulut pun memperkenalkan teknologi kandang sapi dan pengolahan limbah ternak untuk tanaman untuk mendukung program yang berlangsung di Desa Kembuan, Kecamatan Tondano Utara tersebut.

Kepala BPTP Balitbangtan Sulut, Dr. Ir. Yusuf, MP, dalam keterangan tertulis, Kamis (20/12), menyampaikan, kegiatan ini adalah program yang diusung oleh Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) dan diimplementasikan oleh BPTP di 33 provinsi di Indonesia.

Menurut Yusuf, program bioindustri ini sangat mendukung suaha tani dan ternak karena keduanya saling menunjang. Pasalnya, output dari satu subsistem akan menjadi input subsistem lainnya.

Lebih lanjut Yusuf menyampaikan, dari hasil yang dilakukan tim kerja kegiatan ini dapat dilihat yakni bagaimana rancangan kandang pemeliharaan ternak dan pengolahan limbah secara simultan serta menghasilkan pupuk padat dan cair dan sudah diimplementasikan petani dalam usaha tani jagung.

Yusuf berharap agar tim kerja dalam kegiatan ini harus optimal mendampingi petani. "Sehingga tujuan kita untuk menjadi solusi bagi permasalahan petani, terutama dalam kelangkaan pupuk dalam usaha tani dapat diatasi dengan mengajak petani menggunakan olahan pupuk dari kegiatan bioindustri ini. Dengan demikian, kita mengambil peran dalam kemandirian ekonomi petani," ujarnya.

Sementara itu, peneliti peternakan Ir. Derek J. Polakitan, MSi., menjelaskan, penanganan limbah dalam kandang secara tepat dan benar menjadikan kotoran (feses) cair dan padat dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman serta dapat mengatasi permasalahan bau tidak enak dalam kandang dan petani mendapatkan sumber pendapatan baru dari feses itu.

Lebih lanjut Polakitan menjelaskan, dalam pendampingan, petani harus terus diajarkan agar konsisten dan trampil mengolah feses padat dan cair dari sapi. Menurutnya, saat ini petani sudah menghasilkan pupuk cair dan padat dan sudah melakukan pengemasan sehingga pupuk siap dipasarkan.

Hasil dari kotoran ternak ini setelah diolah sudah digunakan petani dalam kegiatan usaha tani. Biaya usaha tani dari unsur pupuk sudah dapat ditekan. Petani semakin terampil dalam mengolah limbah ternak ini dan mereka mempunyai sumber pendapatan baru.

Masih menurut Derek, hasil dari olahan feses dalam kegiatan bioindustri di Kembuan, Tondano, sudah digunakan kelompok tani di Minahasa Utara (Minut) untuk tanaman padi, jagung, dan bawang merah. Tanaman tersebut telah dipanen beberapa waktu lalu bersama gubernur Sulut.

Adapun kegiatan pendampingan pada kegiatan bioindustri yang dilakukan peneliti peternakan saat melakukan pengolahan pupuk pada Selasa (18/12) juga dihadiri oleh tim embrio ternak Cipelang, Bogor, yang melakukan supervisi hasil IB para inseminator Minahasa di kelompok Makaaruyen. Pasalnya, kelompok Makaaruyen sebagai pelaksana bioindustri dan juga ternak mereka masuk dalam kegiatan Siwab.

gatra


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau