Indonesia Harus Contoh Pertanian Modern di Jepang

Inovasi Desa | DiLihat : 906 | Kamis, 13 Desember 2018 | 10:48
Indonesia Harus Contoh Pertanian Modern di Jepang

Jepang adalah salah satu negara maju di Benua Asia. Selain terkenal dengan industri otomotif dan animasinya, Jepang juga sangat dikenal dengan industri pangan dan pertaniannya. Pertanian modern di Jepang sudah tersohor karena mempunyai sistem kerja yang baik.Pemerintah Jepang menerapkan empat pilar pembangunan pertanian yang salah satunya adalah Farm Size Expansion. Kebijakan ini bertujuan agar kepemilikan lahan pertanian semakin bertambah dari empat hektare menjadi 15—20 hektare untuk setiap keluarga petani.

Kemajuan pertanian Jepang juga bisa dilihat dengan berkembangnya sistem pertanian urban. Bahkan, kini pertanian urban di Jepang menjadi andalan untuk memasok produk-produk pertanian yang segar, sehat, dan cepat di seluruh dunia.

Indonesia, meskipun dikenal sebagai negara agraris, pertanian di Indonesia belum bisa bersaing dengan negara Jepang. Kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadi modal utamanya untuk bisa bersaing.

Lalu, apa yang perlu ditiru Indonesia dari Jepang untuk membentuk pertanian yang unggul?

Menurut beberapa sumber, ada beberapa hal yang membuat pertanian di Jepang maju. Pertama karena tingginya dukungan pemerintah di bidang pertanian. Ini yang belum kita rasakan di negara kita. Bukan berarti selama ini pemerintah tidak mendukung, hanya saja dukungan yang kita rasakan selama ini serasa masih kurang.

Pemerintah diharapkan mengontrol harga produk pertanian. Bahkan, untuk urusan penetapan harga, pemerintah Jepang juga ikut campur tangan. Mungkin semacam Bulog kalau di Indonesia. Nah, lembaga ini akan membeli hasil pertanian para petani dan mengendalikan harga supaya layak bagi masyarakat.

Kalaupun ada pihak swasta yang hendak membeli hasil pertanian dari para petani, maka harganya pasti lebih rendah dari pemerintah. Dengan begitu, tidak ada istilah petani dirugikan tengkulak.Selain itu, petani diizinkan memiliki lahan pertanian yang luas. Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, lahan pertanian di Jepang sangat didukung pemerintah. Tidak heran jika satu petani saja bisa memiliki lahan 7—10 hektare. Ketika seorang petani ingin mewariskan lahan pertaniannya kepada generasi penerus, ia hanya bisa mewariskan lahan tersebut kepada satu anaknya.

Di sana juga menerapkan penggunaan teknologi tinggi. Perkembangan teknologi di Jepang juga berimbas pada industri pertaniannya. Seperti yang kita tahu, walaupun para petani di Indonesia sekarang sudah jarang ada yang membajak sawah dengan sapi atau kerbau, namun jika dibandingkan Jepang, teknologi pertanian kita masih tertinggal jauh.

Hampir semua proses pertanian, mulai dari membajak, menanam, memupuk dan sebagainya menggunakan mesin-mesin canggih. Hal tersebutlah yang memungkinkan satu orang petani dapat mengurus lahannya yang berhektare-hektare.

Etos kerja Negara Jepang juga sangat tinggi. Jangan kita pikir karena orang Jepang menggunakan mesin pada setiap proses pertaniannya, mereka menjadi malas. Bertani di Jepang bahkan menerapkan jam kerja seperti halnya jam kerja kantor. Satu orang petani biasanya akan memiliki sejumlah karyawan untuk membantunya mengurus lahan berhektare-hektare tersebut.

Jam kerjanya pun ditentukan dengan disiplin dan mengikuti jam kerja pada umumnya, yaitu 8 jam per hari. Bahkan, tidak heran jika ada karyawan yang hanya tidur 4 jam sehari. Hal ini karena biasanya karyawan tersebut mengambil jam lembur.

Di bidang pertanian, jam masuk yang umum adalah jam 2 pagi dan akan selesai pada jam 11 atau jam 12 siang. Sementara, mereka yang lembur akan beristirahat sejenak setelah jam 12 siang dan melanjutkannya lagi sampai jam 5 sore.

pertanianku