Perihal Inpres serap karet dari petani, aosiasi pesimistis

Ekonomi | DiLihat : 288 | Senin, 10 Desember 2018 | 11:27
Perihal Inpres serap karet dari petani, aosiasi pesimistis

JAKARTA. Harga karet rakyat terus mengalami penurunan. Padahal, Presiden sudah mengeluarkan instruksi agar semua pihak membeli karet rakyat untuk pembangunan aspal. Namun, asosiasi petani karet menilai arahan tersebut tidak akan efektif untuk membantu memperbaiki harga karet.

Ketua Asosiasi Petani Karet Lukman Zakaria menyampaikan, harga karet rakyat di Sumatera Selatan, sudah tidak berharga. "Sempat Rp 6.000 per kilogram dan sekarang sudah habis turun terus dan tidak ada harganya lagi," kata dia saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (7/12).

Asal tahu, akhir November lalu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan siap melaksanakan instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) membeli karet dari petani untuk digunakan sebagai bahan campuran aspal karet. Namun demikian, Lukman mengeluhkan, komitmen tersebut sebenarnya pernah diutarakan lima tahun lalu dan tidak pernah ada pemesanan hingga sekarang.

Padahal mengutip pemberitaan Kontan sebelumnya, penggunaan aspal karet untuk pengaspalan jalan sudah dilakukan Kementerian PUPR di beberapa lokasi termasuk di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel). Adapun kelebihan campuran aspal karet alam yakni meningkatkan kualitas perkerasan aspal dalam hal usia layanan dan ketahanan terhadap alur.

Kemudian dikatakan bahwa pada tahun 2018-2019, Kementerian PUPR melaksanakan preservasi Jalan Muara Beliti – Tebing Tinggi – Lahat sepanjang 125 km dengan anggaran sebesar Rp 30,55 miliar. Dari total panjang tersebut, terdapat 5,3 km yang menggunakan aspal karet dengan ketebalan 4 cm.

"Ngga ada realisasi nya, katanya ada juga bakal beli 1,5 juta ton untuk bantalan anti gempa, tapi saya tidak lihat. 3 juta petani karet kita terlantar," katanya.

Terkait program pemerintah ini, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia ( Gapkindo) Moenardji Soedargo menyatakan hal tersebut bisa menjadi pendorong penyerapan dalam negeri.

"Itu bagus untuk penciptaan segemen baru dari sisi konsumsi. Start yang baik, dapat memberi efek psikologi pasar yang positif," jelasnya.

Apalagi penggunaan karet dalam negeri masih relatif kecil. Dalam catatan Gapkindo di situs resminya, produksi karet alam Indonesia tahun 2017 mencapai 3,63 juta ton. Sebanyak 629.800 ton dimanfaatkan industri dalam negeri, sementara 3,28 juta ton lainnya diekspor ke mancanegara.Perkiraannya, di tahun 2018, produksi akan mencapai 3,74 juta ton. Namun ekspor diperkirakan bakal turun. "At least 10%," kata Moenardji.

Adapun akibat lesunya perekonomian global, harga karet dunia terus mengalami penurunan. Mengutip informasi Bloomberg, harga karet bursa Tokyo Commodit Exchange untuk kontrak perdagangan Mei pada penutupan pekan ini di harga JPY 163,2 per kilogram. Padahal di awal tahun harganya mencapai JPY 206,7 per kg.

Oleh karena itu, pemerintah tidak mendorong iklim penyerapan dalam negeri, maka harga karet di tingkat rakyat bakal makin tertekan seiring penurunan harga global.

kontan


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau