Murah dan bergizi tinggi, ulat kandang jadi pakan alternatif

Peluang Usaha | DiLihat : 215 | Jumat, 30 November 2018 | 11:25
Murah dan bergizi tinggi, ulat kandang jadi pakan alternatif

Jumlah penggemar burung kicau di tanah air makin meningkat. Hal ini ternyata  juga membawa peluang usaha bagi peternak hewan lain, yaitu peternak ulat kandang.

Selama ini, ulat kandang memang dikenal sebagai pakan burung kicau dan hewan ternak. Kebutuhan ulat kandang setahun belakangan meningkat cukup pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Permintaan ulat kandang memang makin banyak karena banyak peternak yang mulai pakai untuk pakan ternaknya. Dulu waktu awal budidaya, pelanggan saya hanya dari peternak burung kicau," ujar Umar Hamzah, peternak ulat kandang asal Malang, Jawa Timur.

Ia mengatakan bahwa saat ini para peternak lele maupun ayam sudah mulai beralih ke ulat kandang untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya. Menurutnya. harga ulat kandang lebih murah dibanding harga pakan ternak yang diproduksi dari pabrik. Selain itu, kandungan protein ulat kandang juga tinggi.

Umar membanderol ulat kandang dengan harga beragam, mulai dari Rp 30.000 - Rp 40.000 per kilogram (kg). Harga tersebut tergantung seberapa banyak pelanggan membeli ulat kandang. Semakin banyak jumlah pembelian, maka harganya bisa semakin murah.

"Itu harga eceran, kalau yang beli pengepul pakan burung atau pakan ternak, biasanya saya jual Rp 25.000 per kg karena mereka pesan bisa sampai 10 kg. Nanti sama mereka dijual dengan harga dua kali lipat," kata Umar.

Dari beternak ulat kandang, Umar bisa mengantongi omzet hingga Rp 25 juta saban bulannya. Ia memasok para pengepul pakan ternak dari sekitar Malang, Blitar, Tulungagung, Surabaya, dan Kediri. Tahun ini, ia mengatakan, omzetnya meningkat 30% karena permintaan juga meningkat. "Sebenarnya tiap tahun pasti ada peningkatan, tapi tahun ini peningkatannya lumayan banyak dibanding tahun sebelumnya yang sekitar 10% - 20%," kata Umar.

Permintaan ulat kandang yang makin banyak juga diakui oleh Dwi Pujianto, peternak ulat kandang asal kabupaten Tuban. Ia juga menjual bibit ulat-ulat yang siap jual tersebut kepada para pengepul ulat dengan harga antara Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per kilogramnya. Kemudian para pengepul akan menjual lagi ke para peternak.

"Dalam sebulan satu wadah bibit ulat kandang bisa tiga kali panen. Rata-rata sekali panen beratnya sampai dua puluh kilogram ulat," katanya. Pujianto bilang permintaan bibit ulat kandang meningkat sampai 20% khusus tahun ini. Ia mengakui jika peminat ulat kandang makin banyak karena kebutuhannya juga makin banyak. 

Sekali bertelur, indukan ulat menghasilkan ratusan telur
Ulat kandang yang punya nama latin  lesser mealworm merupakan salah satu jenis ulat yang digunakan untuk pakan tambahan bagi burung kicau. Karena tinggi protein, ulat kandang bermanfaat untuk menambah nutrisi dan stamina burung kicau.

Sebenarnya ulat kandang merupakan larva dari kumbang alphitobius diaperinus. "Kumbang alphitobius itu biasanya kami sebut kutu frenki. Kutu itu bisa jadi hama buat ayam karena bawa penyakit. Tapi larvanya bisa dimanfaatkan buat pakan ayam," jelas Dwi Pujianto, peternak ulat kandang asal kabupaten Tuban.

Kumbang  sendiri juga memiliki fase metamorfosis layaknya kupu-kupu dan lalat. Dalam proses metamorfosa, bagian yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan burung kicau dan ternak adalah saat berbentuk larva.

Pujianto menjelaskan secara singkat teknik budidaya ulat kandang. Pada awalnya, ia mebuat kotak-kotak papan berukuran 40 x 100 centimeter (cm). Sebagian kotak untuk induk ulat dan bagian lainnya untuk anakan ulat kandang.  Kotak itulah yang menjadi kandang.

Kemudian, dalam kandang ternak yang telah disiapkan, diberi media berupa polar. Bentuk polar menyerupai dedak, berasal dari gandum yang telah dihaluskan. Dalam satu kotak diberi polar kira-kira sebanyak 5 kilogram (kg) dan di atas polar diberi sabut kelapa.

Alas kandang sendiri bisa berupa sabut kelapa atau juga bonggol jagung. "Dua media itu yang biasa dipakai untuk kandangnya. Supaya ulat bisa berkembang sehat, ditaruh di tempat bersuhu ruangan. Kalau di luar ruangan bisa banyak ulat yang mati," jelasnya,  

Hal serupa juga dilontarkan Umar Hamzah, peternak ulat kandang asal Malang. Ia mengatakan jika sebaiknya kotak-kotak yang berisi ulat kandang disimpan di dalam ruangan tertutup. Namun harus tetap terkena udara dan cahaya yang cukup.

"Kalau terlalu panas dan banyak cahaya, ulat bakal mati karena tidak kuat. Jadi harus di dalam ruangan tapi tetap kena cahaya secukupnya," katanya. Ia pun mengingatkan jika peternak harus rajin mengontrol ternak ulat kandangnya.

Baik Umar maupun Pujianto sama-sama mengatakan apabila anakan ulat kandang bisa dipanen saat berumur 15 - 20 hari. Dan butuh waktu sekitar 12 - 14 hari agar induk ulat bisa bertelur. Dalam sekali bertelur, biasanya induk ulat menghasilkan ratusan telur.

"Setelah telur berusia 10 hari harus dipisahkan dari kotak induknya dan ditempatkan di media pertumbuhan anakan ulat. Cara memisahkan memakai ayakan. Setelah dipisahkan, biasanya induk ulat bisa bertelur lagi," jelas Umar.

Sedangkan untuk pakan, Pujianto mengatakan bahwa pakan ulat kandang sangat mudah dan murah didapat. Ia bilang beberapa jenis pakan yang bisa diberikan yaitu berupa pepaya mentah, ubi, dan bengkoang. "Ada juga yang kasih nutrisi tambahan supaya ulat kandang tumbuh sehat dan gemuk. Biasanya nutrisi tambahan berupa konsentrat," tandasnya.         

kontan


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau