Generasi Milenial Mulai Tertarik Sektor Pertanian

Ekonomi | DiLihat : 159 | Selasa, 27 November 2018 | 11:04
Generasi Milenial Mulai Tertarik Sektor Pertanian

JAKARTA — Generasi Milenial mulai tertarik terjun ke sektor pertanian dengan meningkatnya jumlah mahasiswa yang mendaftar dari 980 pendaftar pada 2013  menjadi 13.111 pendaftar pada 2018. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Momon Rusmono mengatakan  minat generasi milenial terhadap pendidikan sektor pertanian meningkat 12 kali lipat atau 1.237 % yaitu dari 980 pendaftar pada 2013  menjadi 13.111 pendaftar di  Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) pada 2018. Salah satu meningkatnya minta dikarenakan transformasi Sekolah tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) menjadi Polbangtan yang dirancang untuk mencetak milenial tani profesional.

Momon pun mengklaim para lulusan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru atau memiliki sertifikasi internasional untuk dapat bekerja di perusahaan Multinasional. Adapun jumlah kelulusan petani milenial hingga 107%. 

“Peningkatan signifikan ini terlihat dari total 977 lulusan sejak 2011-2014 menjadi 2.026 lulusan yang tercatat dari tahun 2015-2018 di STPP yang kini bertransformasi menjadi Polbangtan,” katanya dalam siaran resmi, Senin (26/11).

Selain mencetak lulusan, Momon mengklaim lembaga yang dikelolanya juga menghasilkan sumberdaya manusia untuk membangun wirausaha. Kewirausahaan milenial tani, lanjutnya meningkat hingga 103% dari 500 kelompok Pengembangan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) pada 2016 menjadi 1.013 kelompok PWMP pada 2018. 

"Polbangtan sudah berhasil mencetak milyarder-milyarder tani millenial seperti kelompok PWMP Utami Super Broiler dari timur Indonesia yaitu Manokwari Papua yang berhasil mengembangkan usaha mereka hingga mencapai omzet Rp.1,5 Miliar dalam jangka waktu 1 tahun,” terangnya.

Pada pilar pelatihan juga, sambung Momon, terjadi peningkatan signifikan hingga 289% dari 25.108 tenaga pada 2014 menjadi  total 97.846 tenaga terlatih pada 2018.  Tenaga SDM Pertanian profesional yang tersertifikasi juga meningkat tajam sampai 274%  dari total 2.380 pada 2011-2014 menjadi 8.904 pada rentang waktu 2015-2018. 

“Perubahan signifikan ini dikarenakan BPPSDMP Kementan meningkatkan sertifikasi kompetensi dari hanya 3 sertifikasi kompentensi menjadi 21 sertifikasi kompetensi di tahun 2015-2018,” tuturnya.

Dari pilar Penyuluhan Momon mengklaim terdapat 75,8% kenaikan pada penambahan dan pengembangan kelompok tani  hingga berjumlah 586.680 Kelompok Tani pada tahun 2018 dibanding tahun 2014 yang hanya berjumlah 322.390 Kelompok Tani. Pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) juga terjadi peningkatan dari 37.632 Gapoktan di tahun 2014 menjadi 63.435  di tahun 2018 atau terjadi peningkatan hingga 68,6%. 

“Manfaat penyuluhan dan pengembangan SDM Pertanian dirasakan langsung oleh masyarakat. Terbukti, penurunan inflasi bahan makanan Indonesia dari 11.35 % di 2013 hingga 1% di 2017 adalah pertama kalinya dalam sejarah Indonesia dan juga di dunia. Keberhasilan ini adalah hasil dari kerja keras ikhlas SDM Pertanian yang Mandiri, Profesional dan Berdaya Saing,” katanya.

Momon berharap dapat terus mencetak SDM  Pertanian yang Mandiri, Profesional dan Berdaya Saing terutama di pengelolaan rawa yang berbasis Korporasi Petani  dalam program Selamatkan Rawa Sehjahterakan Petani (SERASI).  Program Serasi akan memilih enam provinsi yang memiliki optimalisasi lahan seluas 400.000 hektar. 

“Keenam Provinsi ini adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Lampung, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah,” pungkasnya.

bisnis


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau