Pasar Papringan Temanggung, Tuan Rumah Konferensi Internasional Revitalisasi Desa

Potensi Desa | DiLihat : 365 | Jumat, 16 November 2018 | 10:57
Pasar Papringan Temanggung, Tuan Rumah Konferensi Internasional Revitalisasi Desa

TEMANGGUNG - Pasar Papringan di Dusun Ngadiprono dan Ngadidono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, akan menjadi tuan rumah International Conference on Village Revitalization (ICVR) ke-3, 21-25 November 2018. ICVR yang diinisiasi oleh lembaga wirausaha sosial "Spedagi" Temanggung ini merupakan konferensi internasional dua tahunan tentang revitalisasi desa. Kegiatannya mencakup seminar, workshop, ekskursi, pameran dan inisiasi sejumlah proyek pra-konferensi (PPK).

"ICVR merupakan forum pertemuan para pegiat, praktisi, pemikir, institusi terkait dengan aktivitas revitalisasi desa," jelas Singgih Susilo Kartono, Founder Spedagi dalam konferensi pers di Temanggung, Senin (12/11/2018). Lokasi ini di pilih karena terdapat Pasar Papringan, sebuah proyek konservasi papringan (kebun bambu) dengan pendekatan kreatif. Venue konfrensi akan menggunakan area teduh dan indah kebun bambu.

"Saat tidak ada gelaran pasar, area ini berfungsi menjadi area publik. Para peserta full progam akan tinggal di homestay yang menyatu dengan rumah warga," katanya. Tahun ini ICVR dilaksanakan untuk ke-3 kalinya. Perhelatan pertama digelar di Desa Kandangan, Kabupaten Temanggung. Dua tahun selanjutnya ICVR digelar di Desa Ato, Yamaguchi, Jepang.

"Pasar Papringan ini awalnya merupakan Proyek Pra Konferensi ICVR k-2 dan kemudian menjadi lokomotif proyek-proyek revitalisasi desa pada area yang lebih luas," imbuh Singgih. Menurut Singgih, ICVR harus dilaksanakan di kawasan pedesaan dan melibatkan masyarakat setempat dengan tetap menerapkan prinsip-prinsip lokalitas, kreativitas, kesederhanaan, kebergunaan, dan keberlanjutan. 

"Semua kegiatan akan dipusatkan di papringan (kebun bambu), selain di homestay. Peserta akan merasakan pengalaman berkegiatan di bawah pohon bambu," ucap Singgih.

Tema kolaborasi yang keren
Ketua ICVR ke-3, Fransisca Calista, menjelaskan tahun ini ICVR mengusung tema khusus yaitu COOLABORATION, akronim dari kata “Cool” dan “Collaboration” yang artinya kolaborasi yang keren.  Kolaborasi menjadi prasyarat dasar untuk menjalankan program-program Revitalisasi Desa agar program-program tersebut mencapai keberhasilan, membuat desa sebagai komunitas yang mandiri, kreatif, alami dan lestari. "Kolaborasi adalah kunci. Harapan kami ada hasil yang keren dari kolaborasi dari berbagai pihak, dari pemangku kepentingan daerah, pusat, akademisi, wirausaha, pemuda dan lainnya," ungkap Sisca.

Dia menyebutkan ada 40 peserta yang akan hadir dalam konferensi ini, mereka tidak hanya dari lokal Temanggung, tapi dari kota lain dan luar negeri antara lain Jepang, Australia, Jerman, Belanda dan India. "Para peserta berasal dari beragam latar belakang, ada mahasiswa, arsitek, dosen, pemerintahan, pegiat desa, dan lainnya. Termasuk para pembicaranya dari pakar desa, komunitas, kementerian pariwisata RI, dan lainnya," sebutnya.

Proyek Pra-Konferensi
Ketua Komunitas Mata Air Ngadiprono, Imam Abdul Rofiq, menambahkan sebelum konferensi ada proyek-proyek pengembangan desa yang akan menjadi ajang pembelajaran para peserta. Setidaknya ada 3 proyek tersebut, yakni Tambujatra (Taman Bambu Jalan Trasah), homestay dan sendratari.

Tambujatra, jelas Imam, sebuah nama yang merepresentasikan kegiatan yang memadukan keindahan kebun bambu dan jalan trasah batu. Keindahan desain lansekap area kebun bambu Pasar Papringan telah menjadi magnet di luar gelaran pasar. "Tambujatra diharapkan dapat menjadi ruang publik baru melalui penggarapan desain lansekap yang baik secara kolaboratif," jelasnya.

Kemudian homestay, lanjut Imam, merupakan sarana penginapan untuk peserta konferensi dengan pemanfaatan rumah warga. Lebih dari itu, pengembangan homestay menjadi salah satu cara meningkatan kualitas hunian dan lingkungan masyarakat setempat.

"Kami tidak merubah rumah warga, hanya memanfaatkan ruang/kamar kosong yang tak terpakai. Renovasi pun menggunakan material lokal, seperti batu, kayu, bambu dan bahan alam lainnya," jelas Imam. Proyek terakhir adalah sendratari dari Dusun Ngadidono, dusun tetangga yang berbatasan langsung dengan Dusun Ngadiprono.

Dusun ini membuktikan adanya potensi kesenian yang baik. "Kami menggagas pertunjukan berbasis kesenian lokal berkualitas internasional, ada 100an penari yang terlibat dan diharapkan menjadi magnet untuk menarik pengunjung," ujar Imam. 

kompas


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau