Blockchain dan Aset Digital di Sektor Pertanian Indonesia Belum Optimal

Ekonomi | DiLihat : 170 | Rabu, 07 November 2018 | 10:27
Blockchain dan Aset Digital di Sektor Pertanian Indonesia Belum Optimal

BANDUNG, (PR).- Di sektor pangan dan pertanian Indonesia, aset data digital dan blockchain masih belum dioptimalkan. Padahal, keduanya punya potensi meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha pangan dan pertanian mulai dari petani, distributor, hingga konsumen di kota-kota besar.

Secara sederhana, blockchain adalah sistem data yang tersimpan dalam buku besar (open ledger) dan dapat diakses oleh semua orang tetapi tidak dapat diubah ataupun dimanipulasi.

Blockchain memiliki tingkat keamanan yang sangat tinggi. Bahkan saat ini, Asia telah menjadi pusat teknologi blockchain yang digunakan sebagai alat bantu sistem perekonomian hingga sistem sosial dan Indonesia menjadi salah satunya.

Sementara itu, aset data digital adalah segala informasi termasuk informasi yang bersifat pribadi yang bisa diolah dan digunakan untuk berbagai kepentingan terutama untuk dimonetisasi.

“Harus ada pemikiran terbuka dan positif terkait aset digital di masa depan. Pertukaran pengalaman dan pengetahuan di antara para pelaku usaha sangat diperlukan. Para pelaku usaha di sektor agrikultur yang berasal dari pemerintahan. instansi keuangan, dan organisasi nonprofit yang membutuhkan data digital harus bersama-sama membangun ekosistemnya”, ujar CEO Hara, Regi Wahyu di Hotel Prama Grand Preanger, Kota Bandung, Senin 5 November 2018.

Hara merupakan platform digital yang bergerak di bidang pertukaran data digital terdesentralisasi untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi kerugian, dan meningkatkan efesiensi pasar.

Di bidang pangan dan pertanian, sejumlah aset data digital yang dihimpun Hara di antaranya adalah harga pasar, transaksi, cuaca, luas lahan, lokasi lahan, identitas petani, serta tahapan-tahapan produksi seperti masa tanam, pemupukan, hingga panen.

“Data tersebut kemudian bisa digunakan untuk membawa dampak sosial yang besar bagi masyarakat,” ujar Regi Wahyu.

Hingga saat ini, sudah ada ribuan petani di Indonesia yang berbagi data pertanian dengan pelaku usaha agrikultur lainnya. Harapannya. dalam beberapa tahun ke depan, para petani di desa yang menjadi mata rantai pertama produksi pertanian dapat merasakan pemerataan kesejahteraan.***

pikiran rakyat 


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau