Kinerja Kementan di Mata Akademisi

Ekonomi | DiLihat : 122 | Senin, 05 November 2018 | 10:48
Kinerja Kementan di Mata Akademisi

Jakarta - Akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi menilai kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia. Menurutnya dalam empat tahun terakhir, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, menghasilkan berbagai prestasi reformasi birokrasi dan capaian makro pertanian.

Gandhi mencontohkan pasokan beras cukup aman karena telah surplus. Menurut catatan BPS dengan metode KSA, kata dia, pasokan beras surplus 2,8 juta ton. Data stok BULOG juga menunjukkan ada 2,4 juta ton beras.

"Fakta prestasi tersendiri, surplus 2,8 juta ton, merupakan hasil nyata penyediaan pasokan beras. Berbagai program perbaikan irigasi, bantuan alat alat, pupuk benih, asuransi pertanian dan lainnya memacu semangat petani dan memberikan citra positif bagi petani. Ini wujud nyata Pemerintah telah hadir ditengah tengah petani," tegas Gandhi dalam keterangan tertulis, Minggu (4/11/2018).Selanjutnya, Gandhi menyebutkan capaian kinerja ekspor yang didorong dengan berbagai kemudahan regulasi dan pelayanan jemput bola oleh Kementan telah membuahkan hasil.

Dia mengatakan, dari data BPS kinerja ekspor pertanian 2017 sebesar Rp 441 triliun atau naik 24% dibandingkan 2016 sebesar Rp 385 triliun. Pertanian menurunkan inflasi bahan makanan menjadi 1,26% pada 2017 atau turun sebesar 88,9% dibandingkan 2013 sebesar 11,35%.

"Saya menilai dampak kebijakan regulasi dengan mencabut 291 Permentan, mampu mendongkrak investasi tahun 2017 menjadi Rp 45,9 triliun naik 14% pertahun dibandingkan 2013 sebesar Rp 29,3 triliun. Ini dari data BKPM," tutur Gandhi.

Selain itu investasi yang tepat serta alokasi APBN yang fokus juga dikatakan Gandhi telah berdampak pada pertumbuhan PDB pertanian 2017. Ini, kata dia, sesuai sumber BPS sebesar Rl 1.344 triliun naik Rp 350 triliun dibandingkan 2013 sebesar Rp 995 triliun. Data BPS pun menunjukkan kemiskinan di pedesaan pada Maret 2018 sebesar 15,81 juta jiwa menurun 10,88C% dibandingkan Maret 2013 sebesar 17,74 juta jiwa.

Sementara itu Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo mengatakan sektor pertanian Indonesia kini sudah sangat maju sehingga mampu panen tiga kali dalam setahun. Karena itu ia mengingatkan pemerintah tidak menjadikan musim paceklik sebagai dasar untuk menetapkan kebijakan impor beras di masa mendatang.

"Kondisi sekarang sudah berubah. Dengan terobosan dan persiapan yang dilakukan Kementerian Pertanian, meski musim paceklik, di beberapa daerah petani masih bisa menanam. Panen yang biasanya cuma dua kali dalam setahun, kini bertambah menjadi tiga kali," katanya.

Menurut Edhy, paceklik bukan sesuatu yang tidak bisa prediksi. Pasalnya, pada periode lalu 2015, Indonesia pernah mengalami paceklik terpanjang sejarah pertanian, yaitu elnino. 

"Tapi, alhamdulillah panen para petani kita malah meningkat. Padahal elnino saat itu, ada kebakaran lahan, tapi produksi tetap ada kok," tegasnya.

Ia pun tak setuju jika Indonesia disebut bakal kekurangan stok beras saat musim paceklik. Sebab, kata dia, impor justru akan melemahkan semangat petani. 

"Impor yang dilakukan akan menggerus harga beras produksi petani," ucapnya

Kepala Bagian Pengadaan Biro Umum dan Pengadaan Kementan, Toto Sumanto menjelaskan berbagai program reformasi Kementan termasuk di dalamnya revolusi mentan menghasilkan prestasi. 

Pertama, penghargaan National Procurement Award 2018 kategori Instansi Terbaik dalam pembinaan jabatan fungsional pengelola pengadaan barang dan jasa, diberikan oleh LKPP. 

Kedua, predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK-RI, atas kinerja laporan keuangan selama dua tahun berturut turut 2016-2017. WTP merupakan opini tertinggi tidak pernah dicapai pada periode sebelumnya. (ega/zlf)

detik


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau