Merayu Lebah untuk Tingkatkan Produksi Pertanian Ala Profesor Unsoed

Inovasi Desa | DiLihat : 136 | Senin, 29 Oktober 2018 | 11:25
Merayu Lebah untuk Tingkatkan Produksi Pertanian Ala Profesor Unsoed

Purwokerto - Sejak masa lalu, petani Indonesia paham, di antara serangga jenis organisme pengganggu tanaman (OPT), ada pula serangga yang berguna dan justru menjadi sahabat petani. Mereka menjadi serangga penyerbuk yang membantu pembuahan.

Misalnya, lebah dan tawon yang selalu mencari nektar beragam bunga. Serangga ini lebih mudah ditemui saat sebuah bentangan tanaman pertanian berdekatan dengan ekosistem yang mendukung kehidupannya.

Pendekatan rekayasa ekosistem untuk pelestarian dan pemanfaatan serangga penyerbuk di dunia merupakan sesuatu yang baru. Pertama kali dikembangkan pada tahun 90-an.

Selanjutnya, teknologi ini dikenal dengan Agri-Enviromental Scheme atau AES. Dan AES banyak dikembangkan di negara-negara Eropa.Akan tetapi, kepemilikan lahan yang terbatas membuat AES sulit dikembangkan di Indonesia. Karenanya, dibutuhkan teknologi mudah, murah, dan efisien untuk memanfaatkan serangga penyerbuk demi peningkatan produksi pertanian.

Adalah DR Imam Widhiono, Dekan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman atau Unsoed Purwokerto yang mencoba menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Sejak 2009 lalu, Imam meneliti di lahan pertanian Desa Serang Kecamatan Karangreja, Purbalingga.

Hasil penelitian di berbagai habitat di sekitar gunung Slamet menunjukkan bahwa masih ditemukan antara 15 hingga 19 spesies serangga penyerbuk. Keragaman tertinggi ditemukan pada habitat hutan rakyat.

Jarak dari batasan hutan berpengaruh terhadap keragaman dan jumlah serangga penyerbuk pada lahan pertanian stroberi, tomat dan cabai, semakin jauh dari batasan hutan, keragaman dan jumlah serangga penyerbuk semakin menurun.

liputan6


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau