Ini Dia Polder Mini Sistem Pengelolaan Air Lahan Rawa di HPS

Inovasi Desa | DiLihat : 282 | Jumat, 26 Oktober 2018 | 10:07
Ini Dia Polder Mini Sistem Pengelolaan Air Lahan Rawa di HPS

                Sistem polder mengadopsi praktik pengelolaan air tradisional di masyarakat Ogan Ilir
BANJARBARU -- Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan sistem polder mini sebagai model pengelolaan air di lahan rawa yang diterapkan di lokasi Hari Pangan Sedunia (HPS) 2018 di Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Sistem ini dikembangkan dengan mengadopsi praktik pengelolaan air tradisional di masyarakat Ogan Ilir, Sumatera Selatan .

Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), Kementan, Hendri Sosiawan mengungkapkan, salah satu cara praktis untuk menyiasati keadaan tata air di lahan rawa yaitu dengan membuat saluran yang disebut handil. Saat ini, ratusan bahkan ribuan handil sudah umum digunakan oleh masyarakat, terutama di sepanjang sungai-sungai besar seperti Barito, Mahakam, Kapuas, Kahayan, dan lainnya.

"Handil adalah saluran yang dibuat menjorok masuk dari badan sungai sejauh 1-2 km dengan lebar antar 1-2 m dan kedalaman 0,5-1,0 m sehingga pada saat pasang, air bisa masuk melalui handil dan saat surut, air bisa keluar. Model ini juga sekaligus membuang hasil cucian (leached) ke sungai," kata Hendri di kantornya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rabu (24/10).

Hendri menjelaskan, masyarakat mengembangkan sistem pengairan yang disebut tabat. Tabat merupakan hasil pengalaman selama bertahun-tahun, dengan menyusun kayu gelam atau tanah hingga berupa dam atau tameng untuk menahan air, sehingga bisa tertampung atau tersimpan di saluran sehingga tidak hilang menjadi air limpasan (run off). Tabat atau yang juga dikenal sebagai dam limpas (dam overflow) dapat disesuaikan tingginya, sesuai dengan keinginan tinggi muka air yang diharapkan. Dari tabat inilah munculnya istilah pintu air, flapgates, stoplog atau sekat.

Hendri menambahkan, sistem polder sejatinya adalah antara sistem handil, tabat, dan tanggul keliling yang kemudian dikenal dengan sistem polder. Sistem ini diperkenalkan oleh seorang ahli pengairan berkebangsaan Belanda bernama Schophyus, bersama dengan H. Idak yang merupakan seorang Manteri Tani di Kalimantan pada masa pemerintah Belanda. Implementasi sistem polder ini pernah dilakukan di rawa lebak Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan yang dikenal dengan Polder Alabio dengan luasan 6.000 hektar, tetapi belum berhasil dengan baik.

"Sistem ini merupakan bangunan air berupa tanggul keliling yang dilengkapi dengan saluran utama masuk, keluar, dan saluran pembagi serta dilengkapi dengan pompa besar untuk memasukan air pada saat kekeringan dan mengeluarkan pada saat kelebihan," terang Hendri.

Peneliti Balittra Herman Subagio menyatakan, sistem polder ini dikembangkan dan disempurnakan sehingga bisa diterapkan dengan baik. Jika yang dikembangkan pada Polder Alabio mencapai luas 6 ribu hektar, maka pada sistem polder mini ini hanya mencapai luas antara 100-300 hektar.

Dalam sistem polder mini ini ada tiga jurus pengelolaan air yang diaplikasikan yaitu: (1) adanya tanggul keliling yang kokoh; (2) adanya jaringan tata air berupa adanya saluran masuk, saluran keluar, dan saluran pembagi, dan (3) tersedianya pompa besar baik pada pintu masuk maupun pintu keluar untuk sekaligus mengatur tinggi muka air dengan memompa air masuk apabila kekurangan air dan memompa air keluar dari dalam apabila kelebihan air.

"Penyempurnaan sistem polder dan mengoptimalkan pertanian di lahan rawa telah dikembangkan sistem polder mini yang pada prinsipnya menerapkan apa yang disebut handil, tabat atau tanggul dan aliran satu arah," jelas Herman.

Tiga jurus pengelolaan air diimplimentasikan pada sistem polder mini Jejangkit Muara yang unit pengembangannya seluas 240 hektare dengan dibangunnya tanggul keliling, saluran sekunder dan tersier masuk dan keluar, dan tersedianya pompa, yaitu pompa masuk dan pompa keluar.

Dengan dibangunnya polder mini ini, maka dapat ditingkatkan indeks pertanaman dari IP 100 menjadi IP 180 dan/atau IP 200, ditingkatkan hasil panen karena meningkatnya efisiensi pencucian zat-zat beracun (leaching) dan meningkatkan pH tanah dan ketersediaan hara tanaman, sehingga hasil padi juga meningkat. "Melalui sistem polder mini, hasil pertanaman padi varietas Inpara dua, tiga, delapan dan sembilan menunjukkan pertumbuhan yang optimal, tampak menguning dengan bulir-bulirnya yang panjang dan berisi, ungkapnya," tutur Herman.

republika


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau