Mengintip Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Kalimantan Utara

Potensi Desa | DiLihat : 145 | Jumat, 12 Oktober 2018 | 13:09
Mengintip Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Kalimantan Utara

Siang itu, matahari kota Tarakan begitu menyengat kulit setiap pengunjung yang hadir di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB), Kalimantan Utara. mata Bruno beserta kelompoknya tak henti mengindik setiap pengunjung yang datang ke dalam taman seluas 20 hektare tersebut.

Sebagai hewan Bekantan yang dikenal pemalu, Bruno tak lantas menunjukkan batang hidungnya secara terang-terangan kepada pengunjung. Ia hanya mampu mengintip dari semak hutan Mangrove.

Sudah beberapa bulan terakhir Bruno dikenal sebagai Bekantan jantan pemegang hak kekuasaan di KKMB setelah berhasil menaklukan Michael seekor Bekantan jantan yang jauh lebih tua darinya.

"Jadi mereka ini bertarung dan siapa yang menang akan menjadi pemimpin di sini," kata Pengelola KKMB Syamsul Aris.

Dia menyampaikan, Bekantan merupakan hewan pemalu yang biasa hidup berkelompok. Kelompok yang dipimpin Bekantan pemenang akan lebih berkuasa.

"Jadi mereka akan lebih banyak pengikutnya. Pengikutnya banyak juga yang betina," terangnya.

Di taman KKMB kini hidup 35 Bekantan yang semula hanya sejumlah 6 ekor. Sebagian dari mereka merupakan pemberian dari masyarakat.

Meski dikenal sebagai jagoan di wilayah kekuasaannya. Bruno tak lantas gampang ditemukan. Dirinya tetaplah pemalu sama seperti hewan berhidung mancung lainnya ini.

"Bekantan ini sangat pemalu, kalau ada pengunjung mereka enggan turun meski kita siapkan makanan pisang. Kalau makanan pokoknya pucuk mangrove," ujar Syamsul.

Meski begitu, Syamsul tahu betul bagaimana menyiasati Bruno dan kawan-kawan bisa turun dari persembunyiannya dan dapat dilihat secara dekat oleh pengunjung.

Tak hanya itu, Syamsul juga sudah fasih setiap gelagat yang dilakukan Bekantan di KKMB. Ia menceritakan, persaingan kelompok Bruno dan Michael memaksa mereka yang kalah harus terasingkan.

"Kami biasanya menyingkirkan dahulu pengunjung dari lokasi kami memberi makan. Setelah mereka turun, barulah kita izinkan masuk agar bisa melihat lebih dekat."

"Uniknya, kelompok Michael ini enggak akan makan sebelum Bruno dan lainnya selesai. Ini karena mereka kalah dalam pertarungan," terangnya.

Syamsul menambahkan, Bekantan merupakan hewan yang memiliki jumlah reproduksi sedikit. Sehingga, keberadaan mereka perlu terus dijaga.

Dengan adanya KKMB, Ia berharap jumlah Bekantan bisa terus bertambah. Dirinya tak ingin pengabdiannya berpuluh-puluh tahun terhenti karena punahnya monyet hidung besar tersebut.

KKMB kata dia, menjadi salah satu tempat konservasi yang bisa dikunjungi masyarakat untuk bisa melihat hewan khas Kalimantan itu.

"Saya sudah dari kecil di sini (KKMB). Jadi, sudah tahu betul soal mereka. Kalau libur di sini ramai makanya suka pada malu enggak turun," tuntas [gil]

merdeka


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau