Kopi produksi lokal jadi buruan delegasi IMF-WB di Bali

Ekonomi | DiLihat : 79 | Jumat, 12 Oktober 2018 | 12:59
Kopi produksi lokal jadi buruan delegasi IMF-WB di Bali

JAKARTA. Produk kopi lokal sejauh ini terlihat sangat digemari oleh delegasi luar negeri dalam Annual Meeting IMF-World Bank 2018, di Nusa Dua Bali. Namun menurut Pranoto Soenarto, Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) antusias delegasi tidak berdampak signifikan pada harga kopi lokal.

“Enggak akan menggerek harga kopi lah. Yang menentukan harga kopi ini adalah dunia internasional. Kalau ketertarikan itu hanya unsur kecil dalam negeri saja, seperti petani menjual ke pusat pengolahan kopi,” kata Pranoto kepada Kontan.co.id, Kamis (11/10).Dilansir Bloomberg 11 Oktober 2018, harga Kopi Arabica untuk pengiriman November 2018 di ICE Futures adalah US$ 111,9 /lb (pound). Di tanggal yang sama bulan lalu, harga kopi Arabica adalah US$ 0.975, atau naik 14,7 %.

Menurut Pranoto kebijakan pemerintah dengan memamerkan kopi lokal di dalam pertemuan internasional adalah sebuah hal yang baik, hanya saja ini juga tidak akan meningkatkan ekspor kopi. “RI I ini bagus, mengangkat kopi lokal ke dunia internasional. Tapi enggak banyak orang yang care dengan itu (kopi), enggak akan dibawa (ke internasional), mereka (delegasi) hanya mau jadi pahlawan sejenak saja,” ujarnya.

Perkembangan ekspor kopi sejauh ini juga dinilai tidak pernah mengecewakan dan jumlah produksi yang ada tidak tersisa setiap tahunnya. Data BPS menunjukkan pada tahun 2014, ekspor kopi mencapai 384,2 juta ton, pada tahun 2015 naik menjadi 502,2 juta ton dan tahun 2016 turun 414,6 juta ton.“Enggak ada berhentinya, kalau misalkan tahun ini ada 10 ton ya habis 10 ton, kalau ada 9 ton juga habis terekspor, berapapun akan terekspor bergantung pada panen kita. Susah diomong, karena berapapun kopi Indonesia akan terekspor,” tegasnya.

Menurut Pranoto dalam mendongkrak produksi kopi lokal dan ekspornya yang perlu dilakukan Indonesia adalah promosi. Ajang Annual Meeting IMF-World Bank 2018, di Nusa Dua Bali memang sebuah momentum besar untuk kembali mengenalkan masyarakat luar negeri dengan kopi lokal, namun hal ini harus rutin dan tidak boleh dilakukan hanya sesekali saja.

“Pemerintah berharap dengan promosi itu mengharapkan ada promosi dan bentuk kontrak kerja sama. Walaupun tidak ada kontrak kerja sama, kita itu harus menyatakan kita itu sustain dan eksis,” ungkapnya.

Ia lalu membandingkan promosi kopi dengan promosi minuman soda ringan yang ada di Indonesia. Sejauh ini produk laku keras dan dikenal, namun demikian pormosi atau iklan sejauh ini dinilai tidak putus. “Justru promosi kopi jangan berhenti, ini untuk emerging marketnya. Jadi harpannya di retailnya, kita tidak boleh berhenti dan harus terus,” tegasnya.

kontan


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau