Kemarau Panjang Dikhawatirkan Turunkan Produksi Pangan

Ekonomi | DiLihat : 172 | Kamis, 11 Oktober 2018 | 10:30
Kemarau Panjang Dikhawatirkan Turunkan Produksi Pangan

Jakarta- Musim kemarau panjang yang tengah melanda Indonesia pada tahun ini dikhawatirkan memicu risiko gagal panen pada komoditas pertanian. Ini karena kemarau panjang telah membuat paceklik di banyak tempat di Pulau Jawa.

"Padahal, salah satu pulau utama di Indonesia menyumbang sekitar 60 persen dari total luas lahan pertanian di Indonesia," kata Peneliti INDEF Ahmad Heri Firdaus seperti mengutip Antara, Rabu (10/10/2018).Dia mengatakan, kekeringan itu akan menyebabkan produksi turun. Misalkan dari satu ton menjadi setengahnya.

Berdasarkan data InaRisk dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), risiko kekeringan di Indonesia mencapai 11,77 juta hektare tiap tahunnya. Di mana kekeringan tersebut berpotensi menimpa 28 provinsi yang ada di Nusantara.

Sementara itu, Akademisi dari Fakultas Pertanian UGM Andi Syahid Muttaqin mengatakan, kondisi musim kemarau di Indonesia pada tahun ini memang sangat unik. Bagian utara Khatulistiwa memang tidak mengalami musim kemarau berkepanjangan. Bahkan saat ini sudah memasuki musim hujan.

Namun, daerah selatan Indonesia yang dekat dengan Australia justru mengalami musim kemarau dengan tingkat yang parah dan lama. Hal ini tak terlepas dari fenomena alam berupa Munson India.

"Munson India itu pengaruhnya ke musim kemarau Indonesia. Saya pantau, indeks Munson India itu tahun ini lebih kuat dari normalnya. Normalnya 10 mps, tahun ini mencapai 15 mps, bahkan ada yang sampai 17 mps," tutur pakar agroklimatologi ini.

Parah dan panjangnya musim kemarau di 2018 pada akhirnya berimbas ke produksi tanaman pangan, khususnya padi. Ini karena kemarau berimbas mulai dari mengeringnya sumber air yang tampak hingga berkurang drastisnya kandungan air dalam tanah.

Ia memperkirakan musim kemarau panjang karena Munson India ini bisa berakhir di 10 harian pertama bulan November. Sayangnya, di saat bersamaan, pada waktu yang sama sudah muncul siklus El Nino yang mengurangi intensitas curah hujan, dibandingkan musim-musim hujan yang lalu.

"Hujannya akan lebih tipis. Ada El Nino yang kira-kira terjadi November sampai Maret 2019 nanti," ungkap dia.

Untuk itulah, dia meminta pemerintah bisa mengantisipasi kondisi ini. Dengan rentetan musim kemarau yang dilanjutkan El Nino, pertanian pangan bisa makin terdampak. Soalnya November hingga Maret biasanya merupakan masa tanam hingga panen raya pertama untuk padi.

liputan6


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau