Saatnya memanen air hujan

Inovasi Desa | DiLihat : 468 | Senin, 08 Oktober 2018 | 12:35
Saatnya memanen air hujan

ekeringan selalu melanda Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta setiap musim kemarau tiba. Jika musim itu tiba, warga setempat berbondong-bondong mencari sumber-sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Kondisi itu membuat Agus Maryono tergugah membuat riset. Mungkinkah masalah kekeringan seperti itu diselesaikan dengan memanfaatkan air hujan? Begitu pertanyaan Agus saat melakukan riset.

Dengan menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Daerah setempat, pakar hidrologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini melakukan riset pada 1990.

Dalam risetnya Agus ingin mengukur intensitas hujan yang turun di sana, berapa lama waktunya, jumlah tempat tinggal, dan luasan atap rumah di sejumlah kecamatan.

Dari riset awal itu, Agus berkeyakinan air hujan bisa dimanfaatkan untuk cadangan selama musim kering tiba. Keyakinannya semakin bertambah saat dia mengambil master di Austria (1991-1992) dan dilanjutkan studi doktornya di Jerman (1995-1999).

Saat di Jerman itu, ia mendapat mata kuliah tentang memanen air hujan (rainwater harvesting). Teknik itu sudah diterapkan di negara-negara semi-arid (agak gersang), seperti Brazil, Afrika. Memanen air hujan menjadi istilah kegiatan menampung air hujan yang disimpan dan dimanfaatkan ketika kemarau tiba.

“Itu menambah keyakinan saya kalau bisa diterapkan di Indonesia,” kata Agus saat ditemui Beritagar.id di kampusnya, Laboratorium dan Bengkel Kerja Hidraulika dan Lingkungan Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM Yogyakarta, Kamis (6/9/2018).

Pada 2005, Agus mulai mengkonsep teknik memanen air hujan ini. Konsep itu lalu dia ‘pasarkan’ ke sejumlah daerah. Salah satunya ke Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman, Energi dan Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY. “Karena belum terdevelop kesannya waktu itu memang biasa saja,” katanya.

Agus tak patah arang. Sampai akhirnya pada 2010, ia berkesempatan ke Australia untuk melihat bagaimana orang benua Kanguru itu memanen air hujan. Di sini, Agus melihat bagaimana orang-orang modern memanen air untuk dijadikan kebutuhan hariannya. “Bukan untuk air minum karena standar orang Australia untuk air minum tinggi,” ujarnya.

Di Australia itu ia banyak belajar tentang bagaimana membuat tangki permanen untuk tadah air hujan. Seperti teknik flushing atau cara membersihkan bagian bawah tangki.

Sepulang dari Australia, ia mulai membuat tangki permanen air hujan. Komponennya meliputi toren, saringan daun, saringan debu kasar dan halus, pipa pelimpah, dan sumur resapan.

Toren untuk menampung air hasil panen yang akan dicadangkan dari talang atap rumah. Saringan atau penghalau daun untuk menyaring kotoran berukuran besar, seperti dedaunan yang ikut hanyut bersama air hujan dari talang menuju pipa. Air yang lolos disaring dari saringan daun, kemudian melalui dua saringan lagi, yaitu saringan atau penjebak debu kasar dan debu halus.

Saringan debu kasar dan halus untuk menyaring debu, pasir, lumut, dan kotoran halus lainnya yang biasanya menyebabkan air keruh. Untuk penyaring debu halus bisa menggunakan saringan kotoran yang biasa dipasang di akuarium.

Pipa pelimpah untuk mengalirkan limpahan air dari toren yang penuh ke sumur resapan. Sumur resapan untuk menampung limpahan air dari toren yang tidak tertampung karena penuh. Antar komponen tersebut dihubungkan dengan pipa paralon. Sepaket alat berbiaya Rp2 juta sampai Rp3 juta, termasuk upah tukang yang merangkainya.

Bentuk bak penampung air hujan pun bisa disesuaikan dengan luasan lahan kosong yang tersedia di pekarangan untuk meletakkannya. Terutama untuk permukiman padat maupun rumah minimalis berhalaman sempit.

Siang itu, Agus mengajak Beritagar.id melihat alat pemanen air hujan yang dipasang di depan kantornya. Toren warna biru berukuran dua meter kubik itu terhubung dengan sejumlah pipa paralon yang mengarah ke ujung talang air dan mengarah ke sumur resapan. Ada pula pipa tambahan yang berujung keran air. Air jernih mengalir dingin dan jernih di tangan Agus saat membuka kerannya.

Kamis awal September itu, Agus mengajak saya melihat alat pemanen air hujan yang dipasang di depan kantornya. Toren warna biru berukuran dua meter kubik itu terhubung dengan sejumlah pipa paralon yang mengarah ke ujung talang air dan mengarah ke sumur resapan.

Ada pula pipa tambahan yang berujung keran air. Air jernih mengalir dingin dan jernih di tangan Agus saat membuka kerannya. “Ini hasil tampungan hujan beberapa hari lalu,” kata Agus sambil membaui air bening itu.

Agus memberikan hitung-hitungan penggunaan air itu. Kata dia, jika satu keluarga terdiri dari lima orang dan memasang toren dua meter kubik, maka air itu bisa digunakan untuk empat hari. Air itu bisa digunakan untuk memasak, minum, mandi, dan mencuci.

Kalau mau hemat, kata Agus, sebaiknya air toren hujan tadi digunakan untuk memasak dan minum. “Kalau mandi pakai air sungai saja,” katanya.

Di kampus UGM, hampir seluruh bangunan sudah dipasangan alat pemanen air hujan yang diberi nama Gama Rain Filter ini.

Menurut Agus, selain di kompleks kampus UGM, alat ini juga sudah digunakan di sebagian Kabupaten Sleman, Bantul, Gunung Kidul. Di luar Yogyakarta alat ini juga digunakan di beberapa wilayah Jakarta, Klaten, Ternate, Padang, dan rencana di Pontianak.

Selama ini, kata Agus, masyarakat takut menggunakan air hujan. Dari riset yang dilakukan, kata dia, masyarakat menganggap air hujan itu bersifat asam. Sifat asam, sebagaimana diajarkan di sekolah membawa dampak korosif pada logam. “Itu mitos,” ujar peraih penghargaan Pelopor Restorasi Sungai 2015 dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu.

Mitos itu berawal dari hujan asam yang pernah terjadi di Eropa yang menyebabkan derajat keasaman (PH) air hujan 2,5-3. Akibatnya, pepohonan banyak yang mati.

“Indonesia kan enggak pernah mengalami itu. PH air hujan di sini berkisar 7,2-7,4. Itu aman,” kata Agus.

Untuk membuktikan air hujan itu aman, Agus pernah mencoba langsung meminum air hujan itu saat ia berada di Ambon dan Banjarmasin. “Saya ambil air hujannya, saya minum. Segar sekali,” kata peraih predikat tokoh inspiratif atau Reksa Utama Anindha 2016 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini.

Benarkah air hujan itu aman? Dosen Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Dina Asrifah mengingatkan bahwa kualitas air hujan dipengaruhi kualitas udara. Kualitas udara dipengaruhi tinggi rendahnya kadar polutan dan virus dalam udara. Artinya, kualitas udara yang berada di kawasan industri dan transportasi yang padat lebih banyak mengandung polutan.

"Karena banyak gas polutan hasil pembakaran fosil. Seperti SOX, NOX, COX. Jadi cenderung asam," kata Dina kepada Beritagar.id Senin (24/9/2018).

Selain itu, virus-virus di udara yang mengalami hibernasi selama musim kemarau akan menyebar ketika musim penghujan tiba. "Ini mempengaruhi kadar mikrobiotik air hujan," katanya. 

Karenanya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah tidak menggunakan air hujan pertama yang turun karena banyak mengandung polutan dan virus. "Gunakan air hujan minimal 2-3 jam setelah hujan pertama turun," kata Dina.

Agus sepakat. Jika kekhawatiran itu terjadi, sebaiknya air hujan yang ditampung itu adalah air hujan yang turun ketiga kalinya.

beritagar.id


PROFIL DESA

Temukan juga kami di

Jajak Pendapat

Apakah kebiijakan pemerintah saat ini sudah mendukung kesejahteraan petani ?
  Sudah Mendukung
  Belum
  Tidak Tau